10 Tahun CUG FPPK Setia Mewujudkan Kemandirian Ekonomi

248 Views

Pontianak—CU Gerakan Filosofi Petani Pancur Kasih atau biasa disebut CU FPPK mengawali kiprahnya sejak sepuluh tahun lalu. 

Pendirian dan keberadaan CU Gerakan ini didasari semangat untuk mengembalikan misi awal Gerakan CU menurut kitahnya yakni membawa perubahan pada masyarakat, khususnya kesejahteraan anggotanya, baik moral-sosial, maupun fisik secara mandiri, bersolidaritas dan berkesinambungan. 

Hal tersebut dikatakan oleh John Bamba, Mantir Pancur Kasih yang juga Ketua Gerakan Credit Union Gerakan Konsepsi Filosofi Petani Kalimantan (GCU-FPK) pada perayaan satu dasawarsa CU FPPK baru-baru ini. 

“Selamat berkarya untuk CU FPPK yang merayakan sepuluh tahun hari jadinya hari ini. Pendirian CU ini didasari oleh semangat untuk mengembalikan misi awal Gerakan CU sesuai kitahnya yaitu membawa perubahan pada masyarakat, terutama kesejahteraan anggotanya, baik moral-sosial, maupun fisik secara mandiri, bersolidaritas dan berkesinambungan,” ujar John Bamba, pada Jumat (30/4/2021) di Kantor Pangkalatn Nagari, Jalan Selat Sumba, Siantan, Pontianak. 

CU FPPK didirikan dan mengawali kiprahnya, setidaknya oleh 30 orang aktivis Pancur Kasih, di antaranya adalah A.R Mecer, Maran Marselinus Aseng dan John Bamba. CU yang memiliki karakteristik utama yakni menerapkan konsepsi filosofi petani Kalimantan ini senantiasa memegang komitmen dan tekadnya agar mampu mewujudkan manusia seutuhnya yaitu mandiri secara ekonomi, bermartabat secara sosial budaya, berdaulat secara politik atas hak dan semua aspek kehidupannya serta berkesinambungan. 

Konsepsi Filosofi Petani: 4 Jalan Keselamatan  

Untuk mewujudkan manusia sesuai keutuhan Ciptaan-Nya, maka CU FPPK menerapkan pemberdayaan holistik sebagai identitas dari pendekatannya. CU ini adalah salah satu anggota Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK). 

Bapak CU Kalimantan sekaligus penemu dan pencetus konsepsi filosofi petani yakni AR. Mecer, di kala pendirian CU Gerakan ini pernah mengungkapkan bahwa CU ini harus dikembangkan dan konsisten menerapkan konsepsi filosofi petani yakni mampu memenuhi dan menjamin terpenuhinya 4 kebutuhan utama untuk keberlanjutan dan keselamatan hidup anggotanya, yakni memenuhi kebutuhan dasar berupa makan-minum (basic needs), kebutuhan keberlanjutan (sustainable needs), kebutuhan sosial-solidaritas (social needs) dan kebutuhan spiritual (spiritual needs). Empat kebutuhan dasar manusia ini dikenal sebagai empat jalan keselamatan yang proses pemenuhannya harus saling terintegrasi satu sama lain. 

Di lain kesempatan, John Bamba, inisiator pengintegrasian konsepsi filosofi petani dengan gerakan pemberdayaan holistik, menegaskan bahwa yang dimaksud menerapkan konsepsi filosofi petani bukanlah sekedar produk tetapi menjadikan konsepsi filosofi petani sebagai salah satu landasan utama pengembangan CU, CU menjadikan perubahan kualitas hidup dan manusia (Red: anggota) sebagai misi utamanya. Itulah poin terpentingnya, karena CU bukan bicara soal uang, tapi manusia dan masyarakat. Untuk mewujudkan manusia berkualitas lahir-batin tersebut dibutuhkan sinergitas yang terintegrasi melalui pemberdayaan holistik. Itulah mengapa CU ini bukan sekedar menerapkan konsepsi filosofi petani, tetapi dalam semangat dan praktiknya menjadi satu-kesatuan dalam gerakan pemberdayaan holistik. 

“CU Gerakan artinya konsisten mewujudkan sebuah  kehidupan masyarakat yang  mandiri dan sejahtera lahir-batin, mandiri sehingga memiliki  harkat dan martabat, berdaulat dan berkesinambungan melalui pemberdayaan holistik,” ujar John. 

CU Gerakan sejak awal bertekad untuk menerapkan konsepsi filosofi petani secara utuh. Hal tersebut juga dipaparkan John Bamba dalam buku CU Gerakan (Pro Credit Union Movement), yang diterbitkan Institut Dayakologi dan GCU-FPK (2015). John Bamba mengatakan, boleh dibilang, inilah CU pertama di dunia yang menerapkan filosofi petani secara utuh, didirikan langsung oleh penggagas filosofi petani sendiri yakni A.R. Mecer bersama kawan-kawannya di Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih yang sebagian merupakan para fasilitator CU berpengalaman dalam memfasilitasi CU-CU di seluruh Indonesia. Dengan kata lain, CU FPPK ini sekaligus sebagai tempat praktik dan ujian secara operasional dan konseptual bagi para aktivis GPPK dalam mengembangkan sebuah CU yang ideal. Di sinilah kelak, diharapkan orang akan menemukan CU Filosofi Petani yang sesungguhnya karena didirikan dan dikelola langsung oleh para penggagasnya. 

John Bamba menambahkan, meskipun banyak tantangan, CU FPPK bersama para aktivisnya harus tetap semangat dan profesional mengelola CU Gerakan ini karena menjadi tumpuan dan model bagi CU Gerakan lainnya. 

“Mengelola CU Gerakan memang tidak mudah karena secara konsep mungkin sudah cukup memadai, namun dalam implementasi masih banyak kelemahan di sana-sini. Meskipun banyak tantangan, CU FPPK dengan seluruh aktivisnya harus tetap semangat dan profesional mengelola dan mengembangkan CU Gerakan ini,”ujar Mantir Pancur Kasih. 

Pembelajaran 

Perjalanan sepuluh tahun CU FPPK telah menorehkan pembelajaran yang berharga seperti diungkap Yuvensius, Manajer CU FPPK. Dia mengalami secara langsung dan aktif dalam CU Gerakan ini sejak awal. Pengalaman ini paling berharga, patut disyukuri karena tidak akan didapat di pendidikan formal maupun di bangku kuliah sehingga motivasi dan dedikasi yang tinggi sangat diperlukan. “Motivasi dan dedikasi yang tinggi sangat diperlukan agar lembaga tempat kita berkarya tetap tumbuh dan menghasilkan buah yang bisa kita nikmati bersama,” ujar Yuvensius. 

Ia mengharapkan agar CU Gerakan ini ke depannya dapat mengaktualisasikan berbagai perubahan yang terjadi dengan selalu beradaptasi dan melakukan inovasi baru secara kritis. “Semoga CU Gerakan ini semakin kuat, sehat dan berkembang, termasuk usaha produktif anggota yang selama ini dicanangkan menjadi sumber pendapatan alternatif sesuai konsep kemandirian anggota. Selanjutnya, jaringan dan mitra juga diharapkan terus mendukung dan bersinergi agar CU FPPK ini semakin besar kontribusinya dalam membawa perubahan bagi anggota pada khususnya dan masyarakat umumnya,” harap Yuvensius optimis.

Sejalan dengan itu, Ketua Pengurus CU FPPK yakni Antimus mengatakan bahwa CU harus beradaptasi dengan perubahan, dunia baru dan perkembangan informasi dan teknololgi. Seirama dengan itu, CU Gerakan ini perlu terus memperkuat aspek ideologi gerakannya kepada para pengurus, aktivis dan anggotanya. 

“Hingga di kiprahnya yang ke-10 tahun ini, CU FPPK masih perlu untuk terus-menerus berbenah. Di tengah tantangan perkembangan zaman kini dan di masa mendatang, memperkuat pemahaman ideologi dan konsepsi filosofi petani kepada para pengelola, aktivis dan tentu saja para anggotanya adalah kebutuhan yang harus dilakukan terus-menerus. Tak bisa dihindari pula bahwa CU FPPK mesti beradaptasi dengan dunia baru yakni perkembangan informasi dan teknologi,” harap Antimus. 

Semoga CU FPPK semakin menunjukkan posisi dan kekuatannya sebagai CU Gerakan dan selalu dapat menghadirkan warna perubahan dengan pemberdayaan holistik dalam mewujudkan kemandirian ekonomi anggota dan masyarakat. 

Penulis: Krissusandi Gunui’

Foto: Ella.

Editor: Giring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *