Enggang Gading: Sang Maskot Identitas Borneo, menuju Kepunahan

1.227 Views

Canopy Center Pontianak menjadi tempat berkumpul bagi sejumlah pemerhati dan pecinta alam, konservasi, budaya dan lingkungan dari kelompok CSO (Civil Society Organization), mahasiswa, jurnalis hingga perwakilan pemerintah, pada Rabu malam 26 Februari 2020 kemarin. Cafe sekaligus hostel yang berada di jalan Purnama 2 Pontianak ini dijadikan tempat nobar film Enggang Gading, film dokumenter karya Rangkong Indonesia, sebuah lembaga yang konsen pada kerja konservasi dan pendidikan enggang di Indonesia. 

Peserta Nobar & Diskusi Mencari Enggang Gading

Satu Tahap Menuju Kepunahan

Film berdurasi kurang lebih 12 menit tersebut menampilkan ekspedisi tim Rangkong Indonesia yang menjumpai tempat bersarangnya Rangkong Gading di salah satu hutan tropis Kalimantan Barat. Di akhir tahun 2015, IUCN telah menaikkan status Rangkong Gading dari Near Threatened menjadi Critically Endangered, satu tahap lagi menuju kepunahan. Sementara itu, Konvensi Perdagangan Jenis Terancam Punah (CITES), telah mencatat burung ini dalam daftar Appendix I, atau terancam dari segala bentuk perdagangan, papar Yokyok “Yoki” Hadiprakarsa, Pendiri/Peneliti Pertama Rangkong Indonesia. Rangkong Gading menghuni hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon besar dan tinggi pada hutan dataran rendah dan hutan bawah pegunungan sampai pada ketinggian 1500 mdpl. “Ia bisa dijumpai di Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Thailand, dan populasi kecil di Myanmar. Indonesia memiliki habitat Rangkong Gading terluas”, tambahnya.

Usai pemutaran film dan pemaparan singkat seputar proses pembuatan film oleh Yoki, acara dilanjutkan dengan Diskusi yang dimoderatori oleh Deni Sofian, Canopy Center Pontianak, dihadirkan pula Budi Suriansyah, Penggagas Maskot Kalimantan Barat dan Krissusandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi.

Dalam persentasi singkatnya, Budi Suriansyah menyampaikan alasan memilih Rangkong Gading sebagai iconik daerah kalimantan barat adalah atas Tinjauan 4E, yakni Etnografi, Eksotik, Endangered dan Eksistensi. “Sebagai Maskot Kalimantan Barat, Enggang Gading juga melambangkan Kehidupan, Kesetiaan, Perdamaian dan Kepemimpinan”, pungkas pria yang sampai saat ini masih aktif dalam pelbagai aktivitas konservasi di Kalimantan Barat tersebut.

(dari kiri) Budi Suriansyah, Yokyok “Yoki” Hadiprakarsa dan Krissusandi Gunui’ sebagai panelis dalam diskusi Mencari Enggang Gading di Canopy Center Pontianak, 26 Feb 2020.

Pergeseran Budaya

“Rangkong, Enggang atau Kenyalang, adalah makluk yang sakral karena memiliki nilai sprituliatas adat sangat tinggi bagi beberapa Subsuku Dayak di Kalimantan Barat dan Borneo umumnya, Kelompok Dayak Ibanic Grup misalnya, sebagian besar berpandangan dan meyakini bahwa kenyalang adalah makluk jelmaan dari manusia yang dianggap sebagai perantara atau penghubung antara manusia, alam dan Sang Pencipta, sehingga posisi Enggang bagi Dayak Iban sangat dihormati karena posisinya yang sakral dan penting. Oleh karena itu, bagi sebagian besar Masyarakat Adat Dayak tidak mungkin membunuh atau memburu enggang atau rangkong/kenyalang secara sembarangan. Namun kini, enggang baik balung (kepala dan baluh hingga bulunya) kebanyakan dijadikan sebagai media kreasi yang seolah-olah mewakili identitas Dayak. Kami menganggap pagelaran seni dan budaya kekinian yang menggunakan kepala dan bulu enggang asli adalah pergeseran budaya Dayak itu sendiri, di mana cara pandang spritualitas dan nilai-nilai budaya terhadap alam sudah berubah atau bergeser sangat serius,” papar Krissusandi Gunui’, Direktur Institut Dayakologi. “Adapun yang dapat menggunakan tengkorak kepala enggang dalam historis masyarakat Dayak, ialah seseorang yang punya kemampuan khusus dan memiliki jasa besar bagi komunitasnya, atau seorang pemimpin  yang sangat dihormati dan dianggap layak menggunakannya, itu pun dalam momen tertentu saja, misalnya dalam perkara adat, jadi bukan sembarang orang, itupun berasal dari tengkorak enggang yang sudah meniggal atau bukan dibunuh”, tambahnya.

Kriss Gunui’  juga menambahkan penyelamatan dan Eksistensi Rangkong Gading tidak hanya dapat dilakukan lewat konservasi, melainkan harus dengan pendekatan atau cara-cara yang holistik dengan melihat aspek sosial masyarakat serta regulasi dari pemerintah yang harus memperhatikan kehidupan sosial, budaya, ekonomi sekaligus kelestarian lingkungan. 

Diskusi berjalan sangat lancar, peserta yang berasal dari berbagai latar belakang seperti aktivis lingkungan, seniman, pegiat budaya, dan mahasiswa bergantian mengajukan pertanyaan, tanggapan maupun saran untuk penguatkan eksistensi Enggang Gading di Kalimantan Barat. Lebih dari tiga jam diskusi tersebut pun diakhiri oleh Deni, sang moderator.

Teks: Yeremias. Foto: Medi. Editor: Krissusandi Gunui’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *