PELUNCURAN BUKU ‘Tiong Kandang’ DEMI MEMPERKUAT IDENTITAS

BATANG TARANG KR

“Satu Lagi Budaya Dayak Diwariskan bagi Dunia”

 

Nama Munguk (bukit) Tiong Kandang sudah sangat familiar bagi masyarakat di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Barat. Dalam berbagai ritual adat yang biasa dilakukan oleh Masyarakat Adat Dayak, nama Munguk Tiong Kandang senantiasa disebutkan. Menurut Kusnadi alias Tikus (60), salah seorang Imam Adat di kampung Bangkan, Tiong Kandang dianggap mempunyai peran penting dalam proses ritual sebagai bagian dari kekuatan alam semesta. Kebesaran nama Tiong Kandang sudah menjadi rahasia umum yang diikuti cerita-cerita besar di baliknya. Tak jarang bukit ini dikaitkan dengan hal-hal yang misterius (mitos) bahkan disebut sebagai Bukit Keramat.
Mengupas lebih jauh Tiong Kandang bagaikan menelusuri jeram terjal yang menukik hingga ke dasar sejarah itu bermula. Masyarakat Adat Dayak juga meyakini Bukit Tiong Kandang sebagai tempat suci yang sudah dikeramatkan sejak jaman dahulu bahkan menjadi salah satu tempat pertapaan. “Bukit Tiong Kandang itu sangat keramat, kalau orang menuntut pengetahuan alamnya mesti bertapa di sini. Tapi, tidak semua orang bisa menerima pengaruh atau tuahnya yaitu hanya orang-orang berhati bersih atau suci,” ulas Nepo (93), ahli lokal asal Kampung Saleh, Senakin, yang pernah bertapa di Tiong Kandang. Menyadari nilai sakral yang terkandung di dalamnya membuat Masyarakat Adat di sekitar kawasan bukit ini melindungi dan menjaga wilayah adatnya. Upaya tersebut diantaranya dilakukan dengan memetakan wilayah adat sebagaimana dilakukan oleh Masyarakat Adat Dayak Tae di Kampung Bangkan.
Keagungan Tiong Kandang tidaklah berdiri sendiri, dia terbentuk bersama alam yang berevolusi beserta kehidupan sosial Masyarakat Adat Dayak yang setia merawat Munguk Keramat ini, yakni bagaimana sebuah hubungan karakter antara Sang Pencipta, Alam dan Manusia saling berkorelasi sehingga menjadikannya sebuah ikatan utuh. Bersamaan dengan proses perlidungan wilayah adat, Institut Dayakologi (ID) telah melakukan riset kecil di Bangkan dan kawasan Tiong Kandang umumnya. Riset tersebut mencakup penguatan wilayah adat, pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal, dan mengenal lebih dekat Bukit Tiong Kandang. Setelah berjalan selama dua tahun, hasil riset partisipatif tersebut dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul “Melindungi Tiong Kandang Sebagai Sumbat Dunia”. Buku tersebut sebagian besar ditulis sendiri oleh Masyarakat Adat setempat.
Kehadiran buku perdana yang menulis tentang sejarah Bukit Tiong Kandang dan pengelolaan sumber daya alam sekitar ini disambut baik oleh pemerintah setempat. “Kita memberi apresiasi atas kerja keras Masyarakat Adat di Kampung Bangkan dan juga kepada ID serta PPSDAK-PK sebagai lembaga pendamping di sana, yang telah memetakan wilayah Adat Bangkan sekaligus menerbitkan buku tentang Tiong Kandang dan pengelolaan sumber daya alam ini. Ini menjadi asset dan percontohan bagi wilayah atau kampung lain, untuk melindungi wilayahnya masing-masing,” terang Drs. Fransiscus Marinus, MM, Camat Balai, kepada KR. Respon positif juga ditunjukkan oleh pemerintah setempat dalam meluncurkan buku Tiong Kandang ini. Peluncuran buku terselenggara atas kerjasama ID, Pemda Sanggau di Kecamatan Balai, CU Sumber Kasih dan Masyarakat Adat Kampung Bangkan. Saat peluncuran yang dilakukan pada tanggal 20 Desember 2012, Pemerintah di Kecamatan Balai langsung bertindak sebagai tuan rumah. Acara ini diikuti 143 peserta dari unsur pemerintahan se-Kecamatan Balai, lembaga adat di kampung-kampung, perwakilan Masyarakat Adat Kampung Bangkan dan Desa Tae, lembaga-lembaga dalam lingkungan GPPK, CU Sumber Kasih dan media (Ruai TV dan KR).
Seluruh peserta yang hadir memandang buku ini sebagai sebuah warisan budaya bagi anak cucu dan generasi saat ini. “Kami sangat berterima kasih buku ini sudah diterbitkan, saya harap bisa juga masuk ke sekolah-sekolah supaya anak-anak mengerti tentang sejarah dan budayanya sendiri. Buku ini adalah warisan penting untuk anak cucu kita,” sambut Stevanus Acuk (72), Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Balai. Hal senada ditegaskan Moses Thomas (35), analis dalam peluncuran buku ini. Menurut Moses, buku ini adalah warisan budaya dan menekankan tentang kearifan-kearifan lokal dalam menjaga sumber daya alam. “Ini adalah momentum bagi kita yang belum menyadari eksistensi sebagai orang Dayak. Mudah-mudahan buku ini bisa menginspirasi dan memotivasi Masyarakat Adat Dayak lainnya untuk mendokumentasikan diri seperti Dayak Tae dan Kampung Bangkan dalam buku ini,” urai Moses.

Institut Dayakologi, selaku lembaga penerbit yang diwakili Paulus Yusnono menjelaskan bahwa melalui buku ini Masyarakat Adat Dayak sedang mewariskan budayanya bagi dunia. “Buku ini menceritakan tentang bagaimana kita hidup, bagaimana Masyarakat Adat Dayak menjaga dan menyelamatkan Tiong Kandang serta mengelola sumber daya alam dengan kearifan lokalnya. Selama ini sudah banyak orang bercerita dan menulis Tiong Kandang, tetapi kali ini, kita sebagai orang Dayak dan masyarakat setempatlah yang menulis dan menceritakan tentang diri kita sendiri,” papar Yusnono. Buku ini takkan pernah basi, karena merupakan perpustakaan hidup. Semoga pengetahuan dalam buku ini mampu menjawab kebutuhan akan pengetahuan lokal demi kesinambungan generasi bertradisi. ***

GUNUI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *