Sistem

Ini bukan buku sembarangan. Meski telah ditulis hampir 50 tahun yang lalu, namun baru bisa terbit tahun 1957. Itupun di sebuah percetakan yang terletak sekitar 2.500 km dari tempatnya ditulis. Penyebabnya: jika terbit, buku itu dapat mengganggu “sistem”. Buku ini isinya berbeda dengan “sistem”. Penulisnya bernama Boris Leonidovich Pasternak. Bukunya adalah sebuah novel. Judulnya: Dr. Zhivago.
Pikiran Boris Pasternak yang mempromosikan kebebasan individu itu dinilai bertentangan dan berbahaya di Uni Soviet karena mengancam “sistem” yang sedang dijalankan pemerintah. Tapi setahun kemudian, Panitia di Swiss menganugerahkan Hadiah Nobel kepada penulis novel dari Uni Soviet itu, namun ia memilih menolaknya sebagai tukaran atas kebebasannya dari Rejim Khrushchev yang getol ingin mengirimnya ke camp konsentrasi maha kejam bernama Gulag di Uni Soviet kala itu. Pasternak selamat setelah PM India Jawaharlal Nehru menelepon bernada ancaman kepada Khrushchev (sumber: Wikipedia).

Dalam sejarah, “Sistem” kerapkali dijadikan senjata untuk melakukan kriminalisasi terhadap seseorang. Sistem yang merupakan mekanisme yang sedang dijalankan oleh penguasa seringkali dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan dan kepentingan. Segala sesuatu harus “berdasarkan mekanisme dan sistem yang berlaku”.
“Sistem” juga yang sedang menjarah dan menguliti bumi Kalimantan saat ini. Semua orang harus percaya bahwa “sistem inilah yang terbaik, yang lain salah.” Semua yang menghambat “sistem” ini harus dilenyapkan. Pokoknya, “sistem” ini adalah segala-galanya dan segala-galanya perlu “sistem” ini. Atas nama “sistem” inilah kini kebun karet berubah menjadi kebun sawit, ladang berubah menjadi tambang, bukit sah untuk digunduli, sungai sah untuk dicemari. Semua yang dijalankan oleh “Sistem” adalah sah sedangkan yang menghambat “sistem” sah untuk dikriminalkan.
Kemandirian dan keswadayaan adalah musuhnya “sistem” yang berlaku saat ini karena tidak menggantungkan hidupnya pada pemilik kapital. Pulau Kalimantan dikelola secara subsisten, artinya mandiri/swadaya, selama ribuan tahun. Tapi “sistem” menganggap itu salah dan “menghambat kemajuan” terlepas dari kenyataan bahwa subsistensi itulah yang mampu membuat bumi Kalimantan tumbuh kaya dan subur dan terpelihara selama ribuan tahun.
Hamparan pohon sawit yang kita temukan sejauh mata memandang di sebagian besar wilayah di lima provinsi di pulau Kalimantan sekarang ini adalah karena “sistem” tersebut. Pun banjir bandang yang semakin sering terjadi di berbagai tempat akibat sungai-sungai yang mengering atau berwarna pekat dan berbau busuk adalah karena “sistem” yang semakin diyakini dan diterima secara kolektif tersebut.
Namun, sejarah mencatat pula bahwa sebuah “sistem” akan tetap berjalan sampai pada titik ketika para korban merasakan secara kolektif bahwa “sistem” telah berubah menjadi “musuh” mereka. “Sistem” telah gagal memenuhi harapan kolektif mereka. Pada saat itulah semua orang akan berteriak, seperti kelompok Los Indignados di Spanyol tahun 2011 yang lalu: “No estamos contra el sistema, el sistema esta contra nosotros!” Bukan kami menantang sistem, tapi sistemlah yang menantang kami!

(jbamba@mar13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *