Sekolah

Albert Einstein mengeluh:”Satu-satunya hal yang menghambat saya dalam Belajar adalah Pendidikan saya.” Dan entah bagaimana caranya, sang jenius Einstein toh menciptakan rumus E=mc2 yang memungkinkan bom atom dibuat untuk menghentikan Perang Dunia II. Einstein tidak sendirian merasa ada yang salah dengan Pendidikan. Paulo Fraire dan Ivan Illich adalah dua orang tokoh dunia pendidikan yang malah menghantam sistem pendidikan formal dengan ‘palu godam’. Mereka memvonis bahwa sistem yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia telah melanggengkan penindasan dan ketidakadilan. Fraire menyebutnya sebagai sistem “perbankan” (banking system) dimana para siswa/i ibarat rekening yang ‘diisi’ oleh para guru agar kelak menjadi pendukung (‘mesin produksi’) sistem yang tidak adil dan melanggengkan penindasan. Illich bahkan menyerukan agar masyarakat “dibebaskan dari sekolah” (deschooling society).

Ketiga tokoh di atas membuktikan bahwa pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah lah yang menjadi penentu kualitas kemanusiaan kita. Sekolah dimana pendidikan ditanam dan dikembangkan dari generasi ke generasi sejak jaman Kekaisaran Bizentium 425 AD telah melukis wajah peradaban dan perjalanan umat manusia. Jika pendidikannya baik, manusia menjadi baik; jika pendidikan buruk maka manusia juga menjadi buruk. Kata Nelson Mandela: “Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia.”

Di Indonesia, ingatan membawa kita kepada Ki Hajar Dewantara yang meyakini bahwa pembebasan bangsa Indonesia dari penjajahan harus dilakukan melalui sistem pendidikan yang mengakar pada budaya bangsa sendiri. Sekolah Taman Siswa yang ia dirikan pada tahun 1922 melakukan pendidikan informal tentang nilai-nilai dan praktik-praktik dalam budaya Jawa termasuk tari-tarian dan musik tradisi. Ki Hajar Dewantara yakin bahwa pembebasan bangsa harus dimulai dengan pembebasan cara berpikir secara kultural.

Pun demikian yang dilakukan oleh Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih pada tahun 1981. Proses pembebasan orang Dayak dari jeratan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan dimulai melalui Pendidikan. Maka didirikanlah SMP Santo Fransiskus Asisi untuk memberikan akses yang lebih besar bagi anak-anak Dayak di pedalaman untuk bersekolah. Sekolah-sekolah yang didirikan Pancur Kasih pernah mencapai belasan buah dan tersebar di berbagai pelosok Kalimantan Barat. Paradigma yang dibangun oleh para pendiri sekolah tersebut adalah “pendidikan yang mengakar pada budaya lokal, potensi diri yang membebaskan.” Sesungguhnya tidak ada orang yang bodoh, yang ada adalah ketidakmampuan untuk mengembangkan potensi diri masing-masing. Disinilah peran pendidikan yang membebaskan: melepaskan hambatan untuk berkembang seraya memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing orang. Karena itu itu, sejak awal SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi tidak menganut sistem seleksi nilai dalam menerima siwa/i baru.

Pendidikan memang bukan hanya sekedar “fasilitas”, melainkan juga soal “isi”. Pendidikan yang baik adalah yang mampu membebaskan manusia dari sifat individualis, suka kekerasan, eksploitatif, pembohong dan perusak sembari memaksimalkan potensinya sebagai mahluk yang solider, menolak kekerasan, produktif, jujur dan penyayang. Jika sistem pendidikan yang dijalankan menghasilkan para pelajar yang hobi tawuran, bullying, berperilaku tidak senonoh, pencandu narkoba maka tidak mengherankan jika bangsa ini masih dipenuhi oleh para koruptor, teroris, fundamentalis dan preman.

Dus, tantangan pendidikan saat ini adalah bagaimana mendidik generasi muda bangsa yang profesional dan sekaligus pancasilais, yang, jika harus bekerja di luar negeri tidak hanya sebagai pembantu rumah tangga melainkan sebagai tenaga profesional yang dihormati harkat dan martabatnya oleh bangsa lain. Inilah makna pendidikan sejati yang mampu memaksimalkan potensi manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, bukan menjadi mesin produksi yang menghasilkan uang di bawah kendali neoliberalisme yang pintar menghafal dan menghitung namun tidak tahu bagaimana bersyukur dan menjalani hidup dalam kebersamaan. (jb@04-13)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *