Merawat Perdamaian dan Keberagaman melalui Pendidikan Muatan Lokal dan Multikultur di Masa Pandemi Covid-19 di Kalimantan Barat: Refleksi Praksis Dan Akademis
Radikalisme-fundamentalisme bisa tumbuh dan berkembang pada kelompok berbasis keagamaan, politik, ekonomi maupun etnisitas. Kekerasan verbal dan fisik hingga aksi terorisme menjadi ciri yang paling menyolok dari keberadaan kelompok radikal-fundamental tersebut.
Dia menandaskan bahwa dari berbagai upaya melawan paham radikal-fundamental tersebut, satu langkah yang relevan adalah pencegahan dengan membumikan budaya perdamaian dan anti kekerasan. Anak-anak di sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme.
“Pendidikan adalah solusi yang tepat dan strategis. Pendidikan mesti diperkenalkan dengan materi atau bahan ajar berbasis muatan lokal dan multikultur karena kreativitas, ajaran toleransi dan nilai solidaritas kemanusiaan yang beradab dari para peserta didik dapat digali dengan pendekatan seni, musik dan budaya lokal serta apresiasi terhadap budaya lain,” ujarnya.
Inisiatif pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur masih sangat relevan di Kalimantan Barat terlepas akan didukung atau tidak. Hal ini bahkan telah dimulai sejak 2007-2008, oleh Institut Dayakologi dan ANPRI bersama anggotanya yang memiliki visi yang sama mengenai nilai perdamaian dan kehidupan multikultur di Kalimantan Barat.
Di dalam Kurikulum 2013 (revisi), pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur dapat diintegrasikan di dalam setiap mata pelajaran yang ada sehingga nantinya bisa segera diupayakan strategi dan langkah inovatif dalam penerapannya. [*]

