Merawat Perdamaian dan Keberagaman melalui Pendidikan Muatan Lokal dan Multikultur di Masa Pandemi Covid-19 di Kalimantan Barat: Refleksi Praksis Dan Akademis

431 Views

Pontianak, KR

Pandemi Covid-19 tak menjadi alasan untuk abai dan terhenti menjaga komitmen multipihak untuk merawat nilai-nilai perdamaian dan keberagaman di Bumi Khatulistiwa ini. Diskusi juga demi mengembangkan wawasan masyarakat luas tentang praktik perdamaian, keberagaman dan nilai-nilai toleransi, serta mengeksplor tanggapan para pihak terkait inisiatif pembelajaran muatan lokal budaya dan multikultur di masa pandemi Covid-19 ini. Pendidikan multikultur tetap perlu dukungan dari semua pihak. Hal tersebut dinyatakan Krissusandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi saat memberikan sambutan diskusi terfokus pada Kamis (10/9/2020) tersebut.

Diskusi berlangsung di ruang Jurung Dayakologi, dihadiri langsung 20 peserta, dan 20 lainnya hadir secara virtual. Peserta dari utusan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, pendamping dan guru muatan lokal dari daerah Jelai Hulu, Kabupaten Ketapang, SMP/Sederajat di Pontianak, Kubu Raya, Landak, dan aktivis lokal dari komunitas, tokoh pemuda dan tokoh perempuan, serta aktivis yang mewakili lembaga-lembaga mitra ANPRI Kalimantan Barat.

Krissusandi Gunui’ (kiri), Direktur Eksekutif Institut Dayakologi menjadi narasumber dalam FGD yang diselenggarakan oleh ANPRI.

Dalam pemaparannya, Gunui’ juga mengatakan bahwa di Indonesia, fenomena muncul dan berkembangnya paham radikal dan fundamental yang berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan terus menjadi perbincangan dan perhatian banyak kalangan. Radikalisme-fundamentalisme bisa tumbuh dan berkembang pada kelompok berbasis keagamaan, politik, ekonomi maupun etnisitas. Kekerasan verbal dan fisik hingga aksi terorisme menjadi ciri yang paling menyolok dari keberadaan kelompok radikal-fundamental tersebut. Dia menandaskan bahwa dari berbagai upaya melawan paham radikal-fundamental tersebut, satu langkah yang relevan adalah pencegahan dengan membumikan budaya perdamaian dan anti kekerasan. Anak-anak di sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak berisiko terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme. “Pendidikan adalah solusi yang tepat dan strategis. Pendidikan mesti diperkenalkan dengan materi atau bahan ajar berbasis muatan lokal dan multikultur karena kreativitas, ajaran toleransi dan nilai solidaritas kemanusiaan yang beradab dari para peserta didik dapat digali dengan pendekatan seni, musik dan budaya lokal serta apresiasi terhadap budaya lain,” ujarnya.

Inisiatif pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur masih sangat relevan di Kalimantan Barat terlepas akan didukung atau tidak. Hal ini bahkan telah dimulai sejak 2007-2008, oleh Institut Dayakologi dan ANPRI bersama anggotanya yang memiliki visi yang sama mengenai nilai perdamaian dan kehidupan multikultur di Kalimantan Barat. Di dalam Kurikulum 2013 (revisi), pendidikan muatan lokal budaya dan multikultur dapat diintegrasikan di dalam setiap mata pelajaran yang ada sehingga nantinya bisa segera diupayakan strategi dan langkah inovatif dalam penerapannya.

Teks: Tim Dokpub ID.

Foto: Roni/Dokpub ID.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *