Mandau: Filosofi Hidup Dayak dan Jalan Menuju Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dunia

1.724 Views

Dari segi bentuk, mandau di Kalbar, menurut Petrus ada 9 nama yakni: duku (isau), tilan kemarau, jimpul, isau apang (parang bapak), lidah payau, nyabur, langau tingang, langau manuk, dan tangkin.

Sementara itu, Simon Takdir, antropolog Dayak Salako dan peneliti tangkitn memperluas pemahaman terkait senjata khas Dayak itu. Menurut narasumber ini  tangkitn ialah senjata khas Dayak Salako dan Kanayatn. “Asal usul tangkitn memiliki akar sejarah pada migrasi kelompok Austronesia dari Tonkin semenanjung Indo China ke wilayah selatan hingga Borneo,” jelasnya.

Tangkitn lahir dari budaya agraris yakni perladangan gilir balik atau sistem rotasi. Ia menambahkan bahwa tangkitn adalah hasil evolusi dari parang – perkakas berladang.

Jadi, baik mandau maupun tangkitn tidak sekadar sebagai pusaka, tapi penanda identitas – yang mempertegas senjata khas Dayak Kalimantan itu bukan alat perang semata, melainkan “naskah budaya” yang menyimpan sejarah migrasi, kosmologi, serta estetika.

Namun, tantangan besar menghadang pewarisan budaya mandau. Arus modernisasi menyeretnya pada risiko terganggunya nilai sakralnya, risiko degradasi budaya mandau ke komoditas cinderamata semata karena terjerat jebakan hegemoni dan kepentingan pariwisata.

Di satu sisi, generasi Dayak masa kini mulai menjauh dari seni teknologi menempa besi dan simbol-simbol kosmologisnya. Lantas ke mana pengrajin mandau Kalimantan? Berdasarkan penelusuran Basuki Teguh Yuwono, justru bilah Mandau saat ini sebagian besar diproduksi pengrajin di Sumenep, Madura.

Di situlah rekomendasi seminar menjadi krusial. Di antaranya mengintegrasikan pengetahuan budaya mandau dalam pendidikan, membangun komunitas maupun workshop budaya mandau, hingga memperkuat dukungan sosial ekonomi bagi pengrajin seni menempa mandau Kalimantan.

Ibu mandau, anak mandau dan sarung mandau.

Dengan cara ini mandau dapat terus menjadi budaya yang hidup, terus menyejarah, bermartabat, bukan sekadar artefak museum dan koleksi hiasan ruang tamu di rumah.

Akhirnya upaya meningkatkan status mandau warisan budaya Kalimantan menjadi WBTb dunia melalui UNESCO bukan sekadar diplomasi budaya, melainkan strategi meneguhkan jati diri Dayak dalam kerangka kebangsaan Indonesia sekaligus warga dunia.

Keberhasilan peningkatan status warisan budaya Kalimantan itu juga tak bisa dipisahkan dari proses bagaimana masyarakat Dayak Kalimantan “menghidupkan” dan melestarikan nilai-nilai budaya mandau dalam kehidupan sehari-hari secara bermartabat.

Bagaimanapun, pengakuan eksternal hanya akan dimungkinkan jika budaya mandau dipraktikkan, diwariskan, dan dirawat sebagai ekosistem budaya Dayak yang holistik. Oleh karena mandau lebih dari sekadar pusaka, maka sebuah mandau sejatinya ialah narasi filosofi Dayak Kalimantan tentang keselarasan manusia, alam, dan leluhur.

Menjaga dan menghargai mandau berarti menjaga dan menghargai jiwa Dayak itu sendiri—sebuah jiwa yang kini menempuh jalan panjang menuju pengakuan dunia Jiwa Dayak yang penuh keindahan, keselarasan, keberanian, dan kebijaksanaan sehingga tetap relevan di zaman yang terus berubah.

Dengan demikian mandau bisa mengambil jarak dengan “sisi seram masa lalunya”, yang diidentikkan dengan mengayau (memburu kepala musuh kayau) – citra kekerasan yang turut diproduksi oleh para penulis Barat (a.l: Carl Bock, 1882) penjelajah dan naturalis asal Norwegia.

Tradisi mengayau telah dihentikan secara resmi dalam kesepakatan Tumbang Anoi, Kalteng pada 1894 silam. Meskipun dalam pandangan sejarawan dan antropolog Dayak – J.J. Kusni  (2013), Pertemuan Tumbang Anoi itu malah menjadi titik hitam dalam sejarah Dayak. Poin ke-1 kesepakatan itu berisi persetujuan penghentian permusuhan dengan pihak Pemerintahan Hindia Belanda yang artinya mengakui kekuasaan Belanda terhadap Suku Dayak kala itu.

Kini, waktu terus berubah, dan kita berubah bersamanya. “Tempora mutantur, nos et mutamur in illis”. Dayak tak boleh tergilas arus perubahan. Tak sedikit pekerjaan rumah yang mesti dikerjakan demi meraih penghargaan tertinggi dunia agar mandau diakui menjadi warisan budaya dunia di forum UNESCO.

Nah, bagaimana menurut pembaca? [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *