Laliq Parai Maring: Ritual Pengantar Rasa Syukur Sebelum Panen Ladang Dayak Bahau

543 Views

Makna Tanah bagi Perempuan Dayak Bahau

Sulit rasanya ketika mempertahankan sistem pertanian gilir balik ini tanpa ada lahan atau tanah. Tidak bisa dipungkiri bahwa Kalimantan Timur telah dikepung oleh industri ekstraktif maupun proyek pembangunan lainnya yang berbasis hutan, lahan dan tanah. Keadaan ini mengakibatkan  keberadaan sistem pertanian gilir balik orang Dayak ini dalam beberapa tahun belakangan semakin terancam punah.

Emping dari padi pilihan setelah ditumbuk, siap dihidang. Foto: B. Ayang.

Terkait kondisi tersebut, diperlukan upaya yang serius untuk mempertahankan dan melindungi tanah-tanah adat yang masih tersisa. Di masa yang akan datang, generasi penerus Dayak akan teralienasi atau terusir dari tanah-tanah leluhurnya jika tidak mengambil sikap sejak dari sekarang. Kaum perempuan dan anak-anaklah yang menjadi kelompok korban pertama yang akan merasakan akibat dari dampak pencaplokan sistematis atas hutan, lahan dan tanahnya.

Rasa khawatir itu juga dirasakan salah satu perempuan adat Bahau di Long Hubung. Priska Long (56) mengingatkan bahwa, “tanah leluhur memiliki sumpahnya, maka kita tidak boleh sembarangan memperlakukan tanah, sebab sumpah atau tulah dari leluhur akan menimpa kita”.

Tanah bagi Masyarakat Adat Bahau bukan sekadar dipandang sebagai objek yang dapat diperjual-belikan. Melainkan subjek yang hidup dan memiliki keterikatan erat dengan manusia. “Sebagai manusia yang beradat semestinya kita menghargai dan menghormati tanah tempat kita berpijak. Ketika kita menghormati tanah ia akan memberikan kehidupan kepada kita manusia,” pungkas Priska.

“Pada saat membuka lahan untuk ladang biasanya dilakukan ritual Makan Toq Tanaq dan Alaq Yoq untuk memohon izin atau permisi kepada roh-roh leluhur agar pada saat proses pembukaan lahan tidak diganggu. Kita beri rokok, sirih, dan lainnya untuk leluhur yang menghuni hutan dan tanah. Ada banyak cerita di antaranya kalau ada orang nyelonong masuk ke tanah kita tanpa pemisi dengan leluhur, maka jangan heran orang itu ada yang tertimpa kayu, ada yang sakit tidak jelas, ada yang luka, dan lain sebagainya. Itulah mengapa wajib permisi dulu karena leluhur mengetahui maksud dan tujuan kita, karena jika berniat jahat maka mereka akan memberikan yang jahat pula. Nah… yang mengalami hal-hal seperti itu, dalam kepercayaan kita orang Dayak mereka sudah kena sumpah leluhur,” jelas Priska.

Perempuan Dayak Bahau ini menegaskan bahwa orang Dayak, kalau tanpa tanah, maka habis lah Dayak. “Kita memperoleh kehidupan dari tanah, maka kita wajib menghargai dan menghormatinya seperti layaknya kita menghormati orang tua kita sendiri. Jangan kita sakiti mereka sehingga kita tidak terkena sumpah atau durhaka terhadap mereka,” tukas Priska lagi.

Tanaq Mawaaq dan Kekhawatiran Priska Long

Berakar pada pandangan sosio religius Masyarakat Adat Dayak Bahau, maka dikenal istilah yang unik yang mereka sebut sebagai Tanaq Mawaaq. Tanaq Mawaaq berarti tanah yang disayang atau disayangi. Ini lebih dari sekadar memiliki makna kepemilikan secara fisik semata, tapi juga mencerminkan kepemilikan dalam dimensi spiritual tanah. Apakah Tanaq Mawaaq terakhir akan aman dari desakan ekspansi industri ekstraktif.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/negara-bertindak-tambang-bodong-ancam-borneo/

Umur Long sudah setengah abad lebih, namun semangatnya masih berapi-api. Ia tegak berusaha mempertahankan warisan budaya leluhur. Tak heran jika beliau tergabung dalam kelembagaan adat di Long Hubung yang berfokus pada pelaksanaan pelbagai ritual. Meski demikian, ia tak luput dari rasa khawatir karena seiring usianya bertambah, generasi muda yang diharapkan menjadi penerus warisan budaya leluhur belum tentu bersedia.  

“Saya khawatir siapa lagi yang akan meneruskan adat budaya leluhur kita. Umur saya semakin tua, dan badan tak lagi kuat seperti beberapa tahun sebelumnya,” ungkapnya dengan wajah murung.

Di balik itu, ia menyimpan harapan yang begitu besar kepada generasi muda Dayak Bahau agar mau melestarikan warisan leluhur yang tersisa. Era globalisasi dan modernisasi terus masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia Dayak sehingga mereka kebanyakkan akan kelimpungan, tergilas zaman di persimpangan jalan.

Fenomena yang banyak terjadi di masyarakat pedalaman Kalimantan ini dipengaruhi hegemoni ekonomi uang yang membawa perubahan cara pandang masyarakat terhadap sekitar atau lingkungannya. Apa yang pada zaman dahulu dianggap sakral, kini hanya dianggap sebagai objek atau materi yang dapat dirupiahkan. Nah, bagaimana menurut pembaca?[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *