Bekumpang, Pusaka Warisan Adat Dayak Dêsa, Turut Tangkal Wabah Global Korona

550 Views

“Harmonisasi Spritualitas Sang Pencipta, Alam dan Manusia Bermartabat”

Tapang Sambas-Sekadau, Wabah Virus Corona memberikan dampak luar biasa pada seluruh lapisan masyarakat baik global, nasional hingga ke komunitas lokal. Terlebih setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya menyatakan bahwa wabah virus corona sebagai pandemi (12/3/2020). Angka kasus positif Covid-19 global terus meningkat, hari ini (14/4/20, red) sudah berjumlah 1.918.679, 119.212 diantaranya meninggal dan 443.192. Sementara di Indonesia, menurut data Kemenkes R.I per 14 April 2020, terdapat 4.839 kasus, 3.954 diantaranya sedang dirawat, dan 459 meninggal serta 426 dinyatakan sembuh. Khusus di Kalbar, per 14 April, sebagaimana dilansir dari kompas.com, “ada 13 kasus terkonfirmasi Covid-19, di antaranya lima orang sudah sembuh, lima masih dirawat, satu orang isolasi ketat dan tiga meninggal dunia,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson, kepada wartawan.

Setiap negara dan kelompok masyarakat merespon sebaran wabah Covid-19 tersebut dengan berbagai macam reaksi, diantranya melakukan lockdown, karantina willayah, isolasi dan lain sebagainya. Jika respon global bersifat massif dan makro namun tidak begitu mengikat, sebaliknya komunitas lokal lebih eksklusif namun mengikat komunitasnya sangat kuat dalam wilayah adat dengan aturan dan hukum adat yang hidup di komunitas masing-masing. Meski demikian respon komunitas lokal tujuan dan dampaknya sangat inklusif karena dilakukan secara lokal utuk sekuruh makhluk secara global. Salah satu contoh respon Masyarakat Adat terhadap wabah pandemic Covid-19 ini adalah yang dilakukan oleh Masyarakat Adat Dayak Dêsa (baca Dsa, red) di Kampung Tapang Samas-Tapang Kemayau, Desa Tapang Semadak, kecamatan Sekadau Hilir, Sekadau, dengan menggelar Ritual Adat bekumpang.

Balai Dusun yang menjadi salah satu lokasi Komunitas Adat Dayak Dêsa Tapang Sambas – Tapang Kemayau menggelar Ritual Adat Bekumpang.

Bertempat di Balai Dusun dan Tembawang Kampung, pada 22 Maret 2020, Komunitas Adat Dayak Dêsa Tapang Sambas – Tapang Kemayau menggelar Ritual Adat Bekumpang. Ritual Adat ini dimpin oleh Emunus (50 th), tokoh adat kampung. Ritual yang sudah kian langka ini, diikuti lebih dari 80 warga adat kampung. Semua warga yang hadir kena dan terikat dengan pantang kampung. Usai Ritual, Pantang dipaparkan, beberapa diantaranya adalah pantangan selama tiga hari tidak boleh pergi luar kampung atau ke kota, tidak boleh membawa barang atau sesuatu yang amis dan gatal ke dalam rumah, misal sayur rebung.

Bekumpang, Tolak Bala a la Dayak Dêsa

Bekumpang adalah jenis tolak bala benua atau kampung yang biasa dilakukan sebagai salah satu cara atau metode adat dalam penanggulangan wabah (atau akrab disebut sampar). Sebuah sistem yang sudah teruji dan diterapkan dari generasi ke generasi, yang belakangan selama dalam kurun waktu satu bulan terakhir serentak dilaksanakan oleh Masyarakat Adat Dayak di berbagai daerah, khususnya di Kalimantan Barat. Layaknya peringatan Nyepi bagi umat Hindu di Bali, pada umumnya setelah melaksanakan Ritual Adat, akan ada ketentuan bagi masyarakat di komunitas tersebut untuk tidak melakukan aktivitas diluar rumah seperti istilah self-quarantine (karantina mandiri) selama satu hari atau lebih.

“Ritual adat tolak bala, artinya kita menolak sampar, segala pemedih (penyakit), sial sisil (malapetaka dan kesialan) yang kita serahkan melalui pentik (patung dari kayu kumpang), tumbuhan mali-ali, betabar, ayam kampung & sesajian/rempah-rempah. Bala artinya semua warga/sekampung kompak untuk menolak hal tersebut, hal tersebut juga ada diperkuat adanya pantang,” tutur Sunjang salah satu tokoh adat yang juga Ketua Pengelola Hutan Adat Rimak Tawang Panjai.

Komunitas Adat Dayak Dêsa Tapang Sambas – Tapang Kemayau menggelar Ritual Adat Bekumpang di tembawang kampung.

Hal ini dilakukan karena sebagai bentuk pewarisan budaya sekaligus menjadi salah satu wujud identitas Masyarakat Adat dan kearifan lokal Dayak Dêsa secara turun-temurun. “Kenapa hal tersebut perlu kita lakukan? karena ini merupakn identitas kita sebagai Masyarakat Adat/ Kearifan Lokal/ dan warisan Adat Budaya yang dari turun-temurun, tentunya sangatlah perlu kita lestarikan hingga sampai kapan pun,” sambung Sunjang.

Ritual ini, layaknya tolak bala Dayak lainnya, merupakan sebuah ritual adat yang mengharmonisasikan keseimbangan antara manusia, alam dan Sangh Pencipta yang diyakini rasi (mujarab, cocok dan efektif), untuk itu, ritual ini hanya memungkinkan jika komunitasnya masih memegang teguh dan tunduk pada nilai-nilai budaya dan adat istiadatnya, menghormati alam dan Petara sebagai penguasa seluruh alam semesta. Masih mampu dan mujarabkah warisan leluhur dan kearifan budaya Dayak ini menangkal wabah termasuk Covid-19 ini? Semoga harmonisasi manusia bermartabat, alam dan Sang Pencipta masih setangguh pusaka warisan adat ini.

Teks: Sunjang, Ansel dan Yeri. Foto: Bernat. Editor: Kriss Gunui’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *