PUAK DAYAK YANG RISAU

803 Views

Sajak: Iwan Djola

Antu Belau berbisik desis kepadamu wahai : Walau sudah tiada. Betang adalah pustaka. Kisahnya mungkin legenda, tapi Semangatnya tetaplah Pusaka.

Pendidikan telah membuatmu memahami.  Dan.  Di Ufuk Kesepahaman itu terbitlah cinta. Oleh cinta Penompa merajut kesabaran. Di rimba Belantara kesabaran itulah sentua memasang pasak Kesatuan. Demikianlah wahai anak cucu Macan Buri’ Macan Caki’, bala Kek Gila. Anak kandung hutan lindung, Riam geram, Bukit alit, Bidoih yang berpura tak perih. 

Apakah kau :

Bidayuh, Bisomu, Banyuke? Desa, Darok? Engkarong? Golik? Hibun? Jangkang? Kopa? Keneles, Ketungau  Sesaik? Keramai? Laya? Mayao, Mudu, Muara, Mali?   Punti, Peruan, Panu, Pompakng, Pangkodatn?      Sebarok, Sum, Sisakng, Sami, Senangkan, Semalak, Sungkung? Taba, Tobak, Tinying?

Masih adakah jiwa pada sisa suaramu?

Setelah hari ini.. bukan malam tapi di siang hari. membakar ladang tak ubah mencuri… Kau perlu mengendap dan tertangkap ditanah ulayatmu sendiri, dihutan, sungai dan bukit tempat belajar memasang jerat dan mengikat pukat.

Lalu: Tuak saji, ayam kampung tak bertaji,  beras kuning, Sabang dan Rancak tak melulu piranti adat lagi, ia menjelma menjadi barang bukti.

Manis vonis sidang dewa-dewa yang telah selesai dibalik meja akan dibacakan, titah mengirim badanmu kedalam penjara, bahkan jiwamu yang sisa sia.

Dimana lahan berburu,  dimana ikan sungai, dimana anak-anak, dimana belati, dimana bahasa, dimana sebenarnya ladang  kemerdekaan?

Hanya Dalam mimpi keDAYAKan mu??

Jumat Agung, April 2020 Kepada: Peladang Dayak Sanggau yang risau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *