Dayak Menyambut Gerhana Bulan

300 Views

Syarat Pengetahuan Lokal dan Spiritual Adat

Tampun Juah, Segumon, kalimantanreview.com—Ratusan warga Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk, Kecamatan Sekayam, Sanggau berkumpul di halaman Balai Pertemuan Kampung menggelar upacara adat Buratn Tangkap Perahu Api atau beritual adat menyambut gerhana bulan total pada Rabu (26/5/2021). Menurut Dogim (77), Prabu atau Kepala Adat Segumon, ritual ini sudah merupakan tradisi dan dilakukan rutin jika ada gerhana bulan. Ritual Adat ini dimaksudkan untuk mencegah hawa panas merusak kehidupan manusia, karena dalam hitungan adat, gerhana ini membawa hawa panas yang dapat menggugurkan bunga, buah, padi dan berbagai jenis tanaman pangan dan hutan lainnya. 

Sebagai Masyarakat Adat yg masih memegang adat istiadat dan masih mempunyai pengetahuan lokal, saat terjadi Gerhana Bulan Masyarakat Adat Ketemenggungan Sisang, Kampung Segumon melaksanakan Ritual Adat Buratn Tangkap Perahu Api (lihat video pada tulisan ini). 

“Buratn Tangkap Perahu Api ini memiliki dan membawa hawa panas, sehingga dapat mengugurkan kembang/bunga/ buah yang baru ingin jadi juga. Apalagi saat ini di Kampung Segumon sendiri juga sedang menuju musim buah terutama musim buah durian, juga ini bulan menuju musim warga adat kita mulai berladang sehingga ketika terjadi burant tangkap perahu api perlu dilakukan ritual adat, agar kembang menjadi buah dan kelak ketika berladang, padi yg ditanam dapat tumbuh hidup  dan menghasilkan buah yang baik dan melimpah.” Papar Dogim.

Ritual Buratn Tangkap Perahu Api ini dilaksanakan dengan peraga atau bahan ritual, antara lain tuak 7 gelas, beras 1 cawan, telur ayam kampung 1 buah, air 1 ember untuk menyiram hawa panas. Ritual ini juga diiringi dengan musik tradisi adat yakni  diiringi ketawak 1 buah,  dilengkapi dengan kelintang dan gendang. Ritual ini rutin digekar oleh Masyarakat Adat Kampung Segumon Ketemenggungan Sisang bila terjadi gerhana bulan. 

“Mengingat gerhana kali ini sangat panas dan kita sedang masa penyakit (covid 19), maka ritual adat Burant Tangkap Perahu Api sangat penting digelar. Tujuannya untuk mendinginkan hawa dan berniat segala kembang buah yg jadi tidak gugur, serta beniat agar nanti ketika musim beladang nanti segala padi dapat tumbuh dgn baik”, imbuh Dogim.

Gerhana bulan bagi Suku Bangsa Dayak memiliki makna baik dan buruk, jika dingin dapat menyuburkan sebaliknya jika panas dapat menggugurkan. 

Pengetahuan Dayak Ma’anyan, Dayak Desa dan Seberuang tentang Gerhana Bulan 

Gerhana bulan dalam pengetahuan lokal Dayak Ma’anyan di Desa Bundar, Barito Selatan, Kalimantan Selatan, seperti dilansir borneonews.com, kepercayaan Dayak Ma’anyan tentang gerhana bulan memiliki makna atau arti atau pertanda baik dan buruk bagi kehidupan umat manusia. Sesepuh Suku Dayak Ma’anyan,  Siter Ate (86), warga kilometer 20 Desa Bundar Kecamatan Dusun Utara mengatakan, berdasarkan kepercayaan dari nenek moyang, gerhana bulan memiliki pertanda baik dan buruk dalam kehidupan manusia.

Menurut Siter Ate, dalam gerhana bulan apabila bulan ditutupi atau mulai tertutup dari bawah ke atas, itu pertanda tidak baik. Maka akan banyak manusia yang akan menderita berbagai macam penyakit serta sawah, ladang dan kebun bisa gagal panen.Sebaliknya, jikalau bulan ditutupi mulai dari atas menuju ke bawah, itu juga pertanda sangat tidak baik. Karena manusia akan saling ribut baik itu perang, berebut kekuasaan dan lain sebagainya. Akan tetapi, lanjut dia, jika bulan ditutupi gerhana baik dari kiri maupun dari kanan, maka itu merupakan pertanda bahwa dunia akan aman, adil, makmur dan sentosa. (Sumberhttps://www.borneonews.co.id/berita/99721-makna-gerhana-bulan-bagi-suku-dayak-ma-anyandengan pengeditan dan penyeuaian oleh redaktur kalimantanreview.com).

Selain Dayak Sisang dan Ma’anyan, Dayak Desa dan Seberuang di Kabupaten Sintang, dan Kabupaten Sekadau, juga memiliki pengetahuan dan makna tersendiri tentang gerhana bulan. Seperti ditulis Bonny Bulang dalam kompasiana.cobagi Dayak Desa dan Seberuang gerhana bulan disebut dengan “Bulan Telan Rauk” artinya bulan ditelan oleh binatang atau sejenis antu dan benda langit. Peristiwa ini menjadi berkat bagi Masyarakat Adat Dayak yang berladang. Kejadian ini biasa disertai dengan upadara adat. Dimulai dengan menyediakan padi, air dan darah manuk (ayam) yang diletakan dan dibiarkan menghampar di tahan lapang (pedarak). 

Masih menurut Bonny, Upacara Adat ini diiringi dengan pukulan gong dalam jumlah banyak, siapa yang memiliki gong boleh membunyikannya di dekat rumahnya masing-masing. Pada saat Bulan Telan Rauk ini juga dilakukan tembakan senapan lantak (senjata rakitan laras panjang biasanya di gunakan untuk berburu) ke langit tanpa peluru. Tembakan ini bertujuan membatu bulan yang sedang ditelan rauk supaya bisa pulih kembali. Upacara ini dilakukan sampai gerhana selesai. Pada saat gerhana bulan selesai dalam istilah Dayak Desa dan Seberuang disebut bulan sudah dimuntahkan oleh rauk, pedarak yang di hampar di tanah lapang tadi disimpan dan disengkelan (pemberkatan) ke benih padi dan pulut yang akan ditanamn pada tahun ladang yang akan datang. Dulu upacara ini disertai dengan tari-tarian khusus dengan pakaian adat lengkap dan menggunakan mandau sebagai senjata khas Dayak. Pada zaman dahulu, upacara ini juga merupakan upacara yang sangat sakral karena berhubungan dengan kehidupan berladang yang menjadi pekerjaan utama Masyarakat Adat Dayak. Namun seiring dengan masuknya modernisasi, upacara ini dilakukan hanya sebagai simbol tradisi saja dan bahkan hanya beberapa kampung yang masih melaksakan tradisi ini. (Sumber: https://www.kompasiana.com/bonny_bulang/550aca92a33311b9102e3a3e/makna-gerhana-bulan-bagi-sub-suku-dayak-desa-dan-seberuangdengan proses edit dan penyesuaian oleh redaktur kalimantanreview.com).

Penulis: Apai Angas & Paskalis Bendi (Aktivis ID & Laja Lolang Basua’).

Editor: KG.

Foto: Apai Angas.

Video: Nani Weni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *