Bekumpang, Pusaka Warisan Adat Dayak Dêsa, Turut Tangkal Wabah Global Korona

2.948 Views

Bekumpang adalah jenis tolak bala benua atau kampung yang biasa dilakukan sebagai salah satu cara atau metode adat dalam penanggulangan wabah (atau akrab disebut sampar). Sebuah sistem yang sudah teruji dan diterapkan dari generasi ke generasi, yang belakangan selama dalam kurun waktu satu bulan terakhir serentak dilaksanakan oleh Masyarakat Adat Dayak di berbagai daerah, khususnya di Kalimantan Barat. Layaknya peringatan Nyepi bagi umat Hindu di Bali, pada umumnya setelah melaksanakan Ritual Adat, akan ada ketentuan bagi masyarakat di komunitas tersebut untuk tidak melakukan aktivitas diluar rumah seperti istilah self-quarantine (karantina mandiri) selama satu hari atau lebih.

“Ritual adat tolak bala, artinya kita menolak sampar, segala pemedih (penyakit), sial sisil (malapetaka dan kesialan) yang kita serahkan melalui pentik (patung dari kayu kumpang), tumbuhan mali-ali, betabar, ayam kampung & sesajian/rempah-rempah. Bala artinya semua warga/sekampung kompak untuk menolak hal tersebut, hal tersebut juga ada diperkuat adanya pantang,” tutur Sunjang salah satu tokoh adat yang juga Ketua Pengelola Hutan Adat Rimak Tawang Panjai.

Komunitas Adat Dayak Dêsa Tapang Sambas – Tapang Kemayau menggelar Ritual Adat Bekumpang di tembawang kampung.

Hal ini dilakukan karena sebagai bentuk pewarisan budaya sekaligus menjadi salah satu wujud identitas Masyarakat Adat dan kearifan lokal Dayak Dêsa secara turun-temurun. “Kenapa hal tersebut perlu kita lakukan? karena ini merupakn identitas kita sebagai Masyarakat Adat/ Kearifan Lokal/ dan warisan Adat Budaya yang dari turun-temurun, tentunya sangatlah perlu kita lestarikan hingga sampai kapan pun,” sambung Sunjang.

Ritual ini, layaknya tolak bala Dayak lainnya, merupakan sebuah ritual adat yang mengharmonisasikan keseimbangan antara manusia, alam dan Sangh Pencipta yang diyakini rasi (mujarab, cocok dan efektif), untuk itu, ritual ini hanya memungkinkan jika komunitasnya masih memegang teguh dan tunduk pada nilai-nilai budaya dan adat istiadatnya, menghormati alam dan Petara sebagai penguasa seluruh alam semesta. Masih mampu dan mujarabkah warisan leluhur dan kearifan budaya Dayak ini menangkal wabah termasuk Covid-19 ini? Semoga harmonisasi manusia bermartabat, alam dan Sang Pencipta masih setangguh pusaka warisan adat ini.

Teks: Sunjang, Ansel dan Yeri. Foto: Bernat. Editor: Kriss Gunui’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *