Laliq Parai Maring: Ritual Pengantar Rasa Syukur Sebelum Panen Ladang Dayak Bahau

417 Views

Penulis: ANDRE | Foto: BERNADUS AYANG | Editor: R. GIRING

Long Hubung, Mahakam Ulu, Kaltim, KR – Pagi nan cerah di balai adat Ida’ang Bulan, Kampung Long Hubung, Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, puluhan warga datang berkumpul. Suasananya ramai. Tak seperti hari-hari biasanya saat warga sibuk masing-masing di ladangnya. Tampak bapak, ibu, pemuda, pemudi, hingga anak-anak melebur menjadi satu dalam ritual tersebut.

Ada berbagai tarian dibawakan oleh anak-anak muda yang tergabung dalam Sanggar Seni  Tingang Madang. Tarian yang anggun dan lemah gemulai seperti burung enggang yang meliuk di udara. Segera setelah tarian-tarian itu usai, kepala adat maju ke depan untuk memberikan petuah-petuah sebelum ritual dimulai.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/peringatan-hari-anti-tambang-2025-jatam-kaltim-ekstraktivisme-adalah-sistem-bunuh-diri/

“Kita mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselenggaranya Laliq Parai Maring ini. Ini berarti sebentar lagi kita akan menyambut musim panen padi,” kata Terang Liah (70), Senin (9/2/2026).

Ritual adat Laliq Parai Maring dilaksanakan selama satu hari. Seluruh warga masyarakat di kampung diundang. Mereka bersama-sama mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta atas hasil padi ladang yang mulai membuahkan hasil.

Setelah padi mulai menguning, maka masyarakat akan memanen padi tersebut secukupnya. Kemudian diolah menjadi Emping (atau Ubak), penganan khas Dayak Bahau.

Padi yang telah dipisahkan dengan tangkainya lalu ditampi untuk membuang sekamnya. Selanjutnya padi yang dipilih disangrai dengan wajan berukuran besar, kemudian ditumbuk dengan menggunakan alu dan lesung.

Proses menumbuk emping dibutuhkan sekitar 2 hingga 4 orang agar padi yang ditumbuk lebih cepat terkelupas dari kulitnya. Proses ini sendiri memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat karena padi yang mereka tanam sudah mulai menunjukkan hasilnya.

Warga Dayak Bahau sedang menyiapkan padi untuk bahan emping. Foto: B. Ayang.

Terang Liah (70) menjelaskan, Masyarakat Adat Dayak Bahau mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur karena telah menjaga tanaman padi di ladang sehingga hasil panennya dapat digunakan untuk kelangsungan hidup kita.

“Kita makan padi baru bersama-sama masyarakat lainnya yang disebut emping ini. Maka berladang penting dalam kehidupan orang Dayak. Jika kita tidak berladang maka ritual ini ndak bisa diadakan,” ujar Terang Liah.

Baca juga: https://kalimantanreview.com/masyarakat-muara-kate-batu-kajang-desak-pemerintahan-rudy-seno-lindungi-keselamatan-warga-dari-lalu-lintas-truk-tambang-batubara/

Dia menambahkan, Laliq Parai Maring ini merupakan kepercayaan kita orang Bahau sebelum memulai tahun baru dan panen padi. “Oleh karena itu, tahun baru orang Dayak adalah saat panen padi. Berladang sangat penting bagi kita orang Dayak Bahau ini. Bahkan bukan hanya bagi orang Dayak Bahau saja, tapi orang-orang Dayak lainnya juga,” imbuhnya.

Jika kita cemati siklus pertanian gilir balik masyarakat Dayak, keseluruhan rangkaian prosesnya mulai dari persiapan lahan, menebas, menebang, membakar, menugal hingga panen dan  perayaan tahun baru Dayak, maka itu sejatinya merupakan suatu sistem kebudayaan. Apalagi pertanian gilir balik tersebut tidak hanya merupakan bagian dari sistem mata pencaharian ekonomi semata, tetapi juga sebagai wujud manifestasi kehidupan holistik masyarakat Dayak, yang mencakup sistem pengetahuan, organisasi sosial, peralatan hidup dan teknologi, ritus, tradisi lisan, adat istiadat, seni dan bahasa serta sistem kepercaan dalam budaya tersebut.

Sayangnya praktik pertanian gilir balik ini kerap dituduh sebagai penyebab kerusakan lingkungan, kebakaran hutan, dan kabut asap. Tuduhan itu bukan karena si penuduh tidak memiliki pengetahuan terhadap kearifan lokal. Tetapi lebih karena dominasi sistem ekonomi politik yang memposisinya petani ladang terpaksa harus tunduk sehingga seringkali menjadi sasaran tuduhan yang menyakitkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *