Kabar dari Musyawarah Adat ke-2 Dayak Desa Tahun 2022
Berdasarkan sejarah sosial kebudayaanya, Dayak Desa tak luput dari pengaruh kebudayaan luar seperti pengaruh kebudayaan dari Hindu Tua, Kerajaan Majapahit, bahkan Islam dan kemudian ajaran kristen.
Demikian pemaparan Krissusandi Gunui’, Direktur Institut Dayakologi ketika mengisi sesi khusus untuk memaparkan kajian sejarah dan budaya Dayak Desa kepada seluruh peserta Musdat tersebut.
Gunui’ juga menyatakan, meskipun ada informan kunci yang mengaku dengan bangga bahwa Dayak Desa adalah keturunan Majapahit, tapi Dayak Desa itu adalah orang Dayak, penduduk asli Kalimantan.
“Pengaruh luar termasuk pengaruh unsur kebudayaan terhadap masyarakat Dayak Desa dari masa ke masa tak bisa dihindari. Namun Dayak Desa adalah orang Dayak, penduduk asli Kalimantan. Pulau Kalimantan yang luas dan kaya sumber daya alamnya pada zamannya itu tidak mungkin tidak ada penghuninya sama sekali?” jelas Gunui’ saat sharing hasil kajian sejarah dan budaya Dayak Desa yang dilakukan Institut Dayakologi pada 2021 lalu.
Kesepakatan Musdat ke-2
Kesepakatan Musdat meliputi beberapa perubahan atau pembaharuan dalam aspek organisasi, hukum adat, sejarah, adat istiadat, budaya dan bahasa. Di aspek organisasi telah disepakati perubahan nama, sebelumnya MTABDD (Majelis Tertinggi Adat dan Budaya Dayak Desa) menjadi MaTAB Dayak Desa (Majelis Tertinggi Adat dan Budaya Dayak Desa). MaTAB dalam Bahasa Dayak Desa berarti “menaungi”.
Di kepengurusan organisasi, terpilih Kanisius Ebhen, S.ST sebagai ketua umum MaTAB untuk Periode 2022-2027.
Kemudian di aspek hukum adat terdapat pembaharuan khusus dalam nilai amas dan real adat Pati Nyawa. Di sini disepakati pemahaman, bahwa posisi hukum adat tidak bisa lebih rendah kedudukannya terhadap hukum formal karena hukum adat diakui oleh Negara. Dalam aspek sejarah, adat istiadat, budaya dan bahasa, seluruh peserta sepakat untuk melestarikan sejarah, adat istiadat, budaya dan bahasa Dayak Desa.
Persatuan Dayak Desa
Musdat ke-2 Tahun 2022 diharapkan semakin memperkut persatuan masyarakat adat Dayak Desa. Hal itu sangat diperlukan karena situasi zaman dari tahun ke tahun semakin berubah. Yohanes Ontot, tokoh Dayak Desa yang juga Wakil Bupati Sanggau mengajak seluruh elemen masyarakat adat Dayak Desa agar meningkatkan persatuan.
“Dengan musyawarah kedua ini dan dengan seluruh hasilnya, saya harap seluruh elemen masyarakat Dayak Desa dapat semakin bersatu. Terlebih di era revolusi 4.0 ini yang menuntut kemampuan beradaptasi di hampir semua hal, terutama dalam keterampilan teknologi informasi,” katanya saat menutup Musdat tersebut.
Tidak lupa, ia pun mengajak kaum muda Dayak Desa agar tidak berhenti berusaha meningkatkan pengetahuan, kapasitas dan keterampilan diri sesuai minat dan bakat masing-masing. “Ayo anak-anak muda Dayak Desa, teruslah berusaha tingkatkan pengetahuan dan keterampilan kalian sesuai minat dan bakat kalian. Dunia ini semakin berkembang. Anak-anak muda harus beradaptasi dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi informasi di era revolusi 4.0 ini,” imbau Yohanes Ontot.
Selanjutnya, Ketua MaTAB Dayak Desa terpilih, Kanisius Ebhen, S.ST, mengajak seluruh elemen masyarakat Dayak Desa bekerjasama dan dukungan dalam memajukan masyarakat Dayak Desa. “Dukungan dan kerjasama dari bapak/ibu sekalian sangat diperlukan dalam mempersatukan dan memajukan masyarakat Dayak Desa. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya segera melengkapi kepengurusan MaTAB Dayak Desa agar kesepakatan Musdat bisa dikonkretkan secepatnya,” pinta Ebhen pada acara penutupan Musdat. Semoga. ***

