JALANKAN MISI KEBUDAYAAN, INSTITUT DAYAKOLOGI DAN YKSPK AUDIENSI DENGAN BUPATI BENGKAYANG
Sehubungan dengan itu, Ansilla Twiseda Mecer, Direktur YKSPK menyampaikan bahwa pihaknya telah melaksanakan sekolah perempuan adat di wilayah perbatasan Bengkayang-Sarawak Malaysia.
“Dalam kesempatan ini saya ingin menginformasikan, bahwa YKSPK telah melaksanakan sekolah perempuan adat di wilayah perbatasan. Kami harap bisa kerjasama dengan Pemda Kab. Bengkayang nantinya, “ujar Wisda.
Kepala DISDIKBUD Kab. Bengkayang menyambut baik partisipasi YKSPK dalam pendidikan non formal di wilayah Kab. Bengkayang yang sejalan dengan PKBM di DISDIKBUD Kab. Bengkayang.
“Penyelenggaraan pendidikan, termasuk pendidikan non formal membuka partisipasi yang luas kepada masyarakat. Di sini ada PKBM yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Pemberdayaan perempuan masuk di dalamnya sehingga nanti bisa dihubungkan ke situ, ” jelas Heru Pujiono.
PELUANG STRATEGIS
Selain rencana tindak lanjut kerjasama antara pihak DISDIKBUD Kab. Bengkayang dengan Institut Dayakologi terkait langkah-langkah lanjutan persiapan desa Pulau Lemukutan menuju Pulau Budaya, pada kesempatan tersebut didialogkan peluang strategis pemajuan kebudayaan Kab. Bengkayang.
R. Giring, Koordinator Divisi Riset dan DokPub ID memaparkan bahwa Kab. Bengkayang memiliki potensi kebudayaan yang sangat besar.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa sebaran potensi objek pemajuan kebudayaan terdapat di wilayah pesisir atau pantai, wilayah tengah dan wilayah hulu atau perbatasan dengan negara Sarawak, Malaysia. Di wilayah hulu atau perbatasan Malaysia telah berkembang even kebudayaan tahunan yaitu nibakng atau nyobeng yang dilaksanakan masyarakat Dayak Liboy, Sebujut Kec. Siding. Di wilayah pantai atau pesisir, wisata bahari di Pulau Lemukutan yang sekarang akan dikembangkan sebagai Pulau Budaya menambah peluang bagi pemajuan kebudayaan di wilayah tersebut.
Giring menambahkan, di wilayah tengah, tampaknya belum mendapat perhatian. Dalam semiloka revitalisasi kebudayaan di DISDIKBUD Kab. Bengkayang pada Desember 2019 silam, ID menyarankan agar kebudayaan lingkar Gunung Bawang menjadi salah satu prioritas pengembangan potensi objek pelestarian dan pemajuan kebudayaan di Kab. Bengkayang.
“Bila itu bisa kita wujudkan, maka kita tidak saja akan menyelamatkan aspek kebudayaannya, tapi pemberdayaan masyarakat dan pelestarian ekosistem Gunung Bawang yang bernilai historis dan religio spiritual bagi masyarakat adat sekitarnya. Peluang strategis pemajuan kebudayaan di Kab. Bengkayang bisa dilakukan dengan pendekatan berdasarkan 3 wilayah berdasarkan tipologi ekologi budayanya yang khas tadi,” tutur Giring.***

