DAYAK MERATUS DALAM JERAT MODERNISASI DAN GLOBALISASI

4.577 Views

Sebagai seorang bersuku Dayak Ngaju, saya pun merasakan kegelisahan yang sama. Kerusakan lingkungan alam, sosial, budaya dan manusia Meratus, persis sama–terjadi juga di Kalimantan Tengah. Solusi yang ditawarkan Devi dimulai dari titik tolak orang Meratus sebagai subjek atau pelaku perubahan itu sendiri. Ia menyuarakan agar masyarakat Dayak Meratus harus sadar, bahwa kondisi sudah berubah. Pendidikan yang membebaskan orang-orang Meratus, yang memanusiakan manusia Meratus (baca: pendidikan untuk membangun kampung halaman) menjadi kunci untuk menjawab persoalan yang ada.

Sisi menarik lainnya pada hlm. 120-121, dipaparkan sepintas tentang keberadaan Credit Union (CU). Sebuah lembaga pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbentuk koperasi. Tapi sayang, nama dan tempat CU ini tidak diungkap secara rinci oleh Devi. Manfaat gerakan CU yang dirasakan Dayak Meratus (meskipun belum semua bergabung menjadi anggota) tidak diperhatikan di buku ini. Barangkali, penulis mempunyai alasan tersendiri.
Menurut Sumperi (aktivis CU Bintang Karantika), per 31 Mei 2020, anggota CU Bintang Karantika Meratus sudah mencapai 800 orang, dengan aset sekitar 10 miliar. CU ini sejak Maret 2020 menjadi cabang dari CU Sumber Sejahtera, Kalimantan Selatan, sebelumnya cabang dari CU Sumber Rejeki, Ampah, Kalimantan Tengah.

Tantangan

Berdasarkan pengamatan langsung penulis, tantangan terberat Dayak Meratus terdapat pada sumber daya manusia Dayak Meratus. Pendidikan masih dianggap belum terlalu penting. Hampir 80% orang Dayak Meratus pada usia 30 tahun ke atas tidak dapat baca tulis.

Tidak mengurangi manfaat buku ini, beberapa gambar belum ada keterangan fotonya. Ada kesalahan pada beberapa halaman yang tertinggal cetak. Tumpang tindih antar-halaman, cetakannya tidak bersih sehingga huruf tak terbaca dengan jelas. Ini misalnya terdapat pada hlm. 73, 106, 116, 183, dan 193. Selain itu, terdapat kata-kata dengan ketikan keliru, misalnya ladang menjadi lading, sepertinya luput dari perhatian penulis saat pra cetak.

Buku ini mengajak kita bertanya dan merenung, masih adakah lahan ladang untuk orang Dayak Meratus seperti pada sampul depan buku ini? Masih adakah Bahasa-bahasa Dayak Meratus yang digunakan untuk melestarikan budaya dan terus dituturkan sehari-hari? Masih adakah budaya-budaya Dayak Meratus yang tersisa? Buku ini “wajib” dibaca para pengambil kebijakan dari tingkat kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga negara untuk melihat sisi lain dari kehidupan Dayak Meratus. Semoga. Peresensi adalah kontributor Kalimantan Review wilayah Kalteng.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *