DAYAK MERATUS DALAM JERAT MODERNISASI DAN GLOBALISASI

2.110 Views

Buku: Meratus, Nyanyi Sunyi di Pegunungan Borneo
Penulis: Devi Damayanti
Kata Pengantar: Prof. Bernard Sellato
Penerbit Lamalera, Bantul–Yogyakarta.
ISBN: 978-979-25-4853-7
Tahun terbit: 2016.
Peresensi: Rokhmond Onasis

Lima perempuan dewasa dan satu anak kecil duduk rapi di tengah ladang. Seorang perempuan duduk paling tepi memegang sepucuk rokok. Sedangkan empat perempuan lainnya mengenakan “sandurung tapih” penutup kepala khas perempuan Dayak yang diikat dan dilipat sedemikian rupa dari tapih dan tertata rapi. Seorang perempuan di tepi yang lain baru saja melepas penutup kepalanya, lalu ia memberikan senyum terbaiknya.

Itulah foto sampul buku berjudul “Meratus, Nyanyi Sunyi di Pegunungan Borneo”. Buku ini ditulis oleh Devi Damayanti, perempuan kelahiran Bandung, 35 tahun lalu. Sampulnya didominasi warna abu-abu berupa foto dan ruang sisanya untuk judul dengan huruf warna merah pada kata-kata ‘MERATUS’ dan sub judulnya yang berwarna hitam. Punggung buku dan sampul belakang didominasi berwarna merah.

Buku bergenre antropolog(i) ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya bersama orang Dayak Meratus. Dalam bukunya ini, ia bercerita bahwa telah berada di Meratus pada tahun 2010 hingga 2012. “Saya merasakan tinggal di pedalaman dan di perkampungan. Saya belajar bahasa Meratus dan memakan masakan Meratus. Saya bukan pengamat, saya terlibat dengan orang-orang Meratus selama kurun waktu itu,” ungkapnya.

Buku setebal xvi + 203 halaman ini, dibagi menjadi tujuh bab. Berisi deskripsi tentang religi orang Meratus, bagaimana menciptakan kerabat, ragam bahasa yang digunakan, hidup keseharian orang Meratus, rangkaian masalah yang dihadapi dewasa ini dan kondisi Meratus pada abad ke-21. Buku ini juga menuliskan kegelisahan mendalam dari Devi, ia mengakui perubahan yang terjadi di masyarakat Dayak Meratus tidak dapat dibendung. Kegelisahan yang ia rasakan, meskipun hanya dua tahun hidup bersama mereka, Devi mampu menuangkannya menjadi tulisan yang menarik untuk dibaca.

Senada dengan Devi, Prof. Bernard Sellato, Antropolog Perancis, pengamat budaya Dayak dalam pengantar buku ini menyatakan keprihatinannya. Penggalan pengantar yang menarik darinya menjadi pesan penting bagi Dayak Meratus dan para pihak, yaitu, “Kini Meratus tak lagi terpencil karena prasarana angkutan telah mencapai wilayah mereka; juga tak lagi terasing karena telah kena pukulan keras arus modernisasi dan globalisasi, antara lain akibat diambil alih tanah dan sumberdaya alam di wilayah mereka oleh pihak-pihak luar, baik perusahaan kayu maupun perkebunan kelapa sawit, yang telah membabat habis sebagian besar hutan tropis mereka. Hanya modernisasi itu terwujud secara terlalu cepat, dengan perubahan dalam kehidupan mereka terlalu hebat, sehingga masyarakat gagap menanggapinya.” (Hlm. vii).

Sebagai seorang bersuku Dayak Ngaju, saya pun merasakan kegelisahan yang sama. Kerusakan lingkungan alam, sosial, budaya dan manusia Meratus, persis sama–terjadi juga di Kalimantan Tengah. Solusi yang ditawarkan Devi dimulai dari titik tolak orang Meratus sebagai subjek atau pelaku perubahan itu sendiri. Ia menyuarakan agar masyarakat Dayak Meratus harus sadar, bahwa kondisi sudah berubah. Pendidikan yang membebaskan orang-orang Meratus, yang memanusiakan manusia Meratus (baca: pendidikan untuk membangun kampung halaman) menjadi kunci untuk menjawab persoalan yang ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *