DAYAK MERATUS DALAM JERAT MODERNISASI DAN GLOBALISASI

289 Views

Buku: Meratus, Nyanyi Sunyi di Pegunungan Borneo
Penulis: Devi Damayanti
Kata Pengantar: Prof. Bernard Sellato
Penerbit Lamalera, Bantul–Yogyakarta.
ISBN: 978-979-25-4853-7
Tahun terbit: 2016.
Peresensi: Rokhmond Onasis

Lima perempuan dewasa dan satu anak kecil duduk rapi di tengah ladang. Seorang perempuan duduk paling tepi memegang sepucuk rokok. Sedangkan empat perempuan lainnya mengenakan “sandurung tapih” penutup kepala khas perempuan Dayak yang diikat dan dilipat sedemikian rupa dari tapih dan tertata rapi. Seorang perempuan di tepi yang lain baru saja melepas penutup kepalanya, lalu ia memberikan senyum terbaiknya.

Itulah foto sampul buku berjudul “Meratus, Nyanyi Sunyi di Pegunungan Borneo”. Buku ini ditulis oleh Devi Damayanti, perempuan kelahiran Bandung, 35 tahun lalu. Sampulnya didominasi warna abu-abu berupa foto dan ruang sisanya untuk judul dengan huruf warna merah pada kata-kata ‘MERATUS’ dan sub judulnya yang berwarna hitam. Punggung buku dan sampul belakang didominasi berwarna merah.

Buku bergenre antropolog(i) ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata penulisnya bersama orang Dayak Meratus. Dalam bukunya ini, ia bercerita bahwa telah berada di Meratus pada tahun 2010 hingga 2012. “Saya merasakan tinggal di pedalaman dan di perkampungan. Saya belajar bahasa Meratus dan memakan masakan Meratus. Saya bukan pengamat, saya terlibat dengan orang-orang Meratus selama kurun waktu itu,” ungkapnya.

Buku setebal xvi + 203 halaman ini, dibagi menjadi tujuh bab. Berisi deskripsi tentang religi orang Meratus, bagaimana menciptakan kerabat, ragam bahasa yang digunakan, hidup keseharian orang Meratus, rangkaian masalah yang dihadapi dewasa ini dan kondisi Meratus pada abad ke-21. Buku ini juga menuliskan kegelisahan mendalam dari Devi, ia mengakui perubahan yang terjadi di masyarakat Dayak Meratus tidak dapat dibendung. Kegelisahan yang ia rasakan, meskipun hanya dua tahun hidup bersama mereka, Devi mampu menuangkannya menjadi tulisan yang menarik untuk dibaca.

Senada dengan Devi, Prof. Bernard Sellato, Antropolog Perancis, pengamat budaya Dayak dalam pengantar buku ini menyatakan keprihatinannya. Penggalan pengantar yang menarik darinya menjadi pesan penting bagi Dayak Meratus dan para pihak, yaitu, “Kini Meratus tak lagi terpencil karena prasarana angkutan telah mencapai wilayah mereka; juga tak lagi terasing karena telah kena pukulan keras arus modernisasi dan globalisasi, antara lain akibat diambil alih tanah dan sumberdaya alam di wilayah mereka oleh pihak-pihak luar, baik perusahaan kayu maupun perkebunan kelapa sawit, yang telah membabat habis sebagian besar hutan tropis mereka. Hanya modernisasi itu terwujud secara terlalu cepat, dengan perubahan dalam kehidupan mereka terlalu hebat, sehingga masyarakat gagap menanggapinya.” (Hlm. vii).

Sebagai seorang bersuku Dayak Ngaju, saya pun merasakan kegelisahan yang sama. Kerusakan lingkungan alam, sosial, budaya dan manusia Meratus, persis sama–terjadi juga di Kalimantan Tengah. Solusi yang ditawarkan Devi dimulai dari titik tolak orang Meratus sebagai subjek atau pelaku perubahan itu sendiri. Ia menyuarakan agar masyarakat Dayak Meratus harus sadar, bahwa kondisi sudah berubah. Pendidikan yang membebaskan orang-orang Meratus, yang memanusiakan manusia Meratus (baca: pendidikan untuk membangun kampung halaman) menjadi kunci untuk menjawab persoalan yang ada.

Sisi menarik lainnya pada hlm. 120-121, dipaparkan sepintas tentang keberadaan Credit Union (CU). Sebuah lembaga pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbentuk koperasi. Tapi sayang, nama dan tempat CU ini tidak diungkap secara rinci oleh Devi. Manfaat gerakan CU yang dirasakan Dayak Meratus (meskipun belum semua bergabung menjadi anggota) tidak diperhatikan di buku ini. Barangkali, penulis mempunyai alasan tersendiri.
Menurut Sumperi (aktivis CU Bintang Karantika), per 31 Mei 2020, anggota CU Bintang Karantika Meratus sudah mencapai 800 orang, dengan aset sekitar 10 miliar. CU ini sejak Maret 2020 menjadi cabang dari CU Sumber Sejahtera, Kalimantan Selatan, sebelumnya cabang dari CU Sumber Rejeki, Ampah, Kalimantan Tengah.

Tantangan

Berdasarkan pengamatan langsung penulis, tantangan terberat Dayak Meratus terdapat pada sumber daya manusia Dayak Meratus. Pendidikan masih dianggap belum terlalu penting. Hampir 80% orang Dayak Meratus pada usia 30 tahun ke atas tidak dapat baca tulis.

Tidak mengurangi manfaat buku ini, beberapa gambar belum ada keterangan fotonya. Ada kesalahan pada beberapa halaman yang tertinggal cetak. Tumpang tindih antar-halaman, cetakannya tidak bersih sehingga huruf tak terbaca dengan jelas. Ini misalnya terdapat pada hlm. 73, 106, 116, 183, dan 193. Selain itu, terdapat kata-kata dengan ketikan keliru, misalnya ladang menjadi lading, sepertinya luput dari perhatian penulis saat pra cetak.

Buku ini mengajak kita bertanya dan merenung, masih adakah lahan ladang untuk orang Dayak Meratus seperti pada sampul depan buku ini? Masih adakah Bahasa-bahasa Dayak Meratus yang digunakan untuk melestarikan budaya dan terus dituturkan sehari-hari? Masih adakah budaya-budaya Dayak Meratus yang tersisa? Buku ini “wajib” dibaca para pengambil kebijakan dari tingkat kampung, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga negara untuk melihat sisi lain dari kehidupan Dayak Meratus. Semoga. Peresensi adalah kontributor Kalimantan Review wilayah Kalteng.

Editor: R. Giring Malabo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *