Catatan dari Acara Syukuran dan Perayaan 32 Tahun Institut Dayakologi

1.600 Views

Gunui’ mengatakan 32 tahun perjalanan ID layak disyukuri karena meskipun tantangan zaman kini semakin beragam, ID masih eksis. Dalam situasi yang sulit, pada era Pandemi Covid-19 tahun 2020 hingga 2022, ID berusaha keras beradaptasi dengan cara-cara baru dalam berkomunikasi, berkoordinasi dan kerja pendampingan komunitas di lapangan.

baca juga: 29 TAHUN INSTITUT DAYAKOLOGI: REFLEKSI MANDAT, KARYA DAN GLOKALISASI https://kalimantanreview.com/29-tahun-institut-dayakologi-refleksi-mandat-karya-dan-glokalisasi/

“Itu tidak gampang. Kadangkala kita merasa seperti kesia-siaan. Tapi meskipun begitu, kita tak pernah menyerah mewujudkan niat baik dalam melayani komunitas di lapangan agar berpikir kritis tentang situasi lingkungan sosial dan ekologisnya yang kini terus terancam porak poranda. Inilah yang ingin digambarkan dalam tema “Mengukir Cakrawala, Merangkai Semesta” dalam rangka syukuran dan peringatan 32 tahun perjalanan Institut Dayakologi,” tutup Gunui’.

Dalam refleksinya, John Bamba menegaskan bahwa sejak semula tujuan hakiki dari manusia Dayak berkebudayaan yang menjadi mandat utama ID adalah demi mengasah potensi intelektual manusia Dayak agar semakin paham kehidupannya dalam situasi yang berubah, agar manusia Dayak semakin berpikir kritis. Dari tidak tahu menjadi tahu. Keberpihakan dan pembelaan adalah keutamaan.

“Pada intinya tujuan manusia Dayak berkebudayaan adalah manusia Dayak semakin cerdas, semakin toleran, semakin solider, dan semakin bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta tidak gampang tersulut emosinya. Manusia Dayak yang berkebudayaan adalah manusia Dayak yang semakin memiliki kepekaan sosial dan semakin paham hakikat tujuan hidupnya seutuhnya,” pungkas John Bamba.

Sedangkan Albert Rufinus mengharapkan agar seluruh elemen ID tetap selalu kompak, mempertahankan kebersamaan, menghargai perbedaan. Hal tersebut memungkinkan ID bisa bertahan sampai dengan 32 tahun ini.

“Tanpa semangat kebersamaan, menghargai perbedaan dalam potensi dan kapasitas masing-masing, sebuah organisasi akan sulit berkelanjutan. Kami adalah sosok aktivis ID masa lalu. Bagaimana Anda membayangkan ID dan aktivis ID masa mendatang? Untuk itu segala potensi dan kapasitas diri mesti dieksplor dalam cara-cara berpikir, bersikap dan bertindak yang selalu tanggap zaman secara kritis,” pesan Albert.

Cikal Bakal Institut Dayakologi

Cikal bakal ID dimulai pada 1988/1989, saat Biro LITBANG YKSPK membentuk Kelompok Studi IDRD. Di bawah naungan YKSPK, Kelompok studi ini melakukan kajian berperspektif kritis atas berbagai dampak pembangunan terhadap Masyarakat Adat Dayak yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru.

ID memiliki ikatan kesejarahan dan ideologi tak terpisahkan dengan YKSP. Tanggal 21 Mei 1991 Institut Dayakologi didirikan secara resmi dengan nama LP3S-IDRD. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *