Telah Dibentuk Jaringan Perempuan Adat Kalimantan

1.708 Views
  1. Setiap perempuan adat memiliki potensi diri;
  2. Potensi itu jika digabungkan menjadi satu kekuatan besar untuk mencapai tujuan;
  3. Kelompok bisa menjadi wadah bagi perempuan untuk meraih kesempatan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, komunikasi, bertukar informasi dan pengalaman;
  4. Perempuan adat menjadi lebih percaya diri, pekerjaan lebih ringan jika dilakukan bersama-sama;
  5. Membuka peluang keterlibatan aktif perempuan di ruang publik;
  6. Mendorong lahirnya kepemimpinan perempuan.

SPA mengembangkan strategi khusus untuk mengoptimalkan potensi tersebut, di antaranya dengan terus membangun kesadaran kritis, meningkatkan pengetahuan maupun keterampilan perempuan adat.

Respon yang relevan misalnya adalah dengan diskusi kritis mengenai hak asasi perempuan dan hak sebagai warga di komunitasnya, penyadaran gender, dan mengidentifikasi peran perempuan dalam pengelolaan SPA di komunitas masing-masing.

Selain itu, tetap diperlukan peningkatan pengetahuan tentang perubahan iklim, kepemimpinan perempuan dan belajar dari pengalaman perempuan adat dari wilayah lain, identifikasi keanekaragaman hayati dan potensi produk lokal berbasis sumber daya alam untuk diolah dan dikelola dengan pendekatan ekonomi kreatif sehingga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi keluarga.

Peristiwa Bersejarah

Ini peristiwa bersejarah karena perempuan adat Kalimantan meletakkan tonggak pergerakkannya dalam jaringan. Tanggal 3 Desember 2022, bertempat di Gedung PSE KAP, para aktivis perempuan adat berikrar, menyatukan tekad, komitmen dan berjuang bersama dalam Jaringan Perempuan Adat Kalimantan.

Dari proses Semiloka Perempuan Adat, peserta yang berasal dari berbagai wilayah saling menginspirasikan satu sama lain. Beragam pengalaman dan kisah inspirasi yang dibagikan memotivasi semangat pergerakkan para perempuan adat. Mereka bertekad menyatukan kekuatan bersama dalam jaringan gerakan yang lebih luas.

Pengalaman SPA beberapa tahun ini cukup menjadi bekal bagi para aktivis perempuan adat dari berbagai wilayah di Kalbar itu menyatukan langkah membentuk wadah perjuangan bersama. Paling tidak untuk memperkuat dan memperluas dampak SPA di komunitas-komunitas adat masing-masing.

Potensi lainnya yaitu 13 (tiga belas) organisasi lokal simpul perempuan adat di 6 daerah kabupaten di Kalbar. Organisasi lokal perempuan adat tersebut telah dibentuk dalam kegiatan SPA berkolaborasi dengan lembaga pendamping yaitu ID, LBBT, PPSDAK, CU FPPK, CU CA, dan Walhi Kalbar.

Pembentukan Jaringan Perempuan  Adat  Kalimantan difasilitasi Direktur Institut Dayakologi, Krissusandi Gunui’. Jaringan ini diharapkan menjadi wadah  pengembangan  dan konsolidasi seluruh organisasi lokal yang telah terbentuk.

Di wadah ini nantinya, para kader pemimpin perempuan adat dapat saling mengkonsultasikan persoalan-persoalan di komunitasnya, membagi informasi dan saling membantu menemukan strategi untuk meningkatkan kualitas pelibatan perempuan adat dalam penglolaan hutan dan lahan secara adil dan berkelanjutan khususnya dalam program Perhutanan Sosial yaitu Hutan Adat serta berpartisipasi dalam pengelolaan anggaran berbasis ekologi yang lestari

Pelajaran

Dua pelajaran berharga dari proses SPA. Pertama, strategi  awal dengan mengeksklusifkan perempuan sangat membantu proses pembentukkan rasa percaya diri perempuan dalam menyuarakan haknya;

Kedua, perempuan secara kritis menyadari bahwa ketidakadilan dikarenakan sistem yang tidak mendukung dan terkait dominasi budaya patriarki;

Ketiga: berdasarkan pelajaran pertama dan kedua di atas, maka untuk memperkuat, meningkatkan dan memperluas kiprah dan dampak dari perempuan adat, maka dibutuhkan wadah perjuangan bersama berupa jaringan perempuan adat. Intinya, sinergitas dan kolaborasi adalah semakin dibutuhkan saat ini dan ke depannya.

Diharapkan ke depannya ini semakin memperluas jaringan kerja gerakan perempuan adat di seluruh wilayah Kalimantan. Semoga Jaringan ini selalu mampu menyatukan komitmen dan memelihara motivasi dan semangat belajar bersama untuk peningkatan kualitas partisipasi perempuan adat dalam tata sosial ekologis di Kalimantan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Tantangan berorganisasi dalam menyatukan komitmen dan pendapat secara profesional dan bermartabat dapat dijawab dengan ketekunan, kesamaan pandang serta semangat belajar yang terus berkobar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *