Selamat Jalan Hendrikus Adam . . .

Adam mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil dan kelestarian lingkungan. Ia layak disebut aktivis yang komplit. Opininya sering publis di beberapa media daerah, antara lain Pontianak Post, Kalimantan Review, Majalah DUTA. Adam bukan hanya menuliskan gagasan atau ide-ide, tapi ia melaksanakannya.
Adam merupakan salah satu sosok aktivis yang gigih. Aktivis yang hidup dalam nilai-nilai yang diperjuangkannya. Meski gerakan masyarakat sipil kini semakin penuh tantangan, Adam tetap teguh komitmennya, berpihak pada rakyat kecil, berintegritas dalam bertindak, serta setia pada prinsip keadilan ekologis.
Tantangan terberat ialah kekuasaan dan harta. Dalam sebuah kasus penambangan di satu daerah kabupaten di Kalimantan Barat, dia secara gamblang memprotesnya dengan terbuka. Beberapa saat kemudian, dia beberapa kali didatangi beberapa orang dan menjanjikannya gratifikasi yang nilai materinya tidak kaleng-kaleng asalkan dia stop memprotes lagi. Tentu saja dia tolak halus dan tegas. Sungguh sosok aktivis yang tidak mudah tergoda untuk kompromi dan pragmatis.
Adam mendedikasikan hidupnya dalam berbagai advokasi lingkungan di KALBAR, bumi Khatulistiwa yang kerap disorot karena laju deforestasi akibat ekspansi sawit, HTI, tambang, dan berbagai konflik agraria.
Dia membangun analisa kritiknya dengan intelektualitas dan argumen yang jernih, kental pendekatan HAM dan keadilan sosial. Terutama terhadap kebijakan-kebijakan yang merusak lingkungan dan mengorbankan masyarakat kecil, Masyarakat Adat dan peladang gilir balik berkearifan lokal. “Peladang bukan penjahat!” tegasnya.
Dengan gaya bicaranya yang santai dan tenang, dia senang berdiskusi, membangun jaringan yang luas, dan dekat dengan anak-anak muda. Dari semua pengalamannya sebagai aktivis, Adam telah memberi pesan solidaritas untuk perjuangan keadilan ekologis dan kemanusiaan universal.
Selamat jalan HENDRIKUS ADAM….

