Pakaian Tradisional Dayak Iban Sarawak
Begitu juga dengan kaum wanita di mana mereka mempunyai pakaian tersendiri dikenali sebagai Ngepan Indu. Mereka akan memakai sugu tinggi, marik empang dan membawa buah pauh. Ngepan Indu diperbuat daripada bahan seperti fabrik, logam, kulit, kerubung, bulu, tisik, tulang, tangkung, marik, runut, kayu, getah dan buluh. Misalnya, Janet Rata Noel (1991) semasa Traditional Costume Workshop pernah mengusulkan cadangan untuk mementukan jenis pakaian wanita tradisional Iban yang disifatkan lengkap sebagai satu panduan.
Berikut adalah tradisi lisan dalam bahasa Iban yang menggambarkan pemakaian pakaian wanita sebelum mereka berkunjung atau ngabang ke rumah panjang yang lain untuk tujuan pertemuan (majlis keramaian). Dipetik dari Henry Gerijih (1963), Borneo Literature Bureau (Hlm. 101):
“Dipasukka sida ke indu kain keberaya
Beria tampak mandang
Dipasukka kain bebuah mua pemanah nadai lapang
Dipasukka sida kain tating bakasering sanggit
Keliling mata wang
Lalu disimpul sanggul lepi sekali ulak rerembak sugu tinggi
Baka engkerejak tiang empang
Dipasuk ka rawai nyanggit kerigai rusuk marang
Ditambit sida iya lampit kunchi belulang
Dipanggai kai sida pampai tikal belepi
Diamba kai pua kaul sekali”.
Antara Nilai Ekonomi dan Tantangan Tuntutan Kualitas dan Hibridasi Budaya
Salah satu manfaat dari mempertahankan (mengekalkan) pakaian tradisional kaum Iban ialah bahwa ia boleh meningkatkan ekonomi masyarakat tersebut. Dengan mewarisi budaya tersebut mereka boleh melibatkan diri dalam perniagaan seperti dalam sektor pariwisata (pelancongan).
Pakaian tradisional juga dapat digunakan untuk membuat pertunjukkan kepada turis atau pelancong yang datang berkunjung. Pada masa yang sama ia juga dapat dipertunjukkan kepada masyarakat dunia melalui media dan juga persembahan ke negara tersebut. Masyarakat Iban juga boleh terlibat dalam pameran di tingkat internasional atau mengambil bagian dalam pertunjukkan internasional untuk menonjolkan pakaian tradisional tersebut. Penglibatan seperti ini sudah tentunya mampu membuka peluang pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat Iban.
Pembangunan dalam sektor pariwisata (pelancongan) juga dapat membawa bersama-sama bentuk pembangunan yang lain seperti penyediaan kemudahan akses kepada masyarakat pedesaan. Secara tidak langsung, akhirnya ia akan menguntungkan banyak pihak di kawasan pedesaan khususnya kaum Dayak. Mereka mampu menjadi “Main Player” dengan menghasilkan “Tourism Oriented Products” dan pakaian tradisional adalah sebagian saja dari produk tersebut.
Selain dari sektor pariwisata (pelancongan) masyarakat Iban juga dapat berpartisipasi aktif dalam Digital Ekonomi dalam aspek perniagaan pakaian tradisional secara online untuk menjual produk mereka ke tingkat internasional. Pada hari ini platform yang wujud tersedia melalui IR4.0 ternyata memberi ruang dan peluang kepada semua orang untuk terlibat dengan perniagaan.
Sudah tentunya perniagaan yang luas jaringannya seperti ini menuntut penghasilan produk yang berkualitas dan pengiriman atau delivery serta pengelolaan yang menarik. Masyarakat Iban dapat belajar dan mempelajari aspek-aspek penting dalam perniagaan di tingkat internasional yang menekankan kualitas untuk memungkinkan daya saing.
Untuk menarik para pelancong satu galeri tentang pakaian tradisional juga boleh diwujudkan. Ini akan memberi peluang kepada orang luar atau kaum lain untuk lebih paham tentang pakaian tradisonal Iban.
Selain daripada itu pusat galeri juga boleh menyedikan tempat untuk mereka yang berminat memakai pakaian tradisional Iban untuk mengambil foto kenangan mereka. Ini adalah teknik yang selalu digunakan di beberapa negara di luar negeri.
Namun demikian kesan buruk yang boleh dialami oleh budaya dan pakaian tradisional kaum Iban ialah apa yang dikatakan sebagai “hybridization of culture” di mana pakaian tersebut tidak dipakai dengan betul atau pakaian tidak lengkap.
Lebih lanjut apabila pakaian tersebut menjadi komoditas untuk dipasarkan atau “commodidifiocation” sudah tentunya ia akan mengubah identitas sesungguhnya karena ianya dibuat untuk memenuhi pasaran yang berdasarkan permintaan.
Ini menyebabkan keaslian pakaian tersebut akhirnya akan pudar—satu di antara tantangan (cabaran) yang perlu dihadapi apabila pakaian tradisional menjadi komoditi untuk dipasarkan di tingkat internasional.
Harus Dikembangkan dan Tak Boleh Dihina
Sejatinya penting untuk mempertahankan (mengekalkan) pakaian tradisional etnik masing-masing. Masyarakat Iban di Sarawak, baik secara individu maupun di dalam berbagai kelompok sedang berusaha mempertahankan dan mengembangkan pakaian tradisional Iban sebagai identitas mereka.
Seperti yang dinyatakan dalam The United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP Article 31 1. Indigenous peoples have the right to maintain, control, protect and develop their cultural heritage, traditional knowledge and traditional cultural expressions, as well as the manifestations of their sciences, technologies and cultures, including human and genetic resources, seeds, medicines, knowledge of the properties of fauna and flora, oral traditions, literatures, designs, sports and traditional games and visual and performing arts.
Oleh karena itu, tiada siapa pun yang berhak untuk menghina atau menertawakan (mempersendakan) pakaian tradisional kaum yang lain termasuk pakaian tradisional kaum Iban. []

