Pakaian Tradisional Dayak Iban Sarawak

681 Views

Oleh: Profesor Madya Dr. Neilson Ilan Mersat – Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan Universitas Malaysia, Sarawak.

Setiap kaum yang beragam dalam sebuah negara itu mempunyai budaya, adat dan begitu juga dengan pakaian tradisional masing-masing. Lebih daripada itu, mereka mempunyai hak untuk mengekalkan budaya adat dan bahasa mereka sebagaimana termaktub dalam persetujuan Deklarasi Universal tentang Hak-hak Masyarakat Adat atau The United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP) yang diterima oleh Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Thursday, 13 September 2007

Pembentangan dan penerimaan resolusi tersebut sangat penting untuk kumpulan indigenous yang mendiami sebuah negara. Ini karena persetujuan tersebut melindungi hak mereka untuk mengamalkan adat, budaya dan warisan masing-masing yang menjadi identitas mereka.

Kajian-kajian awal di tempat-tempat lain mendapati bahwa pakaian tradisional mempunyai kaitan erat dengan identitas suatu kelompok. Menurut Karen Tanberg Hansen (2004) pakaian suatu kaum itu berkait erat dengan budaya mereka. Malah pakaian juga boleh menimbulkan konflik disebabkan perbedaan dari segi nilai.  Menurut suku Sakada di Andean pakaian mereka adalah ethnic marker untuk membedakan mereka dengan kumpulan yang lain. Begitu juga dengan kumpulan Maya di Guatemela di mana pakaian tradisional mereka dikenali sebagai Traje penting untuk identitas mereka. Begitu juga dengan beberapa suku kaum di Peru.

Di Benua Afrika, pakaian loose gown juga dilihat sebagai identitas mereka. Dengan menggunakan pakaian yang sama juga boleh merapatkan generasi yang berbeda di antara kaum. Misalnya, dengan memakai pakaian yang sama mereka lebih mudah untuk berinteraksi atau berbincang dengan satu sama lain karena merasa bahwa mereka adalah dalam kumpulan yang sama. Di India pakaian sari dijadikan identitas negara itu. Di negara China, pakaian tradisional qi pao, dan di Vietnam pakaian ao dai. Pakaian kimono di kalangan orang Jepang.

Di Kepulanan Pasifik, pakaian tradisional digunakan pada saat upcara adat dan kebudyaaan. Di kalangan orang Islam pakaian mereka juga melambangkan agama mereka. Pakaian tradisional juga biasa digunakan pada saat kontes kecantikan (pertandingan ratu cantik).  Misalnya di negara Jerman dan Kanada mereka menganjurkan pertandingan pakaian etnik. 

Bagi suku kaum Iban di Sarawak juga mempunyai pakaian tradisional untuk lelaki dan juga wanita. Pakaian tradisional tersebut bukan saja sebagai identitas mereka, malah terkait erat dengan budaya dan adat mereka. Misalnya, dengan memakai baju burung adalah merupakan identitas seseorang Iban. Sekiranya seseorang memakai baju tersebut sudah pasti anggapan ialah bahwa baju tersebut adalah baju tradisional orang Iban. Pakaian juga perlu digunakan dengan betul. Misalnya sekiranya sejenis tikar (tikar duduk) itu digunakan di bagian belakang, tidak boleh digunakan di bagian depan seseorang. 

Berikut adalah tradisi lisan dalam bahasa Iban yang menggambarkan pemakaian pakaian tradisional Iban oleh lelaki sebelum mereka berkunjung atau ngabang ke rumah panjang yang lain untuk tujuan pertemuan. 

Dipetik dari Norman Rundu Pitok (1966), Salumpong Karong Besi, Borneo Literature Bureau (Hlm. 15):

“Pasok ka iya engkerimok

Nyentok di pelepetan puang

Pasok ka iya unus bagus

Baka Beketan Tulus pulai belelang

Pasok ka iya tenggak anggup dedekup

Baka kala idup nyepit rangang-rangang

Pasok ka iya tumpa ngena

Baka ke manggum bara api setekang

Udah nya baru iya masukka baju beludu

Tenun indu antu ari Ulu Tampun Tulang

Udah nya baru iya masuk ka kulit kijang langit

Baka ke tau ngigit satetak sarang

Udah nya baru iya nangkin pengaruh gembar tuboh

Penyangga nyawa mali tumbang

Udah nya baru iya nangkin berangin parang ilang

Lalu dikena iya tempuga bulu bekia labang

 Dijapai iya sangkuh sumpit

Lilit riris direjang”.  

Penulis berfoto Bersama para lelaki iban yang memakai pakaian tradisional ngepan lelaki iban. Kredit Foto: Dok. Pribadi.

Begitu juga dengan kaum wanita di mana mereka mempunyai pakaian tersendiri dikenali sebagai Ngepan Indu. Mereka akan memakai sugu tinggi, marik empang dan membawa buah pauh. Ngepan Indu diperbuat daripada bahan seperti fabrik, logam, kulit, kerubung, bulu, tisik, tulang, tangkung, marik, runut, kayu, getah dan buluh. Misalnya, Janet Rata Noel (1991) semasa Traditional Costume Workshop pernah mengusulkan cadangan untuk mementukan jenis pakaian wanita tradisional Iban yang disifatkan lengkap sebagai satu panduan.

Berikut adalah tradisi lisan dalam bahasa Iban yang menggambarkan pemakaian pakaian wanita sebelum mereka berkunjung atau ngabang ke rumah panjang yang lain untuk tujuan pertemuan (majlis keramaian). Dipetik dari Henry Gerijih (1963), Borneo Literature Bureau (Hlm. 101):

“Dipasukka sida ke indu kain keberaya

Beria tampak mandang

Dipasukka kain bebuah mua pemanah nadai lapang

Dipasukka sida kain tating bakasering sanggit 

Keliling mata wang 

Lalu disimpul sanggul lepi sekali ulak rerembak sugu tinggi

Baka engkerejak tiang empang

Dipasuk ka rawai nyanggit kerigai rusuk marang

Ditambit sida iya lampit kunchi belulang

Dipanggai kai sida pampai tikal belepi

Diamba kai pua kaul sekali”.

Antara Nilai Ekonomi dan Tantangan Tuntutan Kualitas dan Hibridasi Budaya 

Salah satu manfaat dari mempertahankan (mengekalkan) pakaian tradisional kaum Iban ialah bahwa ia boleh meningkatkan ekonomi masyarakat tersebut. Dengan mewarisi budaya tersebut mereka boleh melibatkan diri dalam perniagaan seperti dalam sektor pariwisata (pelancongan). 

Pakaian tradisional juga dapat digunakan untuk membuat pertunjukkan kepada turis atau pelancong yang datang berkunjung. Pada masa yang sama ia juga dapat dipertunjukkan kepada masyarakat dunia melalui media dan juga persembahan ke negara tersebut. Masyarakat Iban juga boleh terlibat dalam pameran di tingkat internasional atau mengambil bagian dalam pertunjukkan internasional untuk menonjolkan pakaian tradisional tersebut. Penglibatan seperti ini sudah tentunya mampu membuka peluang pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat Iban.

Pembangunan dalam sektor pariwisata (pelancongan) juga dapat membawa bersama-sama bentuk pembangunan yang lain seperti penyediaan kemudahan akses kepada masyarakat pedesaan. Secara tidak langsung, akhirnya ia akan menguntungkan banyak pihak di kawasan pedesaan khususnya kaum Dayak. Mereka mampu menjadi “Main Player” dengan menghasilkan “Tourism Oriented Products” dan pakaian tradisional adalah sebagian saja dari produk tersebut.

Selain dari sektor pariwisata (pelancongan) masyarakat Iban juga dapat berpartisipasi aktif dalam Digital Ekonomi dalam aspek perniagaan pakaian tradisional secara online untuk menjual produk mereka ke tingkat internasional. Pada hari ini platform yang wujud tersedia melalui IR4.0 ternyata memberi ruang dan peluang kepada semua orang untuk terlibat dengan perniagaan. 

Sudah tentunya perniagaan yang luas jaringannya seperti ini menuntut penghasilan produk yang berkualitas dan pengiriman atau delivery serta pengelolaan yang menarik. Masyarakat Iban dapat belajar dan mempelajari aspek-aspek penting dalam perniagaan di tingkat internasional yang menekankan kualitas untuk memungkinkan daya saing.   

Untuk menarik para pelancong satu galeri tentang pakaian tradisional juga boleh diwujudkan. Ini akan memberi peluang kepada orang luar atau kaum lain untuk lebih paham tentang pakaian tradisonal Iban. 

Selain daripada itu pusat galeri juga boleh menyedikan tempat untuk mereka yang berminat memakai pakaian tradisional Iban untuk mengambil foto kenangan mereka. Ini adalah teknik yang selalu digunakan di beberapa negara di luar negeri.

Namun demikian kesan buruk yang boleh dialami oleh budaya dan pakaian tradisional kaum Iban ialah apa yang dikatakan sebagai “hybridization of culture” di mana pakaian tersebut tidak dipakai dengan betul atau pakaian tidak lengkap. 

Lebih lanjut apabila pakaian tersebut menjadi komoditas untuk dipasarkan atau “commodidifiocation” sudah tentunya ia akan mengubah identitas sesungguhnya karena ianya dibuat untuk memenuhi pasaran yang berdasarkan permintaan. 

Ini menyebabkan keaslian pakaian tersebut akhirnya akan pudar—satu di antara tantangan (cabaran) yang perlu dihadapi apabila pakaian tradisional menjadi komoditi untuk dipasarkan di tingkat internasional. 

Harus Dikembangkan dan Tak Boleh Dihina

Sejatinya penting untuk mempertahankan (mengekalkan) pakaian tradisional etnik masing-masing. Masyarakat Iban di Sarawak, baik secara individu maupun di dalam berbagai kelompok sedang berusaha mempertahankan dan mengembangkan pakaian tradisional Iban sebagai identitas mereka. 

Seperti yang dinyatakan dalam The United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP Article 31 1. Indigenous peoples have the right to maintain, control, protect and develop their cultural heritage, traditional knowledge and traditional cultural expressions, as well as the manifestations of their sciences, technologies and cultures, including human and genetic resources, seeds, medicines, knowledge of the properties of fauna and flora, oral traditions, literatures, designs, sports and traditional games and visual and performing arts.  

Oleh karena itu, tiada siapa pun yang berhak untuk menghina atau menertawakan (mempersendakan) pakaian tradisional kaum yang lain termasuk pakaian tradisional kaum Iban. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *