Nikmatnya “Menyandau Durian”

2.776 Views

Tradisi menyandau durian masih ada, dan tentu saja sangat tergantung dengan keberadaan tembawang. Seiring berjalannya waktu, di mana penduduk bertambah, kehidupan sosial ekonomi semakin berubah, maka tradisi menyandau durian ini berpotensi dikembangkan menjadi objek wisata etno-ekologi yang bisa memberikan peluang peningkatan kesejahteraan bagi warga setempat.

Aksesibilitas suatu daerah dari tahun ke tahun semakin terbuka. Ini membuka arus mobilitas orang dan barang semakin ramai dari/ke Desa Pengatapan Raya. Jika hutan tembawang durian masih terjaga dengan baik, maka niscaya kerinduan orang akan sensasi cita rasa durian lokal akan terobati.

Apalagi di desa kami ini masih bisa ditemukan cukup banyak durian dengan beragam varietasnya. Ini tentu saja harus diperbanyak lagi, hingga jenis durian (yang biasa), “teratungan”, “malui”, “malui pekawai”, dan “kusik” hingga aneka buah khas lokal lainnya. Hasil dari menyandau cukup untuk membuat tempoyak.

Tempoyak, Hubungan antargenerasi

Tempoyak merupakan salah satu jenis makanan khas Orang Dayak yang bahan utamanya durian dan dibuat dengan teknik permentasi. Bagaimana caranya membuat tempoyak, tentulah sangat gampang. Pertama-tama kita cukup memisahakan daging durian dari bijinya. Tangan harus dicuci bersih dan tidak boleh basah. Siapkan wadah atau tempat yang bersih, kering misalnya toples. Lalu daging durian yang sudah dipisahkan dari bijinya dicampur dengan garam, kemudian masukkan ke dalam toples tadi. Tutup rapat dan diamkan paling tidak 5-7 hari agar permentasinya tetap berproses.

Tempoyak bisa disajikan dalam berbagai cara. Bisa hanya digoreng saja dengan sedikit bawang dan cabai. Bisa juga sesendok tempoyak dijadikan bumbu penyedap rasa pada masakkan berkuah seperti ikan maupun daging sehingga aromanya semakin aduhai, dan pastinya akan menambah selera.

Melalui tulisan singkat ini, penulis berharap warga masyarakat di Desa Pengatapan Raya, Kec. Tumbang Titi agar menjaga potensi buah-buahan di hutannya yang masih tersisa. Lestarikan potensi durian dari hutan kita yang masih tersisa untuk generasi penerus kita karena mereka juga punya hak menikmatinya agar hubungan antar-generasi tidak terputus.

Generasi muda Tumbang Titi, terutama dari Desa Pengatapan harus menanam kembali seluruh varietas durian lokal sebagai pengganti pohon-pohon durian yang sudah berumur lebih seratusan tahun. Kita harus menyelamatkannya dari kepunahan. Kelak itu semua menjadi bukti peninggalan kita kepada generasi penerus kita dan sebagai ikatan hubungan antargenerasi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau tidak kita sendiri yang memulai melakukannya, siapa lagi?

Menyandau durian merupakan aktivitas bersama yang sangat menyenangkan. Selain karena kita bisa berinteraksi dengan alam, menyandau juga pada sangat relevan untuk memperkuat kebersamaan keluarga dan mewujudkan relasi kekeluargaan dengan warga setempat. Semoga.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *