Nganjatn: Menajar Niat dan Ungkapan Syukur Dayak Laman Sepiri
Sembari menunggu 7 putaran menari, perempuan-perempuan paruh baya menyiapkan bahan-bahan ritual adat dengan meringgit merorap (mengukir daun kelapa muda untuk hiasan balai di keramat) dan menganyam ketupat.

Sebagian laki-laki bertugas memotong babi dan ayam, separuh babi dan ayam untuk di bawa ke keramat sebagai persembahan kepada Dowata Sangiang. Separuhnya kemudian untuk persediaan lauk bersama di rumah adat. Beberapa laki-laki yang lainnya berangkat ke keramat terlebih dahulu untuk mendekorasi tempat keramat dengan menyasak nyalas (memagar keramat menggunakan bambu.
Di sana, mereka membuat rumah balai tempat umpan pakat atau persembahan kepada Dowata Sangiang yang akan diisi antara lain dengan nulangk 7 pangkat (beras yang diletakkan di piring), batang benuang 7 batang, sanggek ketupek, paha kiri kanan dan dada lidah babi dan ayam panggang 7 ekor serta ayam hidup 1 ekor untuk pemangat.
Sementara itu, setelah 6 kali putaran menari di rumah adat, maka untuk tarian putaran ke-7 dilanjutkan oleh Mantir Dowata bersama Pabayunya sebagai tanda bahwa tiba saatnya seluruh warga masyarakat bersama-sama pergi menuju keramat yang dipimpin langsung oleh pemimpin ritual adat yakni Mantir Dowata bersama Pabayu.
Sebelum berangkat, Mantir Dowata dan Pabayu menaburkan beras kuning dengan iringan mantra-mantra untuk memberitahu dan sekaligus meminta perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan, meminta cuaca yang baik kepada Dowata Sangiang sehingga ritual adat di keramat terlaksana tanpa hambatan.
Menari Di Keramat Banuah, Menyambangi Orang Limun
Sesaat sebelum berangkat, tak lupa Mantir Dowata menjelaskan syarat-syarat dan pantangan yang harus dipatuhi kepada seluruh warga yang ikut. Perjalanan menuju tempat keramat di Nate Benuah dilakukan dengan menggunakan perahu motor yang diiringi musik kanjatn di sepanjang perjalanan.
Tiba di tempat keramat, isteri Mantir Dowata dan isteri Pabayu menghias balai dengan daun kelapa muda yang telah diukir oleh para perempuan tadi, lantas mengisinya dengan beras nulakng sebanyak 7 pangkatseraya meletakkan persembahan lainnya di dalam balai tersebut.
Selanjutnya sang Sutaragi (si pengatur acara) menyerahkan kain penari kepada Mantir Dowata dan Pabayunya sebagai penari pertama. Mereka menari tarian kanjatn bersama pasangannya masing-masing, mengelilingi pohon keramat sebanyak 5 lobuh (5 putaran). Usai menari 5 kali putaran, Mantir Dowata menabur mahiakng, menintikng/menuturkan silsilah asal mula keramat banuah.
Tak lupa pula Mantir Dowatamenyampaikan ucapan syukur pada Dowata Sangiang bahwa kampung halamannya dijauhi dari segala marabahaya dan juga syukur atas rezeki yang mereka terima tahun itu. Di momen tersebut, bagi warga yang ingin menyampaikan niatnya bisa disampaikan, misalnya permohonan untuk mendapat rezeki, perlindungan, keselamatan jiwa dan raga, untuk mendapat keturunan, agar sembuh dari penyakit, dan lain sebagainya yang hakikatnya ujud cita-cita baik dari yang bersangkutan.
Kemudian Mantir Dowata menyengkolatn puncak jaro dan batang benuah serta menggantung ancak 7 buah. Istri Mantir Dowata mengisi idakng (ancak yang berukuran besar) dengan dalaman babi (hati, dada lidah, otak dan darah mentah) yang dibungkus dengan daun empanggil, ayam panggang, sanggek ketupek, batang benuang, sirih sebanyak 8 hilipm (8 lembar) dan rokok nipah 7 batang; selanjutnya Mantir Dowata bersama Pabayunya pergi menjumpai kelambu potakng (orang limun), tempatnya di sekitar keramat banuah.
Yang lain tidak boleh ikut serta. Bahkan perempuan tidak boleh ikut serta karena kelambu potakng akan bersembunyi dan itu menyebabkan susah ditemukan oleh Mantir Dowata. Setelah selesai dari kelambu potakng, Mantir Dowata bersama Pabayunya kembali ke tempat keramat utama dan menari tarian terakhir mengelilingi pohon keramat. Usai menari, Mantir Dowata menggoncang-goncang balai tempat persembahan sebanyak 7 kali untuk memberi tahu Dowata Sangiang, dan menabur beras kuning sebagai tanda untuk mengakhiri ritual adat di hutan keramat itu dan meminta permohonan agar selama perjalanan pulang mendapat keselamatan dan kiranya segala permohonan dan persembahan diterima Dowata Sangiang.
Pulang ke Laman, Disambut Meriah
Rangkaian ritual adat di hutan keramat pun selesai, semua warga dan Mantir Dowata pulang membawa dedaunan, antara lain daun ribu-ribu dan daun palem yang diikatkan di kepala sebagai tanda bahwa mereka datang dari hutan keramat. Dalam perjalanan pulang, musik gamelan kanjatn terus dibunyikan hingga rombongan tiba di kampung dan naik rumah adat kembali.
Rombongan Mantir Dowata, Pabayu dan isterinya serta warga yang ikut ke keramat banuah disambut meriah oleh warga yang tidak ikut ke keramat. Penyambutan Mantir Dowata dan rombongan tentu diiringi gamelan tradisonal dan tarian berirama kanjatn. Sesaat kemudian, Mantir Dowata memotong upakng (bambu muda) dengan mandau untuk kemudian naik ke dalam rumah adat. Para penyambut memberikan Mantir Dowata tuak dengan media tanduk kerbau sebagai perlambang menangkal kamang tariu yang dibawa dari keramat. Setelah itu baru giliran rombongan yang ikut ke keramat tadi.
Usai penyambutan, Mantir Dowata dan Pabayunya minum tuak di tempayan tajau dengan gayung tanduk kerbau, kemudian menari dengan tari adat kanjatn sebagai syarat menaikkan Mantir Dowata ke rumah. Mantir Laman (Domong Adat) menyengkolatn palit Mantir Dowata dan Pabayunya serta warga masyarakat yang ikut belapar beata untuk menandai melepas masa berpantang seharian dan diperbolehkan makan nasi.
Terakhir, sebagai penutup keseluruhan rangkaian ritual adat tersebut, sementara seluruh warga masyarakat yang hadir di rumah adat berkumpul di rumah adat Laman Sepiri, Mantir Dowata menjelaskan tentang pantang ponti (larangan-larangan setelah melaksanakan adat). Pantangnya meliputi: tidak boleh marobukng mahumbut menompar mengulat (tidak boleh mengambil rebung, umbut, pakis dan jamur), tidak boleh berkelahi dalam 7 hari selepas acara. Apabila ada di antara warga Masyarakat Adat yang melanggar pantang ponti tadi, maka yang bersangkutan akan dikenakan sanksi adat sesuai dengan pelanggarannya.
Tahun ini, ritual adat nganjatn tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Walaupun di pedalaman, bahaya ancaman pandemi Covid-19 pun telah membatasi keikutsertaan warga dalam ritual syukur ini. Seluruh warga yang hair diperkirakan seminar 200 orang, meliputi warga kampung Laman Sepiri dan kampung-kampung sekitarnya. Tokoh adat yang hadir adalah Bolitn Tobus, Pak Adil dan Pabayunya yakni Pak Loren. (*)

