Nganjatn: Menajar Niat dan Ungkapan Syukur Dayak Laman Sepiri

358 Views

Ritual Najar niat mulakng janji ka Karamat Kompas Tujuh Banuah Lapatn Selinukng Laman Dayak Sepiri di Masa Pandemi Covid-19

Laman Sepiri, Demit-Sandai, KR

Di televisi, di koran-koran, di internet dan media sosial, kita menyaksikan dan membaca tentang pengaruh dan dampak pandemi Covid-19 yang semakin meluas di seluruh dunia. Pengaruh bahaya wabah virus korona mengancam sendi-sendi kehidupan masyarakat di lebih dari 200 negara. Aspek kehidupan yang terdampak meliputi kesehatan, ekonomi, pendidikan, kegiatan keagamaan dan religi serta sosial budaya dan politik.

Pandemi Covid-19, juga mempengaruhi adaptasi Masyarakat Adat Dayak Laman Sepiri di pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dalam menunaikan ritual adat mereka. Betapa tidak, bila di tahun-tahun sebelum wabah Covid-19 melanda dunia, ritual Nganjatn atau najar niat mulakng janji ke keramat Kompas Tujuh Banuah Lapatn senantiasa dilaksanakan pada bulan Mei setiap tahunnya. Tatkala pandemi Covid-19 merebak, tahun 2020 ini ritual adat Nganjatn baru dapat dilaksanakan pada tanggal 25 Agutus 2020 yang lalu. 

Ritual Nganjatn pada hakikatnya bagian dari sistem religi atau kepercayaan Masyarakat Adat Dayak Laman Sepiri. Dalam praktiknya, Masyarakat Adat Dayak Laman Sepiri menajarkan niat-niat dan janji-janji suci mereka ke keramat yang disebut Kompas Tujuh Banuah Lapatn. Praktik sitem religi atau kepercayaan tersebut sudah turun-temurun dan sampai sekarang masih dilaksanakan. Nganjatn menandai ciri dan bentuk spiritual agama asli yang diwariskan leluhur nenek moyang Masyarakat Adat Dayak Laman Sepiri.

Alasan mengapa ritual tersebut dilaksanakan di hutan keramat yang bernama Kompas Tujuh Banuah Lapatn adalah karena hutan keramat itu dipercaya sebagai selinukng laman atau pelindung kampung. Letaknya di Nate Banuah, seberang Laman Sepiri, Desa Demit, Kecamatan Sandai, atau di seberang Kampung Randau Jungkal (Kabupaten Ketapang). Dari kampung Laman Sepiri ke lokasi hutan keramat, perjalanan menggunakan perahu motor, mudik menyusuri jalur Sungai Pawan dengan jarak tempuh lebih kurang 1 kilometer, dilanjutkan dengan berjalan kaki lebih kurang 1,5 kilometer.

Masyarakat Adat Dayak Laman Sepiri menggunakan perahu menyusuri Sungai Pawan menuju hutan keramet. (Foto: Nenny).

Pak Banjing (73 tahun) selaku Mantir Dowata dan Pak Lihan (72 tahun) sebagai Pabayu atau Wakil Mantir Dowata mengatakan Masyarakat Adat Dayak Laman Sepiri percaya bahwa Dowata Sangiang (Tuhan) bersemayam di keramat Kompas Tujuh Benuah Lapatn tersebut. Berkat Dowata Sangiang dapat mengabulkan permohonan untuk kesejukan, kedamaian, dan perlindungan dari segala marabahaya, perolehan rezeki, keselamatan jiwa dan kesehatan bagi seluruh warga baik yang masih menetap di Laman Sepiri maupun mereka yang telah tinggal di luar kampung. 

Di Keramat Kompas Tujuh Banuah Lapatn tersebut tumbuh kokoh pohon-pohon besar yang bermanfaat bagi kehidupan dan keselamatan manusia, yakni 7 batang pohon kompas, dan 8 pohon banuah (shorea sp). Konon, menurut Pak Banjing, batang pohon kompas dan pohon banuah memiliki kisah yang unik. “7 batang pohon kompas itu berasal dari sirih tujuh hilipm (7 gulung), sedangkan 8 batang pohon banuah berasal dari rokok lapatn pucuk (8 batang), pemberian seorang puteri khayangan kepada seorang pemuda bernama Bokor,” jelasnya. 

Diiringi Irama Gondang GamalSyarat dan Pantangan

Ritual adat najar niat mulakng janji ke keramat Kompas Tujuh Banuah Lapatn diiringi irama musik tradisional dari tetabuhan gondang gamal yang disebut kanjatn, dan tarian adat dari sepasang perempuan dan sepasang laki-laki (4 orang). Dahulu kala, irama gondang gamal (musik kanjatn) hanya boleh diperdengarkan pada acara-acara istimewa tertentu saja, termasuk dalam ritual adat di keramat tersebut. “Namun sekarang, ketentuan tersebut lebih longgar. Apabila telah disetujui Mantir Dowata dan setelah ia menabur boras kuning untuk meminta izin kepada Dowata Sangiang di keramat Selinukng, Laman, maka Gamal Kanjatn dapat juga dilakukan di acara-acara tertentu lainnya,” ujar Pak Lihan.   

Seluruh warga Laman Sepiri, dan sejumlah warga yang berasal kampung lain, baik perempuan maupun laki-laki berpartisipasi dan ikut serta dalam ritual adat Ngajatn Najar Niat Mulakng Janji ke keramat tersebut. Peserta ritual yang berasal dari luar Laman Sepiri juga menyampaikan najar niat (minta rejeki/perlindungan), ada juga di antaranya yang membayar niat atas terkabulkannya permohonan sebelumnya.

Mereka yang membayar niat harus memenuhi syarat-syarat berupa tuak beniang, babi sikuk, ancak sebidanglengkap dengan isinya seperti sanggek ketupek lokat hitam jawa nyolik, panggang ayam serta telur masak (rebus). Kemudian, berlaku pula pantangan, di mana Mantir Dowata dan Pabayunya serta warga yang baniat/bapintaq wajib menjalankan puasa. Selama sehari penuh berlaku larangan makan nasi, makan garam dan makanan yang mengandung penyedap makanan maupun garam, kecuali hanya minum tuak. 

Untuk menandai pelaksanaan ritual, Mantir Dowata manabur mehiakng (beras yang diberi warna dengan kunyit). Beras kuning adalah perantara, sebagai pemberitahuan kepada Dowata Sangiang (penguasa alam semesta). Sesaat kemudian, Mantir Laman (Domong Adat) pun menyengkolatn – menandai alat-alat musik gamal dengan darah babi dan ayam sebagai tanda nganjatn bisa dimulai sehingga alat-alat musik gamal dan gendang panjang sudah boleh ditabuh untuk mengiringi ritual. Untuk memperkuat emosi suasana, Mantir Dowata basurak (bersorak) 7 kali, memanggil tariu supaya dapat menguruh kanjatn (menabuh gamelan). Tetabuhan bunyi musik kanjatn terus dimainkan, warga masyarakat pun mulai meramu: mencari dan mengambil buluh, daun pinang tua, daun kelapa muda, membuat sanggekketupek (ketupat), dan daun ensabang empanggil yang akan dibawa ke tempat keramat.

Menari dan Bekerja sama 

Setelah semua ramuan adat siap, Sutaragi (si pengatur acara menari dan pengedar kain penari) memulai tarian adat pertama. Penari terdiri dari 2 pasang (2 perempuan dan 2 laki laki),  yang akan menari sebanyak 7 lobuh (7 putaran). 

Penari laki-laki menggunakan cawat dengan menangkin mandau di pinggang dan seuntai tali yang terbuat dari bahan kulit kayu kapuak (dilleneia sp 2). Sedangkan penari perempuan memakai tapih atau rok (sejenis kemban) dengan atasan baju kebaya. Sembari menunggu 7 putaran menari, perempuan-perempuan paruh baya menyiapkan bahan-bahan ritual adat dengan meringgit merorap (mengukir daun kelapa muda untuk hiasan balai di keramat) dan menganyam ketupat. 

Perempuan-perempuan Dayak Laman Sepiri menyiapkan bahan-bahan ritual adat. (Foto: Nenny).

Sebagian laki-laki bertugas memotong babi dan ayam, separuh babi dan ayam untuk di bawa ke keramat sebagai persembahan kepada Dowata Sangiang. Separuhnya kemudian untuk persediaan lauk bersama di rumah adat. Beberapa laki-laki yang lainnya berangkat ke keramat terlebih dahulu untuk mendekorasi tempat keramat dengan menyasak nyalas (memagar keramat menggunakan bambu. Di sana, mereka membuat rumah balai tempat umpan pakat atau persembahan kepada Dowata Sangiang yang akan diisi antara lain dengan nulangk 7 pangkat (beras yang diletakkan di piring), batang benuang 7 batang, sanggek ketupek, paha kiri kanan dan dada lidah babi dan ayam panggang 7 ekor serta ayam hidup 1 ekor untuk pemangat

Sementara itu, setelah 6 kali putaran menari di rumah adat, maka untuk tarian putaran ke-7 dilanjutkan oleh Mantir Dowata bersama Pabayunya sebagai tanda bahwa tiba saatnya seluruh warga masyarakat bersama-sama pergi menuju keramat yang dipimpin langsung oleh pemimpin ritual adat yakni Mantir Dowata bersama Pabayu. Sebelum berangkat, Mantir Dowata dan Pabayu menaburkan beras kuning dengan iringan mantra-mantra untuk memberitahu dan sekaligus meminta perlindungan dan keselamatan dalam perjalanan, meminta cuaca yang baik kepada Dowata Sangiang sehingga ritual adat di keramat terlaksana tanpa hambatan. 

Menari Di Keramat Banuah, Menyambangi Orang Limun

Sesaat sebelum berangkat, tak lupa Mantir Dowata menjelaskan syarat-syarat dan pantangan yang harus dipatuhi kepada seluruh warga yang ikut. Perjalanan menuju tempat keramat di Nate Benuah dilakukan dengan menggunakan perahu motor yang diiringi musik kanjatn di sepanjang perjalanan.

Tiba di tempat keramat, isteri Mantir Dowata dan isteri Pabayu menghias balai dengan daun kelapa muda yang telah diukir oleh para perempuan tadi, lantas mengisinya dengan beras nulakng sebanyak 7 pangkatseraya meletakkan persembahan lainnya di dalam balai tersebut. 

Selanjutnya sang Sutaragi (si pengatur acara) menyerahkan kain penari kepada Mantir Dowata dan Pabayunya sebagai penari pertama. Mereka menari tarian kanjatn bersama pasangannya masing-masing, mengelilingi pohon keramat sebanyak 5 lobuh (5 putaran). Usai menari 5 kali putaran, Mantir Dowata menabur mahiakngmenintikng/menuturkan silsilah asal mula keramat banuah. Tak lupa pula Mantir Dowatamenyampaikan ucapan syukur pada Dowata Sangiang bahwa kampung halamannya dijauhi dari segala marabahaya dan juga syukur atas rezeki yang mereka terima tahun itu. Di momen tersebut, bagi warga yang ingin menyampaikan niatnya bisa disampaikan, misalnya permohonan untuk mendapat rezeki, perlindungan, keselamatan jiwa dan raga, untuk mendapat keturunan, agar sembuh dari penyakit, dan lain sebagainya yang hakikatnya ujud cita-cita baik dari yang bersangkutan. 

Kemudian Mantir Dowata menyengkolatn puncak jaro dan batang benuah serta menggantung ancak 7 buah. Istri Mantir Dowata mengisi idakng (ancak yang berukuran besar) dengan dalaman babi (hati, dada lidah, otak dan darah mentah) yang dibungkus dengan daun empanggil, ayam panggang, sanggek ketupekbatang benuang, sirih sebanyak 8 hilipm (8 lembar) dan rokok nipah 7 batang; selanjutnya Mantir Dowata bersama Pabayunya pergi menjumpai kelambu potakng (orang limun), tempatnya di sekitar keramat banuah. Yang lain tidak boleh ikut serta. Bahkan perempuan tidak boleh ikut serta karena kelambu potakng akan bersembunyi dan itu menyebabkan susah ditemukan oleh Mantir Dowata. Setelah selesai dari kelambu potakngMantir Dowata bersama Pabayunya kembali ke tempat keramat utama dan menari tarian terakhir mengelilingi pohon keramat. Usai menari, Mantir Dowata menggoncang-goncang balai tempat persembahan sebanyak 7 kali untuk memberi tahu Dowata Sangiang, dan menabur beras kuning sebagai tanda untuk mengakhiri ritual adat di hutan keramat itu dan meminta permohonan agar selama perjalanan pulang mendapat keselamatan dan kiranya segala permohonan dan persembahan diterima Dowata Sangiang

Pulang ke Laman, Disambut Meriah 

Rangkaian ritual adat di hutan keramat pun selesai, semua warga dan Mantir Dowata pulang membawa dedaunan, antara lain daun ribu-ribu dan daun palem yang diikatkan di kepala sebagai tanda bahwa mereka datang dari hutan keramat. Dalam perjalanan pulang, musik gamelan kanjatn terus dibunyikan hingga rombongan tiba di kampung dan naik rumah adat kembali.

Rombongan Mantir DowataPabayu dan isterinya serta warga yang ikut ke keramat banuah disambut meriah oleh warga yang tidak ikut ke keramat. Penyambutan Mantir Dowata dan rombongan tentu diiringi gamelan tradisonal dan tarian berirama kanjatn. Sesaat kemudian, Mantir Dowata memotong upakng (bambu muda) dengan mandau untuk kemudian naik ke dalam rumah adat. Para penyambut memberikan Mantir Dowata tuak dengan media tanduk kerbau sebagai perlambang menangkal kamang tariu yang dibawa dari keramat. Setelah itu baru giliran rombongan yang ikut ke keramat tadi. 

Usai penyambutan, Mantir Dowata dan Pabayunya minum tuak di tempayan tajau dengan gayung tanduk kerbau, kemudian menari dengan tari adat kanjatn sebagai syarat menaikkan Mantir Dowata ke rumah. Mantir Laman (Domong Adat) menyengkolatn palit Mantir Dowata dan Pabayunya serta warga masyarakat yang ikut belapar beata untuk menandai melepas masa berpantang seharian dan diperbolehkan makan nasi.

Terakhir, sebagai penutup keseluruhan rangkaian ritual adat tersebut, sementara seluruh warga masyarakat yang hadir di rumah adat berkumpul di rumah adat Laman Sepiri, Mantir Dowata menjelaskan tentang pantang ponti (larangan-larangan setelah melaksanakan adat). Pantangnya meliputi: tidak boleh marobukng mahumbut menompar mengulat (tidak boleh mengambil rebung, umbut, pakis dan jamur), tidak boleh berkelahi dalam 7 hari selepas acara. Apabila ada di antara warga Masyarakat Adat yang melanggar pantang ponti tadi, maka yang bersangkutan akan dikenakan sanksi adat sesuai dengan pelanggarannya.

Tahun ini, ritual adat nganjatn tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Walaupun di pedalaman, bahaya ancaman pandemi Covid-19 pun telah membatasi keikutsertaan warga dalam ritual syukur ini. Seluruh warga yang hair diperkirakan seminar 200 orang, meliputi warga kampung Laman Sepiri dan kampung-kampung sekitarnya. Tokoh adat yang hadir adalah Bolitn Tobus, Pak Adil dan Pabayunya yakni Pak Loren.

Penulis: Nenny

Foto: Nenny.

Editor : Antimus Lihan dan Giring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *