Nayak, Berkebun A’la Dayak Bakatik

2.755 Views

Sehubungan dengan hasil “tayak” tadi, nilai-nilai berbagi dengan sesama  di  kalangan  orang  Bakatik juga masih cukup terpelihara. Ini masih dapat dirasakan di antara tetangga dalam sebuah wilayah permukiman kampung. Dalam hal ini, tetangga atau keluarga lain, yang pada umumnya masih punya hubungan persaudaraan sering kebagian sayuran dan buah hasil “tayak” dari si pemiliknya.

Sayur dan buah

Beberapa   jenis    sayuran   yang ditanam  di  sebuah  “tayak”  di antaranya adalah: timun (timun biasa, timun nde); timun nde ada 2 macam: hijau dan yang oranye; labu (labu kampong, labu  cina,  gamang biasa, gamang timun), parangi (perenggi); gayapm  jagor  (bayam  merah), gayapm kampong (bayam kampung yang hijau); sansabi atau sawi (kampung dan sansabi cina); kacang- kacangan (ratek banang, ratek tanak, ratek nasi); jagung; dan aneka cabai. Kemudian, aneka buah juga biasa ditanam di “tayak”, seperti papaya, pisang, nenas, dan lain-lain. Selain itu, kadangkala, meski sebenarnya lebih sering di ladang, juga turut ditanam “tamiang” atau tanaman daun sabang atau rinyuang, bunga rindo atau bunga jengger ayam atau bunga laki padi.

Itulah salah satu model pengelolaan lahan di kalangan orang Dayak Bakatik. Hakikatnya memiliki konsepsi etnoekologi: suatu cara bercocok tanam (berkebun) atau bertani untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur dan buah dengan membudidayakan aneka jenis komoditas lokal, yang dipraktikkan dari generasi ke generasi. Sekarang ini di beberapa tempat sudah mulai terancam hilang seiring dengan gencarnya pelepasan lahan dan tanah-tanah orang Bakatik untuk konsesi perusahaan perkebunan monokultur, HTI, maupun tambang.[ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *