Nayak, Berkebun A’la Dayak Bakatik
Sehubungan dengan hasil “tayak” tadi, nilai-nilai berbagi dengan sesama di kalangan orang Bakatik juga masih cukup terpelihara. Ini masih dapat dirasakan di antara tetangga dalam sebuah wilayah permukiman kampung. Dalam hal ini, tetangga atau keluarga lain, yang pada umumnya masih punya hubungan persaudaraan sering kebagian sayuran dan buah hasil “tayak” dari si pemiliknya.
Sayur dan buah
Beberapa jenis sayuran yang ditanam di sebuah “tayak” di antaranya adalah: timun (timun biasa, timun nde); timun nde ada 2 macam: hijau dan yang oranye; labu (labu kampong, labu cina, gamang biasa, gamang timun), parangi (perenggi); gayapm jagor (bayam merah), gayapm kampong (bayam kampung yang hijau); sansabi atau sawi (kampung dan sansabi cina); kacang- kacangan (ratek banang, ratek tanak, ratek nasi); jagung; dan aneka cabai. Kemudian, aneka buah juga biasa ditanam di “tayak”, seperti papaya, pisang, nenas, dan lain-lain. Selain itu, kadangkala, meski sebenarnya lebih sering di ladang, juga turut ditanam “tamiang” atau tanaman daun sabang atau rinyuang, bunga rindo atau bunga jengger ayam atau bunga laki padi.
Itulah salah satu model pengelolaan lahan di kalangan orang Dayak Bakatik. Hakikatnya memiliki konsepsi etnoekologi: suatu cara bercocok tanam (berkebun) atau bertani untuk memenuhi kebutuhan sayur-mayur dan buah dengan membudidayakan aneka jenis komoditas lokal, yang dipraktikkan dari generasi ke generasi. Sekarang ini di beberapa tempat sudah mulai terancam hilang seiring dengan gencarnya pelepasan lahan dan tanah-tanah orang Bakatik untuk konsesi perusahaan perkebunan monokultur, HTI, maupun tambang.[ ]

