KAJIAN EMPIRIS MENDALAMI TANTANGAN KEBUDAYAAN BUMI SEBALO

2.566 Views

“Meski vital dan penting, kebudayaan selalu dijadikan prioritas terakhir bahkan kadang diabaikan karena faktor pasar dan paradigma kapitalisme global sehingga kebudayaan makin tergerus dan hilang arah. Untuk itu, kebudayaan harus kembali menjadi prioritas dan perhatian kita semua mulai dari hulu sampai hilirnya, yakni bersama-sama merevitalisasi, melakukan advokasi hingga transformasinya. Gerakan ini adalah aksi kesadaran bersama dalam upaya merevitalisasi budaya di Kabupaten Bengkayang ini,” imbuh Gunui’.

Dengan optimis dia juga mengatakan bahwa kerja sama dalam bidang kebudayaan antara Institut Dayakologi dan DISDIKBUD Kabupaten Bengkayang tersebut merupakan sejarah baru dan peletak dasar bagi kerja sama ke depannya.

Sementara Koordinator Tim Riset Institut Dayakologi, Giring, mengatakan bahwa melalui para tokoh etnis, pegiat budaya dan adat ini, diharapkan workshop ini menyedian kesempatan dan ruang diskusi tentang permasalahan atau tantangan yang dihadapi kebudayaan di Kabupaten Bengkayang dan usulan solusinya.

“Permasalahan atau tantangan yang dihadapi kebudayaan dan usulan solusi dalam workshop ini akan menjadi bekal awal bagi tim untuk melakukan kajian empiris di komunitas selanjutnya,” katanya saat memoderatori kegiatan tersebut.

Suasana FGD dalam rangka riset kebudayaan di Komunitas Jawa di wilayah Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang (Dok. ID).

Libatkan Komunitas di Lingkar Gunung Bawakng

Selanjutnya untuk beberapa hari tim melakukan kajian empiris di sejumlah wilayah. Beberapa komunitas menjadi titik penelitian kebudayaan. Di antaranya beberapa komunitas di sejumlah kampung di lingkar Gunung Bawakng (Bawang) di wilayah Kec. Lumar, Sungai Betung, dan Kec. Lembah Bawang, komunitas Dayak Bidayuh di Sebujit, Kec. Siding, dan wilayah perbatasan di Jagoi Babang, komunitas Melayu di wilayah Kec. Ledo, komunitas Jawa di wilayah Kec. Tujuh Belas, dan komunitas Tionghoa di wilayah Kec. Bengkayang.

Serangkaian FGD dan wawancara dilakukan tim dengan tujuan mengetahui kondisi empiris, permasalahan atau tantangan yang dihadapi kebudayaan di masing-masing komunitas berikut solusi yang diusulkan komunitas. Dalam beberapa kesempatan diskusi dan wawancara di komunitas-komunitas tersebut juga dihadiri oleh Pius, S.Pd, Kepala Bidang Kebudayaan beserta staf DISDIKBUD Kabupaten Bengkayang. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *