Kabar dari Training of Trainers Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat a la Dayakologi
“Masyarakat Adat memiliki sistem sosial, budaya, dan ekonomi yang erat kaitannya dengan kearifan lokal dan pengelolaan sumber daya alam. Namun, dalam menghadapi tantangan modernisasi, banyak komunitas adat menghadapi ancaman terhadap hak-hak mereka, kelestarian lingkungan, serta keberlanjutan budaya dan sistem ekonomi lokal. SPMAD diselenggarakan untuk memperkuat kapasitas Masyarakat Adat dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. SPMAD menyediakan ruang belajar kolektif berbasis pengalaman dan praktik baik dari komunitas adat sendiri,” terang Gunui’.
Perlu Pelatih
Agar SPMAD dapat dilaksanakan dengan baik dan berkelanjutan, maka dibutuhkan para pelatih yang berasal dari masing-masing komunitas yang mampu mendampingi dan memfasilitasi proses pembelajaran.
Pelatihan untuk pelatih atau ToT bagi perwakilan komunitas Masyarakat Adat yang didampingi Dayakologi, meliputi tokoh adat, pemuda adat, dan tokoh perempuan adat bertujuan agar mereka memiliki keterampilan dalam memfasilitasi sekolah pemberdayaan dan memastikan keberlanjutan pengetahuan di dalam komunitas.
Pelatihan yang dihadiri berbagai perwakilan komunitas Masyarakat Adat tersebut bertujuan: (1) Membekali calon pelatih dengan keterampilan fasilitasi dalam menyelenggarakan SPMAD; (2) Meningkatkan pemahaman peserta tentang metode pendidikan kritis berbasis komunitas adat; (3) Mempersiapkan peserta menjadi fasilitator yang mampu memimpin diskusi, memoderasi sesi berbagi pengalaman dan mendukung proses pembelajaran berbasis kearifan lokal; (4) Menumbuhkan kesadaran kritis di antara pelatih mengenai hak-hak Masyarakat Adat, pengelolaan sumber daya alam dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas melalui Credit Union Gerakan.
Pendidikan orang Dewasa dan Materi
Pelatihan digelar dengan pendekatan pendidikan orang dewasa (andragogi) dan pembelajaran partisipatif. Peserta yang berasal dari beberapa komunitas yakni dari Kab. Sintang, Sekadau, Sangggau dan Ketapang berdikusi interaktif dan bertukar pengalaman antar-komunitas. Peserta diajak berefleksi dan evaluasi untuk membahas proses pembelajaran berbasis pengalaman yang dikaitkan dengan realitas di komunitas sampai pada rekomendasi bersama, khsususnya terkait materi pembelajaran.
Adapun materi pelatihan mencakup aspek-aspek: prinsip fasilitasi dan teknik fasilitasi pendidikan berbasis komunitas lokal, peran dan tugas fasilitator dalam proses pemberdayaan, metode belajar bersama berbasis pengalaman dan pendidikan kritis, hak-hak Masyarakat Adat dan pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal, konsep gender dalam perspektif budaya lokal, revitalisasi dan transformasi kebudayaan, perencanaan dan evaluasi SPMAD, dan peningkatkan ekonomi kerakyatan berbasis budaya melalui Credit Union Gerakan.
Dalam prosesnya, berbagai aspek materi tersebut difasilitasi oleh beberapa aktivis yang berpengalaman panjang dan berkompeten dari Pusat Dayakologi, Lembaga Bela Banua Talino dan Credit Union Gerakan Gemalaq Kemisig, dan Sadoq Pancur Kasih.
Kegiatan pelatihan digelar selama 2 hari dan diikuti perwakilan dari komunitas Masyarakat Adat: (1) Dayak Jalai Kab. Ketapang, (2) Dayak Kendawangan Kab. Ketapang, (3) Dayak Sisang Kab. Sanggau, (4) Dayak Bi Somu Kab. Sanggau, (5) Dayak Tae Kab. Sanggau, (6) Dayak Iban Sebaruk Kab. Sanggau, (7) Dayak Dsa Kab. Sekadau, (8) dan Dayak Seberuang Kab. Sintang.
Peserta dari komunitas Masyarakat Adat Dsa Kabupaten Sekadau, Kornelius Liun (54), Temenggung Tapang Sambas, Semadak, Tapang Kemayau, bilang pelatihan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam memfasilitasi pertemuan, khususnya untuk mengurus penyelesaian perkara seperti pelanggaran hukum adat di komunitasnya.
“Saya bersyukur telah diundang dalam pelatihan ini. Selain pengalaman, pengetahuan dan keterampilan bisa meningkat, saya berharap berdasarkan bekal pelatihan ini, ke depannya semakin mampu melestarikan pengetahuan adat istiadat, hukum adat dan budaya kepada generasi muda di masyarakat, utamanya dalam mengurus penyelesaian perkara adat di wilayah ketemenggunggan Tapang Sambas, Semadak dan Tapang Kemayau,” pungkas Bpk. Lion optimis. []

