Institut Dayakologi jadi Narasumber Dalam Webinar “Normal vs New Normal: Refleksi Antropologi”

119 Views

Sharing ID tadi malam didasarkan atas refleksi dan pengalaman panjang Institut Dayakologi bekerja di lapangan bersama komunitas, terutama masyarakat adat Dayak di berbagai daerah di Kalbar. Giring mengatakan bahwa kearifan lokal yang bersumber pada nilai sosial budaya orang Dayak menjadi semacam pedoman dalam berelasi dengan sesama-alam-Sang Pencipta selama ini merupakan modal sekaligus model, baik dlm konteks mitigasi maupun adaptasi (dampak) pandemi Covid-19.

“Sekarang adalah momentum untuk memperkuat dan meningkatkan daya manfaat dari 7 nilai sosial budaya dalam menjalankan strategi mitigas dan adaptasi pandemi Covid-19 untuk keseimbangan, keharmonisan (kenormalan) dunia bersama ini” ujarnya. Mengutip John Bamba (2000) “7 Tuah Manusia Dayak”, Giring mengatakan bahwa ini merupakan nilai sosial budaya—bagian dari kearifan lokal masyarakat adat Dayak yaitu: (1) Ritual-spiritual, (2) Kebersamaan/solidaritas/kolektivitas, (3) Kesinambungan/kelestarian, (4) Subsisten/prinsip ketercukupan, (5) Kepatuhan pada adat istiadat & hukum adat, (6) Alamiah/naturalitas, dan (7) Keanekaragaman/diversitas. Dia juga melihat bahwa momen seperti saat ini adalah peluang meningkatkan kreatifitas agar bisa terus survive, sebab pascanya (berakhirnya) belum bisa diprediksi.

Sedangkan Bambang Setiawan menandaskan perlunya menumbuhkembangkan sodalitas atau jalinan kolektivitas di level bawah, menumbuhkan kepercayaan pada sarana publik dengan berbagai apresiasi, dan membuka tawaran ekonomi baru terhadap pola hidup yang berubah.

Webinar dengan 50 lebih peserta ini dihelat pada, Kamis (30/7/2020), jam 19.00 Wib – usai, atas kerjasama Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) PengDa Kalbar dengan Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia (JKAI). Opening Speech adalah Prof.Dr.Pawennari Hijjang, MA, Kordinator AAI Wilayah Sulawesi dan Kalimantan.

Adapun para narasumber adalah (1) R. Giring (Institut Dayakologi), topik Modal dan Model Harmoni (Kenormalan) Dunia Bersama: Pelajaran dari Masyarakat Adat Dayak”, (2) Bambang Setiawan (Litbang Kompas), topik Akseptasi dan Resistensi terhadap “Normal Baru”, (3) Dr. Ikhtiar Hatta, M. Hum (Ketua Departemen Antropologi FISIP Universitas Tadulako), menyajikan topik Tubuh Ambigu di Tengah Pandemi Covid-19.

Peserta Webinar “Normal vs New Normal: Refelksi Antropologi” pada Kamis (30/7/2020)

Menurut Ikhtiar, memahami kenapa ada orang yang terkesan menentang ketentuan penanganan Covid-19 itu penting. Ia merefleksikan keberadaan tubuh di tengah pandemi Covid-19. “Tubuh ambigu adalah ekspresi dan pengingkaran atas pemahaman terhadap kekuasaan yang terpusat, termasuk kekuasaan tim penanggulangan pandemi covid-19 yang terkesan terpusat. Kalian di rumah aja, biarkan kami yang bekerja. Penguburan hanya satu model adalah wujud kekuasaan yang terpusat,” jelasnya. Ia mengajak untuk membangun pemahaman bahwa masyarakat memiliki kemampuan dalam negosiasi, siasat dan strategi yang kontrkstual dan ini harus diberi ruang dan diaktifkan bersama model yang dikembangkan secara formal oleh pemerintah.

Diskusi berlangsung lancar dan interaktif sehingga baru bisa diakhiri oleh moderator Sarita A Kinanti, S.Sos (alumnus Antropologi Udayana 2019), pada jam jam 22.30 Wib.

Dalam penutupan, Prof. Awe sangat mengapresiasi semangat peserta dari wilayah bagian Tengah dan Timur Indonesia, beberapa antropolog dan aktivis sosial dari Jakarta, Yogyakarta, termasuk dosen antropologi Untan Pontianak dan pengurus AAI Kalbar itu. “Saya senang sekali menyaksikan betapa kita sangat bersemangat dalam Webinar kali ini. Kita harap kerjasama AAI dan JKAI bisa digiatkan lagi dan tentu saja terus membuka hubungan kerjasama dengan berbagai pihak ke depannya, terlebih menghadapi rencana Kongres JKAI pada akhir 2020 ini,” pungkasnya sambil menginformasikan agenda besar JKAI akhir tahun ini.

Teks: Giring & Yeri.
Editor: Giring.
Foto: Panitia Webinar dan Sarita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *