Persekolahan sebagai Komunitas Praksis Nilai Moral

164 Views

Oleh R. GIRING (Praktisi Antropologi pada Institut Dayakologi; Anggota Pengurus Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih)

Mengikuti fenomena yang berkembang akhir-akhir ini, sebagian orang berpendapat bahwa praksis nilai-nilai moral (dan sosial) di masyarakat semakin dilanda krisis. Mereka menyadari bahwa budaya perilaku semakin berjarak dengan nilai-nilai moral.

Sebagian orang  berpandangan bahwa nilai-nilai moral adalah urusan personal. Tak perlu dibawa ke ruang publik, ke lingkungan pekerjaan, kebijakan publik, hukum dan politik praktis. “Urusan moral itu urusan setiap pribadi orang dan TuhanNya di akhirat, ” begitu pendapat mereka.

Tak bisa dipungkiri, pandangan demikian telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial kita. Kita pun bertanya ke manakah peranan institisi keluarga, pendidikan dan agama selama ini?

Mengapa degradasi nilai-nilai moral terus menjadi tontotan hari-hari kita? Lihat saja berita media massa, di Medsos dan televisi. Hampir setiap hari kita dengar kasus kriminal hingga pembunuhan, narkoba, korupsi, dan tindakan pelecehan seksual terhadap anak. Pun aksi caci maki dan ujaran kebencian satu sama lain semakin merajalela.

Nah, siapa tidak prihatin? Mentalitas korup bermodus, entah korupsi uang entah penyalahgunaan kekuasaan seakan wajar saja di mata masyarakat kita. Lihat oknum pejabat negara, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif yang ditangkap KPK karena korupsi tampil di media massa dengan senyum dan wajah riang gembira.

Berkenan dengan judul esai singkat ini, tanpa bermaksud meremehkan institusi keluarga dan agama, satu tumpuan harapan kita adalah pada institusi pendidikan. Kita menaruh harapan padanya untuk menyemai benih dan menanam bibit nilai-nilai moral dengan pendidikan kharakter kepada setiap peserta didiknya di persekolahan.

Tapi harapan kita kadangkala sirna begitu saja jika masih ada guru atau pengelola pendidikan yang mulai ikut-ikutan terkooptasi mental koruptif dan mental aji mumpung. Atau tindakan pelecehan seksual terhadap peserta didik, anak muridnya.

Institusi pendidikan, semua elemennya, punya peran dan fungsi strategis dalam menciptakan lingkungan sekolah yang menghargai budaya hormat terhadap nilai-nilai moral, seperti kejujuran, keadilan, sportifitas, kedisiplinan, kepeduliaan sosial dan kemanusiaan.

Di situlan guru-guru dan tenaga kependidikan, di komunitas sekolahnya punya banyak kesempatan bagus demi membuktikan kinerja dan integritasnya secara profesional hingga menjadi model keteladanan bagi peserta didik dan masyarakat.

Jika hal itu sudah membudaya, maka persekolahan tersebut menjadi  komunitas praksis pendidikan nilai karena di persekolahan peserta didik mengaktualisasikan (mempraktikkan) nilai moral dan sosial yang secara langsung dibagi bersama di lingkungan persekolahan.

Nilai-nilai tersebut di antaranya nilai kedisiplinan, hormat kepada orangtua, gotong royong atau kerjasama, kejujuran, sportifitas, keadilan, tanggungjawab, kesetiaan, solidaritas kemanusiaan, dan lain-lain.

Sebagai contoh, persekolahan dapat menempa peserta didiknya dengan program (intra/ekstra), misal dengan tugas individu, kelompok, olah raga, kegiatan OSIS, sanggar seni budaya, drumb band, ekskursi sosial, pengembangan minat bakat, pramuka, dan lain-lain.

Program pengajaran MULOK Multikultur, seperti dilaksanakan SMP St. Fransiskus Asisi, Pontianak sangat relevan untuk menanamkan nilai moral sosial, rasa hormat dan menghargai perbedaan budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Inisiatif baik yang telah berlangsung sejak tahun 2009 ini patut didukung para pihak.

Program-program tadi tentulah dirancang secara kontekstual, tanggap zaman dan humanis. Akan tetapi perlu dievaluasi berkala, diperbaiki kelemahannya agar bisa semakin efektif berkelanjutan. Konsep atau jiwa pendidikan yang seperti itu patut didukung.

Dengan begitu para peserta didik dan lulusan persekolahan tersebut akan siap menjadi manusia yang berkharakter, menjadi pribadi berdimensi komplit meliputi spiritualitas, emosi, sosial dan intelektualitasnya yang bertanggungjawab sebagai manusia seutuhnya, dan bebas merdeka.

Itu berarti semakin relevanlah hakikat mendidik dan mengajar itu sebagai proses memanusiakan manusia seperti ditandaskan Ki Hadjar Dewantara (1889-1959) Bapak Pendidikan Indonesia.***

Foto: Tim Paskhalis Asisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *