KOMUNITAS ADAT TAMPUN JUAH KAMPUNG SEGUMON, GUNA BANIR DAN SUNGAI SEPAN IKUTI SEKOLAH LAPANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ADAT

226 Views

Penulis: Nani, Bendi & Manuk Kitow | Foto: Siba | Editor: Giring & K. Gunui’

Tampun Juah, Kecamatan Sekayam, KR—Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat (SPMAD) di Komunitas Tampun Juah kembali dilanjutkan. Menurut Okta, aktivis ID yang mengkoordinir kolaborasi sekolah lapang itu dengan  para relawan CU FPPK Tampun Juah, aktivis Laja Lolang Basua’ (LLB), dan para tokoh masyarakat setempat, kegiatan tersebut terlaksana  seiring semakin menurunnya ancaman Covid-19 di wilayah tersebut. Itupun dilakukan dengan tetap menggunakan Prokes. “Sekitar pertengahan tahun 2021 ini, sekolah sempat ditunda mengingat besarnya risiko ancaman Covid-19 di wilayah perbatasan ini. Sebelumnya akhir 2019 dan di awal 2020, sempat dilakukan beberapa kali. Peserta kelompok belajar dari 3 kampung itu hampir 90 orang, terdiri dari perempuan adat, para tokoh adat dan pemuda-pemudi,” jelas Okta.

Siska, aktivis CU FPPK Tampun Juah, yang turut bekerjasama dengan tim di lapangan mengatakan proses sekolah lapang tersebut berjalan lancar.  Pemudi Iban Sebaruk ini juga mengatakan jika kelompok belajar begitu semangat dalam diskusi-diskusi kelompok.

Sedangkan Darius Culen, aktivis lapangan ID yang juga pengurus LLB mengapresiasi kerja sama tim lapangan yang turut mempersiapkan pelaksanaan kegiatan di 3 kampung tersebut. “SPMAD diadakan di Kampung Segumon, Guna Banir dan Sungai Sepan pada hari Senin-Selasa (13-14/12), prosesnya langsung didampingi oleh Direktur Eksekutif Institut Dayakologi, Krissusandi Gunui’,” jelasnya.

Mengelola Kelompok (Organisasi)

Berkaitan dengan sekolah lapang tersebut, Krissusandi Gunui’, mengatakan, dalam SPMAD kali ini, fokus materi diarahkan pada memperkuat pemahaman peserta mengenai masalah hak-hak Masyarakat Adat dengan melihat hubungannya dengan Perda Kab. Sanggau Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan MHA. Termasuk tentang SK Menteri LHK tentang Hutan Adat Tembawang Tampun Juah. “Intinya kita bersama-sama mencermati apakah kehidupan sosial budaya, ekonomi dan kedaulatan dalam wilayah adat dan hutan adat kita, cita-cita dan harapan kita sebagai Masyarakat Adat telah terpenuhi?” pungkasnya. Dalam mengantar proses belajar bersama itu, dia mengajak untuk melihat bagian-bagian mana saja dari hak-hak Masyarakat Adat dalam bidang sosial budaya, ekonomi dan politik terkait wilayah adat/hutan adat yang dirasakan sudah dan yang belum terpenuhi. “Untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak Masyarakat Adat tersebut, sebagai warga Masyarakat Adat mesti kompak, senasib sepenanggungan memperjuangkannya, baik ke dalam sesama masyarakat sendiri, maupun ke luar, utamanya terkait pemenuhan hak-hak Masyarakat Adat oleh  Negara. Organisasi atau kelompok yang sudah ada di tiap kampung, para pengurus dan anggotanya perlu dilatih tentang bagaimana mengelola kelompok atau organisasi yang baik agar tidak bisa sekedar berkegiatan tapi juga berkelanjutan, ” imbuh Gunui’.

Efrosiana Arni (19), peserta sekolah lapang pemberdayaan Masyarakat Adat tersebut di Sungai Sepan mengatakan bahwa dirinya dan teman-temannya sangat beruntung karena bisa belajar bersama dalam diskusi kelompok. “Saya dan teman-teman saya merasa bersyukur karena bisa ikut belajar bersama dalam diskusi kita. Kami mendapatkan pengetahuan baru, terutama tentang adat dan budaya Iban Sebaruk dari para orang tua, ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengikuti diskusi bersama. Semoga depan ini kita semua aman dan bebas dari Covid-19 sehingga kita semakin leluasa mengadakan pertemuan kampung seperti ini,” harap Arni. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *