Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (KMA) KEMDIKBUDRISTEK Berkunjung ke Institut Dayakologi

446 Views

Penulis: Vian | Foto: Duyung | Editor: Giring & K. Gunui’

Pontianak, KR—Senin (24/1), Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat  (KMA) Kemdikbud, Riset dan Teknologi, beserta timnya berkunjung ke kantor Institut Dayakologi, Pontianak. Direktur KMA, Syamsul Hadi dan timnya, bersama peneliti dari BPNB Kalbar, Andre WP mengobrol santai sambil ngopi bersama Direktur Institut Dayakologi dan aktivis ID lainnya.

Obrolan tersebut berlangsung di kantor Institut Dayakologi pada malam, pkl. 21.00-23.00 Wib. Topik obrolan seputar strategi kolaborasi pemberdayaan Masyarakat Adat, desa adat dan pemajuan kebudayaan, khususnya bagi komunitas adat di lingkar Tiong Kandang di 9 desa dalam wilayah Kabupaten Sanggau dan Kabupaten Landak Provinsi Kalimantan Barat.

Syamsul Hadi mengharapkan agar pendampingan dan pengorganisasian masyarakat adat di 9 desa tersebut dapat dlakukan secara kontinyu menuju apresiasi dan konsolidasi kebudayaan yang dilaksanakan pada pekan budaya komunitas adat 9 desa di lingkar Tiong Kandang pada akhir tahun 2022. “Mengenai apresiasi dan konsolidasi para pihak menuju pekan budaya lingkar Tiong Kandang akhir tahun 2022 dan dorongan menuju Desa Adat, saya akan berdiskusi dengan Bupati Landak dan Bupati Sanggau,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur ID, Krissusandi Gunui’ menyatakan pihaknya siap berkolaborasi dalam berbagai langkah yang diperlukan untuk apresiasi dan konsolidasi keragaman kebudayaan di komunitas adat lingkar Tiong Kandang. Menurutnya perlu inventarisasi potensi objek pemajuan kebudayaan yang sesuai keunikan budaya 9 desa di lingkar Tiong Kandang. “Pendokumentasian objek pemajuan kebudayaan bertujuan menemukan kekhasan di masing-masing desa. Anak muda adat Tae atau “arakng” yang telah mengikuti Sekolah Lapang dan Sekolah Pemberdayaan Masyarakat Adat harus kita optimalkan agar bisa melatih kaum muda di desa lain untuk menggali keragaman objek pemajuan kebudayaan berdasarkan keunikan dan realitas di desa masing-masing,” urainya. Dia menambahkan bahwa wacana mengenai desa adat untuk Ketemenggungan Tae telah dimulai sejak 2015, diperkuat lagi dengan kesepakatan Mubes Adat  Tiong Kandang pada 2019 lalu yang ditandatangi oleh 9 temenggung dan 9 kepala desa di lingkar Tiong Kandang. “Berbagai pihak, terutama pemerintah desa dan lembaga adat belum memiliki pemahaman yang sama mengenai desa adat. Sosialisasi UU Desa Nomor 6 tahun 2014 perlu ditingkatkan,” pungkasnya.[ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *