DARI TANJUNG UNTUK DUNIA: MELALUI RITUAL ADAT MEENGARIA BENUAQ DAYAK JALAI MINTA PERLINDUNGAN DUATAQ DEMI TOLAK BALA VIRUS CORONA

385 Views

Tanjung, Jelai Hulu—Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) semakin hari semakin mengancam warga kota maupun pedesaan di seluruh dunia. Situasi inilah yang mendorong para tokoh Masyarakat Adat Dayak Jalai Desa Tanggerang dan Teluk Runjai bersama Polsek Kecamatan Jelai Hulu melakukan musyawarah adat untuk mencegah dan mengantisipasi penyebaran virus corona di wilayah tersebut. Sesuai kepercayaan Masyarakat Adat Dayak Jalai, maka digelar ritual adat Tulak Bala yang disebut Meengaria Benuaq. Pelaksanan ritual adat dipusatkan di Kampung Tanjung pada hari Minggu (29/3/2020), pagi sekitar pkl. 08:00 Wib.

Tulak Pembajik Penyakit

Ritual Adat Meengaria Benuaq bertujuan untuk memohon dan meminta kepada Duataq (Tuhan) agar kampung halaman dan masyarakat yang ada di dalamnya, serta dunia terhindar dari berbagai musibah dan bencana serta dari ancaman wabah virus corona. Intinya, menurut Pak Ambrosius Djamil (74) selaku Kepala Dukun Bantan, meminta perlindungan kepada Duataq agar menolak segala pembajik penyakit yang menyerang dan mengganggu kehidupan manusia. “Ritual Adat Meengaria Benuaq hanya diadakan dalam situasi tidak wajar dan sangat meresahkan warga atau dunia, misalnya ketika sedang terjadi musibah di kampung seperti ancaman wabah virus corona seperti saat ini,” terangnya kepada penulis.

Pak Ambrosius Djamil (74), Kepala Dukun Bantan.

Dalam prosesnya, Kepala Dukun Bantan terlebih dulu melakukan ritual adat di tempat-tempat keramat yang berkekuatan spiritual. Di sini ia melakukan Tapaq (bertapa) atau berpantang selama tiga hari tiga malam sebelum memulai Ritual Adat Meengaria Benuaq. Tapaq merupakan ritual untuk “membersihkan diri” sebagai bagian dari persiapan lahir dan batin seorang Dukun Bantan sebelum memimpin ritual. Tempat-tempat keramat di antaranya adalah Batu Perapat Bunuh dan Bulian Pemalik yang terletak di Kampung Tanjung, Desa Tanggerang.

Pada hari ke empat baru digelar Ritual Adat Tulak Bala atau Meengaria Banuaq dilakukan selama setengah hari dan dihadiri oleh sebanyak-banyaknya sepuluh orang untuk menjaga jarak dan kerumunan orang banyak sebagaimana imbauan pemerintah untuk selalu menjaga jarak fisik.

Tahap-tahap Ritual Adat Meengaria Benuaq ini, menurut Pak Ambrosius Djamil, adalah Menampung Tawari” tetabus peraga ritual, kemudian mengantarkan tekuluk dari tali telitikan (kayu tarap) dan dibuat tekuluk untuk keramat Batu Perapat Bunuh sebagai simbol janji dan niat warga Kampung Tanjung untuk melakukan Pantang Pantiq atau larangan. Selain di keramat Batu Perapat Bunuh, Dukun Bantan juga berpamitan di tempat keramat Bulian Pemalik.

Tahap selanjutnya adalah kembali ke rumah tempat ritual, lalu tetabus dibangunkan dengan cara menyemburkan sirih pinang. Kemudian dukun mendahupai tetabus dan besangan cerita (kehanaq). Di sini, ada tiga cerita, lalu sebagai tahap terakhir adalah mengantar tetabus sekalian pemagaran akses jalan keluar masuk dari/ke kampung. Sejak Tetabus diantarkan, maka sejak itu pula seluruh warga harus melaksanakan Pantang Pantiq atau larangan selama tiga hari tiga malam dan orang dari kampung lain tidak boleh masuk.

Pantang Pantiq

Pantang Pantiq tersebut terdiri dari penutupan akses jalan masuk kampung selama tiga hari tiga malam dan buka Pantang Pantiq pada hari Kamis (2/4/2020). Selama masa Pantang Pantiq tersebut, warga dilarang Beetabang Beetibuh (memotong kayu di hutan), Cucul Anggur Tangah Benuaq (kegiatan membakar dalam kampung), Beemiang Beehamak (pergi ke hutan), dan Merabung Meehumbut (mencari sayuran ke hutan).

Hari ke empat Ritual Adat Tulak Bala atau Meengaria Banuaq.

Warga wajib mengurangi aktivitas lalu lalang kendaraan dalam kampung terutama pada malam hari. Larangan juga berlaku bagi warga memiliki rumah walet agar mengecilkan volume speaker rumah waletnya. Apabila larangan-larangan di atas dilanggar, maka yang bersangkutan akan diberi sanksi adat berupa hukuman 1 buah tajau (tempayan besar).
Di masa Pantang Pantiq itu pula, berlaku sanksi adat apabila ada pelanggaran; termasuk berlaku terhadap tokoh adat dan pemimpin kampung, bahkan terhadap pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah Kampung Tanjung. Sanksi adat yang akan dikenakan kepada pelanggar Pantang Pantiq dimusyawarahkan bersama di Kampung Tanjung yang melibatkan para pengurus adat dari Desa Tanggerang dan Desa Teluk Runjai, Kecamatan Jelai Hulu, Kab. Ketapang. Semoga persatuan Masyarakat Adat terus bertahan, tidak hanya di saat situasi seperti ini.

Teks & Foto: Alexander Willis. Editor: R.Giring & Yeremias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *