Buat Hukum Adat Baru untuk Melarang Jual-Beli Tanah Kabar Dari Perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Se-Dunia 2019 Di Kuala Dua

Oleh Hendi Kedakas

Kuala Dua, Sanggau—Dalam acara seminar pada perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Se- Dunia (HIMAS) tahun 2019, yang diselenggarakan di Kuala Dua, Kamis-Jumat, 8-9 Agustus 2019, harapan peserta supaya percepatan RAPS (Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial) di wilayah Kab. Sanggau bisa lebih ditingkatkan lagi. Hal ini misalnya harapan dari organisasi masyarakat sipil, misalnya Institut Dayakologi (ID) melalui Direkturnya, Krissusandi Gunui’ yang menjadi salah satu narasumber seminar mengatakan bahwa Pemerintah, baik Pemrov maupun Pemda Sanggau perlu segera menyelesaikan masalah tumpah tindih izin di wilayah Kalbar dan Sanggau ini. “Persoalan tumpeng tindih izin pengelolaan tanah di Kalbar ini, terutama di Sanggau ini sangat luar biasa, bahkan kadang izin masuk kawasan hutan. Ini harus segera diselesaikan oleh Pemerintah dengan mendepankan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.

Buat Terobosan Baru yakni Hukum Adat Larangan Jual-Beli Tanah
Pemda Sanggau memiliki visi misi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat dengan berbasiskan nilai-nilai kearifan lokal. Ini berarti mengedepankan nilai-nilai Adat Masyarakat setempat. Masyarakat Adat setempat semakin besar harapannya untuk memperoleh Pengakuan Masyarakat Hukum Adat dari Pemerintah.
Sehubungan dengan penguasaan tanah dan bukit-bukit di Kalimantan Barat secara pribadi di kampung-kampung, Institut Dayakologi menyarankan agar Lembaga Adat (LA) mulai dari DAD, Temenggung dan Lembaga Adat lainnya di tingkat bawah agar memperkuat Hukum Adatnya untuk melindungi tempat-tempat khusus, keramat dan tanah-tanah Adat yang mau dilindungi dengan satu Hukum yang baru yaitu Hukum Adat Perlindungan dan Pelarangan penjual-belian tanah air kita. Gunui’ menambahkan mengapa bukit dan hutan perlu dijaga, dipelihara dan dilindungi, hal ini tentu karena Bukit dan Hutan memiliki fungsi bagi Masyarakat Adat yaitu (i) fungsi bagi kepentingan ekonomi, (ii) fungsi lindungnya untuk konservasi, dan (iii) fungsi spritual untuk dikeramatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *