30 tahun Institut Dayakologi “Membumikan Peradaban, Memartabatkan Kehidupan”

2.860 Views

Dalam keterangan persnya, Krissusandi Gunui’, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi mengatakan bahwa, kata Dayak yang dulunya digunakan untuk sebutan yang serba negatif, kini sekarang Dayak diakui sebagai identitas sosial, budaya dan penduduk asli Pulau Borneo  atau Masyarakat Adat Kalimantan (Borneo, Red) yang terdiri dari berbagai kelompok suku dan subsuku-kelompok yang beragam. Ada perbedaan satu sama lain, misalnya bahasa. “Bahkan dalam perspektif identifikasi diri, seperti hasil riset etnolinguistik ID (1997-2008) menunjukkan bahwa di Kalbar saja terdapat 151 sub suku dan dibagi lagi 100 sub sub suku dengan 168 kelompok bahasa,” jelas Gunui’. Dulu tak sedikit orang Dayak bahkan mereka yang berpendidikan dan para pejabat Dayak yang malu mengakui diri sebagai orang Dayak. Dokumentasi dan publikasi informasi dan data kebudayaan Dayak, kini tidak saja berguna untuk pewarisan dan pelestarian kebudayaan Dayak itu sendiri, tapi turut berkontribusi pada perkembangan pengetahuan dan studi-studi tentang kebudayaan Dayak. “Banyak para mahasiswa dari berbagai kampus di Kalbar, Kalimantan, nasional bahkan internasional yang berminat dan magang di ID beberapa tahun belakangan menunjukkan hal tersebut,” tambah Gunui’.

Sejak awal kiprahnya pada 1991, ID aktif melakukan dan mendorong upaya revitalisasi dan restitusi kebudayaan Dayak yang kini terus berusaha memantapkan diri sebagai pusat advokasi dan transformasi kebudayaan Dayak. Advokasi dimaknai dengan menyelamatkan sumber-sumber identitas kebudayaan yang juga merupakan sumber penghidupan dan keberlanjutan bagi Masyarakat Adat Dayak; Sementara Transformasi dimaknai sebagai upaya mengangkat kembali sekaligus menguniversalkan nilai-nilai kebudayaan Dayak yang diwariskan oleh leluhur adat bagi seluruh aspek kehidupan, khususnya kemanusiaan, persaudaraan, perdamaian dan pembangunan serta pendidikan yang memberdayakan, memandirikan dan membebaskan. 

Kini semakin banyak pihak, baik dari masyarakat Dayak sendiri maupun dari pihak luar yang melakukan upaya-upaya pelestarian kebudayaan dan penggalian nilai-nilai budaya Dayak.

Sekarang ID baik sendiri maupun bersinergi dan berkolaborasi dengan mitranya terus akan  

mengadaptasikan unsur-unsur budaya luar dengan mengaktualisasikan sekaligus mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan Dayak secara kontekstual agar semakin meningkatkan sumbangsihnya pada peradaban dan kehidupan. Untuk ini, ID aktif mendorong kearifan lokal diadopsi dalam pendidikan formal melalui pengajaran MULOK Budaya dan Multikultur di Kalbar. “Ini perlu dan mendesak untuk menanamkan nilai-nilai keragaman, toleransi dan pemahaman lintas budaya. Terlebih beberapa tahun belakangan ini masyarakat di negeri ini cenderung terbelah karena alasan perbedaan keyakinan politik maupun benturan pemahaman keagamaan,”imbuh Gunui’.

Sapta Basa Dayak untuk Membumikan Peradaban dan Memartabatkan Kehidupan

Menghadapi tantangan terus terdegradasinya nilai-nilai budaya, ancaman gerakan anti kemanusiaan dan system pembangunan yang mengabaikan hak-hak kehidupan Rakyat di Tanah Borneo, Kriss Gunui’, mengungkapkan bahwa Institut Dayakologi menawarkan sebuah konsep peradaban Kalimantan baru untuk kemanusiaan dan memartabatkan kehidupan yang diambil dari tujuh nilai universal Kebudayaan Dayak dalam perspektif kearifan lokal yakni (1) Kemanusiaan; (2) Persatuan dan Solidaritas; (3). Keberagaman dan Perdamaian; (4). Naturalitas dan Keberlanjutan; (5). Keadilan dalam Kebijaksanaan, (6). Bebasa atau Berbudi Basa; (7). Ketuhanan yang menghormati kearifan Budaya dan Keberagaman (Spiritualitas Adat); Institut Dayakologi menyebutnya Sapta Basa atau 7 Nilai Universal Kebudayaan Dayak. Dengan ke tujuh nilai sebagai hasil refleksi perjalanan ID lebih dari 30 tahun sekaligus sebagai wujud pewarisan nilai-nilai budaya diharapkan  Kebudayaan Dayak,  berkontribusi semakin nyata dan konsisten membangun dan memulihkan harga diri bangsa khususnya di seluruh Tanah Borneo. “Diaharapkan ke depan ke tujuh nilai universal ini menjadi dasar dan fondasi dalam merawat, mengelola, memulihkan, melestarikan dan terus menegakkan martabat bangsa dan segala bangsa di Kalimantan dan Borneo yang kita cintai ini,” tegas Kriss Gunui’.

Secara terpisah, Yeremias, Ketua Pelaksana Perayaan 3 Dasawarsa ID mengatakan, secara teknis seluruh persiapan telah rampung. Semua narasumber yang akan memaparkan materinya hampir semuanya sudah terkonfirmasi. 

Menurutnya acara Webinar akan melibatkan pemerintah (pusat dan daerah), tokoh masyarakat, aktivis (NGO, mahasiswa, Ormas), peneliti, akademisi, eksekutif dan legislatif, rohaniawan.

Untuk tema “Mewujudkan eksistensi kebudayaan Dayak melalui Reforma Agraria dan Rekognisi Masyarakat Adat serta Hutan Adat” yang akan diadakan Selasa (25/5/2021), rencananya akan menjadi pembicara kunci adalah H.Sutarmidji, M.Hum, Gubernur Kalbar. Sedangkan pembicara kunci kedua adalah Dr. Alue Dohong, Wamen LHK RI. Kemudian narasumber nasional yakni Usep Setiawan (Tenaga Ahli Utama KSP) dan Dewi Kartika (Sekjen KPA), Paolus Hadi (Bupati Sanggau), dan perwakilan komunitas lokal.

Dalam tema “Peran dan Tantangan Perempuan Adat dalam Pelestarian Budaya dan Alam” pada Senin (24/5/2021) akan melibatkan Andy Yentriyani (Ketua KOMNAS Perempuan), Nur Hidayati (Direktur EKNAS WALHI), Ansilla Twiseda Mecer (Ketua YKSPK) dan Emiliana (perwakikan perempuan dari Komunitas Iban Sebaruk dari Kab. Sanggau).

Narasumber lain adalah John Bamba, Dayakolog – Tokoh Kebudayaan Dayak Kalimantan, Mantir Pancur Kasih, J.J. Kusni – Sejarawan & Tokoh Kebudayaan Dayak Kalteng, Neilson Illan Mersyad – Cendikiawan Dayak Iban Universitas Kebangsaan Malaysia, Francis Wahono – Tokoh & Praktisi Ahli gerakan sosial Indonesia, dan 

Paul Suparno, SJ – Dosen USD Yogyakarta akan mempresentasikan tema “kedaulatan ekonomi rakyat berbasis glokalisasi kebudayaan lokal untuk pemerataan pembangunan & kesejahteraan masyarakat”.  

Kemudian, khusus tentang tema Literasi Media di Komunitas adalah Y. Ivie Abas (Pemred Ruai TV), Dian Lestari (Koordiantor SEJUK), A. Sutarman (Pemilik PH STARMAN dan Praktisi Youtuber) serta Roni B.T.B (Tim Redaktur kalimantanreview.com). Sedangkan, narasumber untuk tema Pembelajaran Masyarakat Adat Dayak dalam Menghadapi Tantangan Global di Masa Pandemi Covid-19 yaitu Nikodemus Ale (Direktur Walhi Kalbar), Benyamin Efraim (Ketua CUG Gemalaq Kemisiq/Direktur ID periode 2015-2017), Saulus Edy (Direktur PPSDAK), R. Giring (Peneliti ID) dan M. Yopos (Aktivis Organisasi Lokal RRGRK-Komunitas Tiong Kandang/Tim Peneliti Lokal). 

Dalam bedah buku “Pantang Tunduk” akan sharing tentang alasan mendasar mengapa para aktivis CU Gerakan harus menuliskan pengalamannya, yakni Benyamin Efraim. Kemudian Aris Munandar sharing “catatan kritis dan motivasi penulisan gaya bebas bertutur: pengalaman sebagai editor buku pantang tunduk”.  Pembedah/pembahas 1 adalah JJ. Kusni, pembedah/pembahas 2 adalah Iwan Nurdin, pembahas 3 Abdias Yas. Penanggap umum dari Borneo Institute, Palangkaraya yaitu Yanedi Jagau, rencananya sebagai penanggap umum dari aktivis CU Gerakan Filosofi Petani Kalimantan yakni Sunarto. Webinar secara onlinemenyediakan link: https://webinar-institut.dayakologi.id/.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *