Tantangan dan Harapan di 10 tahun CU FPPK

208 Views

Pontianak—Beberapa tantangan dan asa yang dihimpun tim kalimantanreview.com bersumber dari beberapa aktivis yang ditemui pada momentum perayaan sederhana 10 tahun CU FPPK baru-baru ini. 

Yuvensius, Manajer CU FPPK, kepada KR menyebutkan ada beberapa tantangan yang dihadapi baik internal maupun eksternal. Tantangan internal di antaranya adalah bagaimana melakukan peningkatan kapasitas ideologi gerakan kepada para aktivis di era digital saat ini dan ke depannya. 

Kemudian kinerja CU Gerakan dalam mengembangkan aspek usaha. Usaha produktif sebagai sumber pendapatan alternatif anggota, pun dirasakan masih belum maksimal. Selain itu, tantangan yang tak kalah rumitnya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa CUG bukan sekedar soal uang dan simpan pinjam.

“Konsep dan praktik CUG yang secara konkret berbasis karakteristik dan pengetahuan lokal belum sepenuhnya didukung negara. Hal ini misalnya adanya upaya pemerintah yang memberlakuan wajib pajak dan aturan administrasi yang mengekang inisiatif masyarakat untuk berdaya dan mandiri. Tantangan lain yaitu kemajuan teknologi informasi dan anjloknya harga komoditas usaha petani tak dipungkiri turut mempengaruhi kinerja CU Gerakan serta pengaruh dan dampak dari penyebaran pandemic Covid 19,”ujar Yuvensius.

Sementara itu, Kabid Organisasi dan Pengembangan SDM, Alberd mengatakan bahwa aktivis CU Gerakan harus mampu mendengar dan menyerap suara anggota dan masyarakat di wilayah pelayanannya. Dengan demikian kita bisa menawarkan saran dan solusi yang tepat. “Di lapangan seringkali ada anggota mengajukan pertanyaan yang tidak selalu berkaitan secara langsung dengan CU, misalnya bagaimana mengatur ekonomi keluarga, bagaimana menyisihkan biaya pendidikan anak, bagaimana menyiapkan biaya yang tidak terduga seperti sakit, keluarga yang meninggal, pernikahan keluarga, arisan dan banyak lainnya. Kita dituntut harus mampu memberikan jawaban dengan memberikan ilustrasi perhitungan-perhitungan yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh anggota,“terang Alberd. 

Ia juga menekankan agar para aktivis pemula harus mau belajar dan menerima tantangan dari lapangan. “Semua proses dan sistem berkaitan dengan akuntansi. Dulu saya tak sungkan belajar berhitung dengan program excel kepada rekan-rekan aktivis yang lebih senior. Saya juga harus banyak belajar untuk memahami istilah-istilah akutansi yang dipakai dalam berbagai produk di CUG,” kisah Alberd. 

Untuk 10 tahun CU FPPK, Alberd berharap seluruh usaha CU Gerakan ini terwujud. Lalu, aktivis dan seluruh elemennya terbebas dari virus Covid-19. “Selamat ulang tahun CUG FPPK yang ke- 10 tahun. Semoga ke depannya lebih mampu lagi mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat ‘Dayak’ dan masyarakat tertindas pada umumnya,” harap Alberd. 

Sudarminto, aktivis CU FPPK dari Pangkalatn Banua Aruk, menyampaikan kesan dan harapannya di mana hingga di usia ke- 10 tahun ini, para aktivis dan pengurus selalu kompak meskipun di tengah situasi yang sulit seperti di masa pandemic Covid-19 saat ini.  “Harapan saya juga harapan kita bersama, semoga CU FPPK semakin maju lagi ke depannya,” kata Sudarminto. 

Selanjutnya, Kihon, aktivis CU FPPK dari Pangkalatn Benua Menukung,  mengatakan bahwa selama 10 tahun ini banyak hal yang telah dialami masyarakat, terutama yang berkaitan dengan keseimbangan ekonomi. Dengan adanya CUG ini, saya merasa bahwa CUG ini menjadi wadah mempersatukan masyarakat dalam mengelola kekayaan sumber daya  alam yang ada di masing-masing wilayah masyarakat di pedalaman. Kita harus memperluas wilayah pelayanan CU FPPK ini. 

“Ke depannya kita perlu meningkatkan kerjasama dan memperluas wilayah pelayanan supaya manfaat kehadiran CUG dirasakan seluruh masyarakat,” tukas Kihon. Sementara itu, aktivis lainnya, pada umumnya mengatakan turut bersyukur dan berharap CU FPPK terus berkiprah dan mampu berkembang meskipun dalam situasi sulit, seperti diungkap Margeratha Nendut, aktivis asal Menukung. “Saya bersyukur karena bisa bergabung di CUG ini. Melalui CUG ini, masyarakat kecil mampu menyimpan sedikit dari hasil usahanya dan mempunyai simpanan dan mendapatkan perlindungan. Semoga bisa terus berkembang ke depannya dalam kondisi apa pun,”harap Margaretha. 

Semoga tantangan dan harapan tersebut di atas dapat ditanggapi dengan terus berusaha meningkatkan kinerja, profesionalitas, dan pengabdian sepenuh hati demi mewujudkan cita-cita besar dengan semakin memberikan manfaat yang konkret kepada aggota dan masyarakat umumnya. 

Penulis: Yeri & Alberd.

Foto: Nani Weni.

Editor: K. Gunui’ & Giring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *