Ngongkat Saleb
jauh dari gangguan roh jahat. Ayam yang sudah disembelih dan diambil darahnya tersebut, dibersihkan dan dibakar untuk dimakan bersama oleh semua yang hadir sembari menyicipi tuak yang dibawa. Setelah itu salib dibawa/ diarak menuju kampung dengan iringan tetabuhan gong dan gendang yang dapat membawa orang untuk menari sembari mengarak Salibnya. Pada saat yang bersamaan, sembari mengiringi pengarakan salib dan berbagai alat pertanian lainnya tampak beberapa orang menari mengikuti irama musik yang ada dengan penuh sukacita. Saat ini tempat untuk mengumpulkan salib berada di simpang Lintang lama, yang jaraknya kira-kira ½ jam dari kampung. Dengan berjalan kaki, setiap kepala keluarga membawa salib dan alat pertaniannya menuju kampung. KR mengamati rombongan tersebut hanya terdiri dari kaum pria saja.

Sesampai di kampung, kaum perempuan sudah menunggu rombongan perarakan dengan masing-masing membawa sebotol tuak. Minuman tradisional Dayak hasil fermentasi dari beras kampung campur ramuan ragi tersebut dimaksudkan sebagai sambutan kepada semua rombongan pembawa salib dan alat-alat pertanian. Mereka telah berjalan cukup jauh. Sehingga diberi minum tuak sebagai pemulih rasa lelah. Semua warga kampung, terdiri dari anak-anak, orang tua, laki dan perempuan terlihat bersemangat menanti kehadiran rombongan pembawa salib dan alat pertanian yang segera setelah itu dikumpulkan di tempat yang disediakan. Kemudian diritualkan dengan korban berupa menyembelih ayam kampung untuk diambil darahnya dan mengoleskannya pada salib dan alat-alat pertanian diiringi “doa-doa” atau bepomang (Bhs: Pompakng). Selama proses acara tersebut, musik dari tetabuhan gong dan gendang tidak henti-hentinya mengiringi sesuai tahapan acara. Ketika ritual sedang berlangsung maka alunan musik lebih pelan hingga berhenti sejenak. Usai ritual, musik kembali bertabuh pelan hingga rancak menyemangati semua yang hadir dalam ritual Ngongkat Saleb. Selanjutnya ayam dibersihkan dan dibakar untuk dimakan bersama.
Menurut warga, ritual Ngongkat Saleb sudah turun-temurun dan diadakan setiap tahun, di mana setelah panen padi, salib ladang beserta alat-alat pertanian dibawa ke rumah untuk disimpan hingga musim perladangan berikutnya; dibawa ke ladang lagi untuk disimpan di ladang atau di lumbung hingga masa panen berakhir, begitu seterusnya. Rata-rata salib yang digunakan terbuat dari kayu ulin/belian sehingga dapat digunakan untuk waktu yang lama. Pada jaman dahulu, sebelum ritual Ngongkat Saleb, warga memainkan gasing di kampung. Namun sekarang hal tersebut tidak dilakukan lagi. Dahulu kala, selain salib, alat pertanian dan hasil ladang, juga ternak yang ada di ladang turut dibawa ke rumah setelah musim panen usai. Begitulah ritual Ngongkat Saleb dilaksanakan sebagai pertanda akan dimulainya (baca: pembuka) Gawai Dayak Pompakng yang ada di Lintang Kapuas, Sanggau itu.
Salah satu warga dan tokoh Lintang Kapuas, Petrus Kanisius (55), saat berbincang dengan KR mengutarakan harapannya supaya para generasi muda terus menjaga kelestarian ritual, budaya dan makanan aslinya serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalamnya sehingga ke depannya semakin dikenal oleh masyarakat luas. [ ]

