Menunjang Keberlanjutan Pangan di Batas Negeri dengan Pelatihan Pupuk Organik

187 Views

“Pupuk organik bekerja menyuburkan tanah yang disenangi oleh beragam tanaman untuk bertumbuh. Sedangkan pupuk kimia hanya menyuburkan tanaman, tetapi mengurangi tingkat kesuburan tanah,” (M. Kadol).

Segumon, Lubuk Sabuk, Kec. Sekayam, KR

Deru suara mesin pencacah bahan dasar untuk pembuatan pupuk organik itu nyaring memenuhi telinga 30-an warga pada sore, hari jumat (14/8/2020) yang dilaksanakan di Balai Dusun Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, tepatnya di kawasan perbatasan RI – Sarawak. Warga tersebut adalah peserta pelatihan pembuatan pupuk organik yang datang dari Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk dan warga Kampung Guna Baner, Desa Sungai Tekam. Hampir seluruh peserta terdiri dari kaum perempuan. 

Mencacah bahan pembuatan pupuk organik dengan mesin pencacah. Foto: Darius Culen/Sekber KTJ.

Pelatihan tersebut diadakan atas kerjasama Sekretariat Bersama Komunitas Tampun Juah – Institut Dayakologi dengan organisasi lokal Laja Lolang Basua’ (LLB). Menurut Markus Kadol (47), pelatih praktik pembuatan pupuk organik tersebut, pelatihan diadakan untuk menunjang keberlanjutan pemenuhan ketersediaan pangan yang beragam di tengah landaan dampak Pandemi Covid-19 melalui peningkatan penggunaan pupuk organik, dan mengurangi penggunaan bahan kimia. 

Pupuk Organik Menyuburkan Tanah, Pupuk Kimia Mengurangi Tingkat Kesuburan Tanah

Dalam kesempatan tersebut, Pak Kadol memaparkan alur pembuatan pupuk organik dan keunggulannya serta bedanya dari pupuk kimia. “Salah satu perbedaan pupuk organik dari pupuk kimia adalah pupuk organik bekerja menyuburkan tanah yang akan berdampak bagus bagi pertumbuhan dan kesuburan tanaman di tanah tersebut. Berbeda dari pupuk kimia yang hanya menyuburkan tanaman, tetapi mengurangi tingkat kesuburan tanah. Pupuk organik memberikan keuntungan jangka panjang dibanding pupuk kimia yang dapat merusak tanah,” imbuh pria asal Segumon Mawa tersebut.

Daria Judin (51), peserta pembuatan pupuk organik.

Daria Judin (51), warga perempuan, asal Segumon, saat usai mengikuti pelatihan tersebut menyebutkan bahwa membuat pupuk organik ternyata cukup mudah, pasalnya bahan bakunya tidak sulit ditemui di sekitar kampung, sebut saja batang pisang, daun bambu, daun makuna dan air. “Dengan mudahnya mencari bahan baku serta keunggulan jangka panjang yang ditawarkan, harusnya kita tidak ragu lagi untuk menggunakan pupuk organik,” tambahnya. Pelatihan pembuatan pupuk organik padat tersebut diawali dengan persentasi teori dari Markus Kadol, kemudian, dilanjutkan dengan praktik melumatkan bahan baku menggunakan mesin pecacah yang dimiliki Laja Lolang Basua’ (LLB). Seluruh peserta tampak cukup puas setelah berpraktik bersama dan bersemangat segera membuat pupuk organik sendiri. 

Penulis: Yeri.

Foto: Darius Culen/Sekber KTJ.

Editor: R. Giring & K. Gunui’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *