KEBAT, KAIN TENUN IBAN SEBARUK DUSUN SUNGAI SEPAN TERANCAM TAMAT

148 Views

Penulis: R. Giring | Foto: Nanda | Editor: R. Giring & Kriss Gunui’

Sungai Sepan, Malenggang, Sekayam, KR—Sudah lebih 50 tahun, “kebat” atau kain tenun asli Dayak Iban Sebaruk, Dusun Sungai Sepan, Desa Malenggang Kec. Sekayam Kabupaten Sanggau ini tidak dibuat lagi. Penerus yang bisa menenun sudah tidak ada lagi. Kain tenun asli Dayak Iban Sebaruk terancam punah.

Keadaan tersebut diterangkan Apai Jawin, sesepuh Iban Sebaruk, Sungai Sepan Desa Malenggang, Kec. Sekayam belum lama ini. Kepada Tim Institut Dayakologi, ia menjelaskan jika “kebat” kain asli kerajinan tenun Iban Sebaruk di Sungai Sepan sudah tidak pernah dibuat lagi. Kain tenun asli “kebat” itu bisa dikatakan sudah punah lantaran sudah tak ada lagi penenunnya yang mampu mewariskan keterampilan menenun kepada generasi yang lebih muda.

“Satu-satunya pewaris pengetahuan menenun kain “kebat” di kampung ini adalah nenek saya, yaitu Nyunta, tapi beliau sudah lanjut usia sehingga dia sudah tidak mampu lagi menenun,” kata Idrus, pemuda Sungai Sepan.

Pemuda Sungai Sepan, yang hari-harinya mengajar di PAUD Nguan Menua ini menjelaskan bahwa kaum muda, lebih lagi warga perempuan di Sungai Sepan ingin sekali mengangkat kekhasan kerajinan tenun Iban Sebaruk tersebut.

Isteri Kadat Sungai Sepan, Ayang membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, para pemudi dan ibu-ibu ingin sekali belajar jika ada yang mengajarkan. “Kami (ibu-ibu: Red) dan anak-anak gadis Sungai Sepan sebenarnya sangat ingin belajar menenun, tapi di kampung ini sudah tak ada lagi yang bisa menenun,” ujarnya.

Sambil memperlihatkan “kebat”, kain tenun warisan dari orang tuanya, Ayang menambahkan jika dia bersama ibu-ibu yang lainnya siap belajar bersama untuk menghidupkan kembali pengetahuan asli menenun khas Iban Sebaruk di kampungnya.

Iban Sebaruk di Kab. Sanggau menyebar di dua desa yaitu Malenggang dan Sungai Tekam,  Kec. Sekayam, berbatasan dengan Sarawak, Malaysia dan Kab. Sintang.

Tim Institut Dayakologi dan penulis pada, Jumat (17/6/2022) berdialog dengan ibu-ibu dan warga tentang keterampilan menenun “kebat” kain tenun asli Iban Sebaruk di Sungai Sepan yang terancam punah.

Di Kabupaten Sanggau, Subsuku Dayak dari rumpun Ibanik yakni Iban Sebaruk belum terlalu dikenal dibandingkan Subsuku Dayak lainnya. Sedangkan di daerah Kab. Sintang dan Kapuas Hulu, beberapa Subsuku Dayak dari rumpun Ibanik, di antaranya Iban dan Dsa masih terus berusaha melestarikan pengetahuan asli warisan tradisi nenek moyang mereka khususnya dalam keterampilan menenun ini.

REVITALISASI

Direktur Institut Dayakologi, Krissusandi Gunui’ mengatakan jika pihaknya akan merevitalisasi kerajinan tenun khas Iban Sebaruk tersebut. ID akan mendampingi warga Iban Sebaruk, Sungai Sepan untuk merevitalisasi kerajinan tenun aslinya. “Kami mendukung tekad warga Sungai Sepan ini sesuai kemampuan kami. Jaringan ID bisa kita maksimalkan. Yang penting semangat kerja sama dan kekompakkan kita terus dijaga. Bagaimana pun, peran pendamping dan pihak lain hanya bersifat dukungan dan menggerakkan saja. Yang paling utama adalah semangat belajar dan saling memberi dukungan di antara warga Iban Sebaruk di Sungai Sepan ini, ” ujar Gunui’, putera Dayak Dsa, masih rumpun Ibanik ini semangat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *