Jurnal Budaya Kusni Sulang: Bumi yang Bercirikan Chaos
Saya memahami kosa-kata [Dayak] itu secara hakiki tidak lain dari sinonim dari kata pejuang. Menjadi Dayak adalah kutukan untuk menjadi pejuang. Karena chaos tidak mungkin diatasi tanpa perjuangan habis-habisan.
Kalau begitu, mereka yang tidak mau berjuang untuk memanusiawikan bumi (tanah air, kampung-halaman), kehidupan dan masyarakat, apakah masih bisa disebut Dayak?
Dengan menggunakan standar pertanyaan ini, saya melihat keadaan Kalteng hari ini, saya berkesan bahwa Kalteng yang dulu disebut Tanah Dayak ternyata makin kekurangan Dayak, dan Indonesia kekurangan Orang Indonesia. Karena Dayak adalah sinonim dari pejuang (fighter) dengan tujuan jelas yaitu memanusiawikan bumi, kehidupan dan masyarakat, saat meninggalkan Saran Danum Sangiang.
Baca juga: https://kalimantanreview.com/dayak-bukan-budak-bapak-bapak/
Berangkat dari pandangan demikian, pada 2025, saya pernah menulis sajak ”Percuma Mengaku Dayak” dan ”Apakah Betul Kita Masih Dayak?” seperti di bawah ini:
Apakah Betul Kita Masih Dayak?
Apakah betul kita masih Dayak yang jujur pada diri
Masih Dayak yang “mamut-mentėng, pintar-harati, mamėh-ureh”?
Apakah betul kita masih Dayak
Anak alam yang merdeka tahu hakekat hidup dan mati
Datang dari Saran Danum Sangiang?
Memandang sekitar perjalanan kulalui dari hulu hingga muara
Aku khawatir Dayak yang tersisa hanyalah nama
Kalau tidak, mengapa mesti ”Manggatang Utus”
”Batang tarandam”
Lukisan kita di dasar lembah?
Mengapa semua hapal sangat lancar
Pesan lama para tetua:
”Jangan sampai punya tanah berladang di tepi
Punya garam hambar di rasa
Punya atap basah muatan?”
Apakah kita bukan para budak kekinian
Anak jajahan suka menjilat ke kiri ke kanan
Mengambil jalan gampang, latah dan memilih jadi embel-embel
Bangga hanya menjadi penjinjing tas para majikan
Jadi pengawal dan sopir serta seragam?
Kukira sebaiknya kita kembali berani belajar membaca sejarah. Mengenal diri kembali di tengah kesibukan ber-facebook, berinstagram dan bermedsos yang mestinya sekunder.
Kembali menjadi Dayak yang jujur pada diri
Kukira hari ini kita di bawah
Tanda pasti ada yang salah.
Sebelum berbicara lebih jauh tentang Manusia Dayak dan konsep-konsepnya, saya mencoba menafsirkan beberapa istilah. Istilah pertama, tentu saja kosakata chaos yang menjadi ciri Saran Danum Kalunen.
Dalam bahasa Indonesia, ”chaos” berarti kekacauan atau ketidakteraturan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak terkontrol atau sulit diprediksi. Selain itu ”chaos” juga diartikan sebagai kebingungan total (Media Indonesia, 16/9/2025).
Menurut konsepsi Dayak Katingan, kekacauan itu tidak pernah berakhir. Satu kekacauan teratasi, kekacauan lain akan tiba.

