INSTITUT DAYAKOLOGI MENYERAHKAN DOKUMEN ETIMOLOGI LEMUKUTAN KEPADA DISDIKBUD KAB. BENGKAYANG
“Dokumen ini dilengkapi dengan 10 (sepuluh) potensi OPK Pulau Lemukutan, yang sedianya dapat ditindaklanjuti dengan revitalisasi, inventarisasi dan pendokumentasian lanjutan secara mendalam sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan kebudayaan bagi desa ini,” pungkas Gunui’.

Agustinus, Kabid Kebudayaan DISDIKBUD Kab. Bengkayang, sesaat usai menerima dokumen “Etimologi Lemukutan” mengatakan pihaknya berkomitmen untuk menindaklanjuti kesimpulan dan rekomendasi yang ada di dalam dokumen tersebut.
“Kami (DISDIKBUD Kab. Bengkayang-Red) tentu sangat berterima kasih, karena ID (Institut Dayakologi-Red) telah menyiapkan dokumen yang pastinya akan sangat berguna untuk pemajuan kebudayaan di daerah ini nantinya. Tentu saja kami akan menindaklanjutinya sesuai kapasitas yang ada, termasuk melalui kerja sama dengan pihak Institut Dayakologi,” ujarnya optimis.

Kesimpulan
Kata “mukut” dan “mukutan” dapat ditemukan dalam surat yang ditulis pada tahun 1888 atau tahun hijriah 1321 oleh Tan Nandud, dan surat yang ditulis pada tahun 1913 atau tahun hijriah 1331. Ini menunjukkan bahwa “MUKUTAN” yang merupakan cikal bakal LEMUKUTAN sudah digunakan dikenal (paling tidak) sejak tahun tersebut.
Nenek moyang warga penduduk Pulau Lemukutan telah mengenal atau mengetahui bahwa nama atau julukan “MUKUTAN” ditujukan untuk Pulau ini yang kemudian berkembang menjadi “LEMUKUTAN”.
Hal itu sangat dimungkinkan mengingat posisi strategi geografis Pulau Lemukutan berserta gugus pulau lainnya di wilayah ini menghadap ke arah Laut Cina Selatan yang menjadi lintasan dalam hubungan antar-pulau dan antar-pelaku dagang pada masa itu. Keberadaan pala, cengkeh dan kelapa yang hingga kini masih menjadi tumbuhan utama di daratan pulau ini tentu tak luput dari persilangan dan/atau hubungan-hubungan perniagaan di masa itu. Bahkan sampai dengan hari ini.
Etimologi (sejarah asal-usul nama) Lemukutan memiliki dimensi sejarah dan pengalaman nenek moyang warga pulau ini dalam konteks adaptasinya dengan ekosistem sosial ekologis pulau. Tentu hal tersebut dipengaruhi kondisi geografis dan posisinya terhadap ekosistem di luarnya sehingga menghadirkan berbagai tantangan dan peluang-peluang karena potensi kekayaan alamnya yang ada di ekosistem laut maupun darat dengan adat istiadat dan budayanya yang dinamis.

Keberadaan Desa Pulau Lemukutan sebagai Pulau Budaya juga didukung oleh keberadaan pulau-pulau lainnya di sekitar Lemukutan yang memiliki ciri dan karakteristik yang menonjol dalam keragaman ekosistem lautnya sehingga turut menunjang Pulau Budaya yang tidak saja kaya dengan keragaman hayati ekosistem lautnya, tapi juga ekosistem daratan dan sosial budaya masyarakatnya.
Rekomendasi
Untuk mendukung upaya pemajuan kebudayaan Desa Pulau Lemukutan sebagai Pulau Budaya yang kaya karakter lokalnya ini, maka patut diprioritaskan pengembangan SDM warga penduduk desa ini, terutama kaum mudanya sebagai pewaris masa depan. Hal itu membutuhkan dukungan kebijakan, pendanaan, infrastruktur pendukung dan pendampingan berkelanjutan, baik dari Pemda Kab. Bengkayang melalui OPD terkait, maupun pihak lain, yang dilakukan secara kolaboratif, partisipatoris, ramah lingkungan, dan setara satu sama lain dengan tetap menempatkan itu semua pada pertimbangan hak-hak ekosob dan sipol warga setempat. [*]

