Dari Padula Italia Menelusuri Sungai Dan Belantara Tanah Dayak: Kisah Seorang Imam Misionaris CP

1.787 Views

Oleh: P. Pietro di Vincenzo, CP

Artikel ini memiliki nilai sentuhan humaniora, tentang perjuangan hidup sejak kecil hingga menjadi seorang imam yang penuh dedikasi di tengah banyaknya tantangan – diambil  dalam momen kata sambutan 50 Tahun Imamat Pastor Petrus, CP di Lingga 15 Agustus 2020 – sebuah kenangan yang dimulai dari Padula, Italia, pada 15 Agustus 1970 silam, yang dirangkumnya dalam 2 kata, “Ransel dan Hutan Belantara”. Tim menyajikannya berikut ini.

Aku berasal dari keluarga yang terlahir atas 7 bersaudara; 5 laki-laki dan 2 perempuan. Dari 7 bersaudara itu, aku adalah anak yang bungsu. Keluargaku merupakan keluarga yang sederhana. 

Aku pernah menangis di rumah hanya karena lapar, dan ibuku yang bernama Sesilia pergi ke rumah tetangga untuk meminjam satu buah roti yang kemudian dikembalikan. Kala itu, aku masih berumur 12 tahun, dan sudah menggembalakan domba-domba di pegunungan pada musim panas di daratan dan pulang pada musim dingin di Italia Selatan. 

Dari Italia Tengah menuju Italia Selatan, aku berjalan kaki 300 Km lebih untuk mengantar domba-domba. Perjalanan ditempuh selama 3 minggu berturut-turut, demikian juga pada musim semi pada bulan Mei. 

Kembali ke pegunungan selama 3 minggu dan masih tetap ditempuh dengan berjalan kaki. Itu aku lakukan dalam keadaan cuaca apapun karena kawanan domba tidak boleh ditinggalkan sendirian. Jika ditingkalkan, maka mungkin saja serigala dan binatang-binatang buas lain akan memangsa domba-domba itu. 

Pengalamanku dalam mengerjakan tugas tersebut mengantarkanku pada satu kesimpulan bahwa domba adalah binatang paling jinak di antara segala ternak di dunia. Mungkin itulah mengapa Yesus mengumpamakan diriNya sebagai “Anak Domba Allah”. Itu pula yang membuatku takut, jangan sampai domba-domba ku dicuri pada malam atau siang hari. Hidup dalam keadaan seperti ini menjadikanku selalu waspada dan mulai saat itu ketika malam sudah datang, aku tidur dengan mata sebelah. Semua ini sudah kualami sebelum umur 15 tahun. 

Pengalaman seperti ini sangat membantuku dalam hidup yang aku jalani sampai saat ini yaitu menjadi missionaris di Kalimantan di antara suku Dayak yang aku kasihi.

Kala umurku baru genap 15 tahun, aku masuk seminari dan ketika itu tahun ajaran pun sudah 3 bulan dimulai. Secara otomatis dengan sendirinya aku terlambat 3 bulan masuk sekolah SD, karena ayahku tidak melepaskan ku untuk masuk seminari. Maka kelas III SD aku terpaksa meloncat dua kelas sekaligus (kelas IV dan kelas V) dan langsung duduk di bangku kelas VI untuk mengejar teman-temanku.

Perjuangan ini tidaklah mudah, apalagi berusaha dalam studi untuk mengikuti ritme sekolah bersama teman-teman terutama di kelas VI SD. Meskipun kala itu terbilang sulit, namun aku mampu mengejar langkah teman-temanku. 

Diperlukan 16 tahun Studi 

Untuk menjadi seorang imam diperlukan 16 tahun studi; 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP dan 1 tahun di Novisiat, 2 tahun di ilmu filsafat, 3 tahun di ilmu teologi dan 1 tahun untuk spesialisasi tentang ilmu Teologi Parokial. Untuk menjadi seorang imam, sejumlah kurikulum studi harus dikuasai.

Pada tahun terakhir kuliah, aku diberi gelar Drs di Kota Roma tentang ilmu Teologi, yaitu tentang pengetahuan Ketuhanan belajar tentang Kitab Suci. Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1970 aku ditahbiskan sebagai imam menurut kehendak Tuhan Yesus. 

Selanjutnya setelah 3 tahun lebih dari pentahbisan imam, dan tepat pada tanggal 25 Januari 1974, Pesta Santo Paulus Rasul (Pertobatan Santo Paulus, Rasul) aku berangkat ke Indonesia dengan tempat keberangkatan menuju tanah Borneo. Kala itu, aku turun dari pesawat Garuda di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta pada pukul 10.00 WIB pagi. Kemudian dari Jakarta, kami 3 orang (2 Pastor dan seorang Bruder) langsung berangkat menuju Singkawang untuk belajar Bahasa Indonesia selama 2 minggu. 

Kepada kami bertiga, masing-masing diberi seorang guru, kemudian kami berangkat ke Sekadau, dan 2 minggu kemudian, aku diajak P. Gabriel Ramoc Chiaro, yang adalah seorang pastor dan sudah berpengalaman, lalu kami menuju ke Stasi Pakit, dan  kemudian beberapa kali aku berturne bersama dia sembari belajar. 

Sesudah itu turne kulakukan dengan perjalanan sendirian untuk mengunjungi umat di kampung-kampung, dan aku telah menjalankannya dengan komitmen yang tak henti-hentinya.

Menjadi WNI dan Berkarya di Antara Orang Dayak

Aku telah mendapat kewarganegaraan Indonesia pada tanggal 24 Januari 1985, terhitung sudah 35 tahun lebih yang lalu. Selama 46 tahun di tanah Kalimantan, aku telah menggunakan waktu secara terus-menerus dan tidak terasa, tahun demi tahun, mengunjungi umat di mana saja mereka berada, baik di kampung-kampung besar maupun di tempat sepi. Kabar gembira tetap diwartakan dalam kondisi cuaca apapun, sabda Tuhan tetap diprioritaskan sebagai tugas utama dalam hidupku.

Pulau Borneo adalah pulau nomor 3 yang terbesar di dunia. Iklimnya panas-lembab menjadi ujian bagi orang yang hidup di Kalimantan. Bagiku hal ini “No Problem”, sebab sejak kecil sudah biasa menggembala di hidup yang sulit. Pengalamanku sebagai gembala domba telah membentuk diri pribadi untuk selalu bersikap tahan dalam segala kesulitan hidup dan menyesuaikan diri dengan segala keadaan sekalipun serba sulit. Segala jenis makanan, apapun itu yang diberikan kepadaku itu, semua “No Problem” untuk menjadi santapan. 

Sejak awal aku hidup di Tanah Kalimantan, aku terjun secara total dalam kerasulan melalui turne berturut-turut dalam situasi apapun. Dalam turne itu yang menjadi prioritas dan fokus utama adalah menggerakkan segenap tenaga dan fisik untuk menggunjungi umat melalui turne berkelanjutan.

Selama 15 tahun, aku menjelajahi seluruh daerah Sungai Belitang Hulu – Belitang Hilir sampai dekat perbatasan Sarawak, dan selama 25 tahun aku menelusuri pelosok-pelosok daerah Sungai Menterap, Sungai Kerabat dan Sungai Sekadau. Bahkan seluruh daerah Suku Taman, hingga tanah Meliau dan itu juga sebagian dari Keuskupan Sintang. 

Kini sudah hampir 6 tahun aku bertugas di Paroki Sungai Ambawang yang berpusat di Lingga (Keuskupan Agung Pontianak). Kunjungan umat di daerah-daerah sebelumnya, dilaksanakan terus-menerus dengan jalan kaki, kecuali di Paroki Sungai Ambawang yang adalah daerah banyak Sungai.

Sejak semula, masuk di Tanah Kalimantan, aku sudah tertarik sekali dengan hidup orang Dayak yang mirip seperti kehidupan di waktu aku masih kecil, persis di Kampung Halaman, Padula yang letaknya sekitar 200 KM dari Roma. Dulu pada tahun 70an-80an, ketika musim kemarau dan musim hujan masih tetap stabil dan teratur. Jadi, pada musim hujan, tetap hujan dan pada musim kemarau tetap kemarau. Di dalam kedua musim ini, umat di kampung-kampung tetap dikunjungi tanpa syarat dan dalam situasi apapun. 

Aku merasa dikhususkan, terpanggil untuk mewartakan Sengsara Yesus di antara Suku Dayak. Di tahun-tahun kehidupanku sebagai Missionaris, aku telah berjalan tanpa lelah dan mengalami segala bahaya yang tersembunyi di rimba belantara. Aku dapat merangkumnya dengan baik. 

Menaklukkan Tantangan, Mengasah Dedikasi 

Seluruh hidupku selama di tanah Borneo ini terangkum dengan dua kata saja yaitu Ransel dan Hutan Belantara, ini berarti “angkat ransel dan berangkat turne”. Segala tantangan dalam hidupku sebagai missionaris tidak menyurutkan semangatku. Namun kerasulan mengandung sengsara; “Jarak yang jauh antara kampung-kampung, lumpur setinggi lutut, mengigil karena demam malaria, lapar, sakit perut, kelelahan, sesat dalam perjalanan, hujan lebat, berjemur – disertai tifus, perut yang memberontak, bahaya ular berbisa, bahaya banjir yang dalam dan berkelanjutan, bahaya karam di sungai Kapuas, biasa lesu tetapi tidak hilang asa, biasa putus asa dan kesepian. Dalam semuanya ini semangatku untuk merasul tetap bertahan, bahkan tidak meninggalkan tekad untuk mewartakan Injil.

Dalam segala hal tersebut, aku merasa terkesan dengan hidup Paulus dari Tarsus yang oleh Injil melakukan segala-galanya. Menderita segala-galanya, mengorbankan segalanya, mengunjungi segala sudut dunia di mana orang belum mengenal Yesus Kristus. Rasul Paulus pada akhir hidupnya berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” (2 Tim 4,7). Rasul Paulus adalah seorang pejuang yang gigih, penjelajah tanpa kenal lelah, pembalab tangguh yang telah mencapai garis finish. Seluruh hidup Rasul Paulus adalah seperti seorang Petani Maraton, yang berlari untuk mewartakan Injil di mana saja. “Cinta Kasih memerlukan Hati Yang Tahan Uji”.

Dalam tugas perutusanku di Kalimantan, perjumpaan pribadiku dengan Yesus Kristus lebih meningkat karena Roh Kudus yang mendampingiku dalam pewartaan Injil di antara Suku Bangsa Dayak. Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha Baik karena telah membimbing langkah-langkahku selama ini, melalui segala “Jalan Tikus” di Borneo. 

Selama bertugas di Kalimantan Barat, aku telah menerimakan sakramen permandian kepada 12.100 orang. Sedangkan misa kudus yang telah kupersembahkan selama 50 tahun ini sebanyak 19.129 kali. Memoar ini merupakan rangkuman cuplikan 46 tahun pengalamanku berkarya sebagai misionaris CP dari Kongregasi Passionis yang bertugas di Kalimantan Barat.

Pastor Pietro di Vincenzo yang kerap kali dipanggil dengan nama Pastor Petrus, CP dari Kongregasi Passionis bertugas di Kalimantan Barat.

Tulisan ini pernah dimuat di https://pontianak.tribunnews.com/2020/09/09/kisah-pastor-petrus-cp-sang-misionaris-ransel-dan-rimba (9/9/2020) oleh Samuel, Jurnalis Majalah Duta Keuskupan Agung Pontianak dengan judul “Kisah Pastor Petrus CP, Sang Misionaris Ransel dan Rimba”.

Kredit Foto: Samuel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *