Christian Mara: Seniman Dayak Itu Tutup Usia
Di perbincangan singkat kala itu, sosok seniman yang bersahaja inipun menyatakan kegembiraannya lantaran belum lama, waktu itu, beberapa tokoh adat dan perangkat Desa Rodaya, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang baru saja membeli satu set alat musik darinya. Beberapa rekan yang mengenal baik Christian Mara mengatakan bahwa alat-alat musik hasil karyanya juga sering dibeli oleh kenalannya dari Malaysia dan Brunei Darusallam.
Seorang ibu, warga umat Gereja Kuasi Paroki St. Petrus Kanisius Lanud Supadio mengatakan bahwa Christian Mara adalah tokoh seniman orang yang rendah hati dan sederhana. “Bapak Christian Mara tetap memilih menggunakan sepeda jika bepergian, meskipun isteri dan anak-anaknya mengendarai mobil. Beliau itu senang dan selalu membuka diri kalau ada komunitas atau sanggar-sanggar yang berkunjung ke rumah betangnya untuk sekadar berdiskusi dengannya,” kata ibu Mar (bukan nama sebenarnya) kepada penulis.
Menyumbang gong untuk Komunitas Tampun Juah
Saat menerima undangan dari panitia even Gawai Serumpun Tampun Juah (GSTJ) pada 2019, beliau sangat senang. Sayang sekali, karena ada halangan dia tidak bisa hadir. Songkon, aktivis Dayakologi menceritakan jika beliau akan menyumbang satu gong ukuran besar karena dia tidak bisa hadir di even gawai itu.
Menurut penuturan Songkon, beliau sangat bangga ketika bilang akan menyumbang sebuah gong untuk komunitas Tampun Juah.
“Saya ndak bisa hadir di gawai Tampun Juah nanti. Tapi saya mau sumbang satu gong, khusus untuk komunitas Tampun Juah. Tolong sampaikan kepada panitia, ya!” cerita Songkon. “Waktu itu Pak Christian Mara ngomong dengan saya di ruang atas rumah betangnya ini,” ujar Songkon, Kamis (20/8/2026), saat melayat di rumah duka di Gg. Perjuangan, Jl. Wonodadi 1.

Dedikasinya dan konsistensinya dalam dunia kesenian, menghantarkan tokoh seniman Kalbar ini menerima berbagai penghargaan. Kini, seniman Dayak yang murah senyum ini telah berpulang. Yang kehilangan bukan saja keluarganya. Tapi para penggiat seni dan orang-orang yang selama ini dekat dengannya turut kehilangan.
Selain telah menghasilkan puluhan bahkan mungkin ratusan alat musik tradisional, beliau juga mengarang lagu-lagu berbahasa Dayak Jangkang. Dia bahkan menyanyikan lagu-lagunya sendiri. Keterampilannya dalam bidang seni dan budaya Dayak bisa dikatakan lengkap.
Lewat berbagai karyanya, baik alat-alat musik tradisional seperti sape, ketobong, sobang, seruling, gong, kenong, saron, dan bansilabu, serta lagu-lagu yang ia ciptakan dan nyanyikan sendiri, Christian Mara tidak hanya melestarikan dan mewariskan pengetahuan tentang seni budaya Dayak, tapi juga memperkenalkan dan melestarikan khazanah Bahasa Dayak Jangkang.
Semoga kecintaannya pada seni budaya Dayak, optimismenya dalam proses melahirkan berbagai karyanya, dan sosoknya yang sederhana terus hidup di antara para seniman Dayak lainnya yang lebih muda.
Dalam peti pendingin jenazah yang sejuk, Christian Mara terbaring mengenakan busana adat Dayak, seperti tidur tenang, menyongsong Sang Pemilik hidup dan mati Manusia. Selamat jalan Bang Christian Mara.[]

