Berjalan Maju dengan Dua Kaki
Apa yang dikatakan oleh kejadian di atas? Saya membacanya bahwa keadaan di atas mengatakan bahwa antara atasan dan bawahan dalam birokrasi terdapat ketidaksederapan. Pihak yang di lapisan bawah mau memperlihatkan bahwa mereka pun punya kuasa dan berani tidak melaksanakan apa yang diputuskan oleh pihak atasan. Kekuasaan sekecil apa pun memang mudah memabukkan dan membuat pongah. Di berbagai dinas pada berbagai lapisan nampak adanya penyakit mabuk dan kepongahan kekuasaan serta kekuasaan ini dipandang sebagai sinonim dari kebenaran. Embel- embel yang menyertai kemabukan dan kepongahan kekuasaan ini adalah pungli. Pungli ini merata dari atas hingga ke bawah. Bahkan untuk minta tanda tangan lurah untuk surat-menyurat saja harus membayar dengan jumlah bervariasi. Keadaan begini melukiskan betapa parah penyakit hedonisme dan

penyalahgunaan kekuasaan begitu dalam diidap oleh birokrasi negeri ini. Karena itu perusak utama Republik dan Indonesia tidak lain dari barisan birokrat Negara, aparat Negara itu sendiri. Banyak sekali contoh lain yang kongkret dari Kalteng sendiri yang bisa ditulis di sini. Sedangkan dari kebijakan yang dipilih oleh Asisten III Herry Sasono memperlihatkan bahwa segalanya menjadi sederhana apabila penyelenggara Negara terkait sebagai organisator dan pemikir di bidangnya mempunyai kemauan, pengertian, wacana, kemampuan mendengar, tidak sok tahu, dan tidak menjadikan bidang yang menjadi tanggungjawabnya sebagai barang dagangan. Tidak menjadikan penyelenggaraan Negara sebagai lahan basah subur untuk meraup uang berlimpah. Kalau dihubungkan dengan pengembangan pariwisata yang sering dipidatokan, maka pidato-pidato itu akan menjadi celotehan kosong dan bau serupa petai hampa, apabila tidak disertai dengan sokongan nyata minimal terhadap pekerja seni di kota ini.
Tanpa bayar gedung
Asisten III Herry Sasono telah memberi contoh konkret yang baik dalam upaya mengembangkan kesenian di kota yang baru ia tinggali 10 bulan. “Hubungi saya kalau ada kesulitan,” ujar Herry di depan audiens pergelaran 29 Desember 2014 lalu. “Pertunjukan begini niscaya dilakukan paling tidak sebulan sekali,” lanjutnya. Soal penggunaan gratis Gedung Olah Seni untuk tempat latihan seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, Herry berjanji akan mendiskusikannya di tingkat Pemkot. Dengan adanya janji demikian, sekarang terpulang kepada para pekerja seni untuk berkarya dengan ragam yang kian bertambah dan tingkat mutu yang terus meningkat. Adanya dukungan penyelenggara Negara dan kegiatan berkarya dengan ragam yang meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas dari para pekerja kesenian, boleh jadi bisa disebut sebagai membangun dan memajukan kesenian dengan berdiri di dua kaki. Meluas dan meninggi, memadukan tradisi baik dengan kekinian yang maju, dengan karya-karya yang tinggi mutu isi dan artistiknya. Penyelenggara Negara yang diperlukan untuk kepentingan demikian adalah orang tepat di tempat yang tepat dan mampu mendengar. Apakah di tahun 2015 ini kita mampu berdiri dan berjalan maju dengan dua kaki atau masih berjalan dengan bangga menggunakan satu kaki seperti sekarang? [ ]

