Tengkawang, Peluang yang Terancam

6.096 Views

Tengkawang   biasanya   berbuah pada  usia  tumbuh  pada  8  hingga 9   tahun.   Pada   umur   pohon   12 tahun  bisa lebih  berproduksi secara maksimal, di mana dalam 1 ha dapat menghasilkan    600    sampai   9.000 kg buah. Tengkawang yang paling komersil adalah tengkawang tungkul, karena buahnya menghasilkan kadar minyak nabati yang paling tinggi.

Harga

Tumbuhan ini dulunya begitu populer di komunitas Masyarakat Adat Dayak di Kab. Bengkayang, Landak, Sekadau, Melawi, Sambas, Sintang dan Kapuas Hulu, termasuk di Kab. Ketapang. Adapun kisaran harga pasaran untuk keadaan sekarang jika dibeli  langsung  dari  masyarakat per kilogramnya berkisar Rp 3.000 s/d Rp. 8.000. Sama seperti halnya komoditas hasil hutan lainnya, harga tengkawang pun tidak menentu tergantung ketersediaannya dan permintaan pasar. Namun, tengkawang yang sudah disalai biasanya dipatok dengan harga lebih tinggi dibandingkan tengkawang   yang   dijual   langsung setelah diambil, tapi kisaran harga tengkawang  kering  dapat  mencapai Rp 10.000 s/d Rp 12.000,- per kg. Buah tengkawang mudah sekali berkecambah, sehingga buah yang jatuh dan langsung dipungut harus segera dijual, kalau tidak pun dapat diawetkan dengan cara disalai.

Untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari,  buah  ini  dijadikan mentega dan dapat dimakan dengan nasi panas sehingga menambah rasa lezat. Tengkawang menyimpan minyak nabati yang sangat bersahabat dengan alam karena manfaat ekologisnya sebagai   tumbuhan   unggulan   lokal dan mampu berkontribusi bagi daya dukung   ekosistem   sekitar   tempat tumbuhnya. Sifat tumbuhan ini bisa hidup berdampingan dan tumbuh bersama pepohonan lainnya di hutan.

Sekiranya perhatian pemerintah, riset dan teknologi pengolahan yang lebih baik lagi dapat menjadikan tumbuhan  di  belantara   Kalimantan dan sebagian Sumatera ini dapat kembali hidup di tengah-tengah gencarnya tumbuhan monokultur yang tidak  bersahabat  dengan  alam  dan kini semakin banyak ditanam di hutan Kalimantan dan Sumatera. Mari kita lestarikan tengkawang, sebagai wujud rasa  syukur  atas  karya  penciptaan dan pemberian Yang Kuasa dan melestarikan alam ini dengan segala keberagamannya. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *