Tengkawang, Peluang yang Terancam
Tengkawang biasanya berbuah pada usia tumbuh pada 8 hingga 9 tahun. Pada umur pohon 12 tahun bisa lebih berproduksi secara maksimal, di mana dalam 1 ha dapat menghasilkan 600 sampai 9.000 kg buah. Tengkawang yang paling komersil adalah tengkawang tungkul, karena buahnya menghasilkan kadar minyak nabati yang paling tinggi.
Harga
Tumbuhan ini dulunya begitu populer di komunitas Masyarakat Adat Dayak di Kab. Bengkayang, Landak, Sekadau, Melawi, Sambas, Sintang dan Kapuas Hulu, termasuk di Kab. Ketapang. Adapun kisaran harga pasaran untuk keadaan sekarang jika dibeli langsung dari masyarakat per kilogramnya berkisar Rp 3.000 s/d Rp. 8.000. Sama seperti halnya komoditas hasil hutan lainnya, harga tengkawang pun tidak menentu tergantung ketersediaannya dan permintaan pasar. Namun, tengkawang yang sudah disalai biasanya dipatok dengan harga lebih tinggi dibandingkan tengkawang yang dijual langsung setelah diambil, tapi kisaran harga tengkawang kering dapat mencapai Rp 10.000 s/d Rp 12.000,- per kg. Buah tengkawang mudah sekali berkecambah, sehingga buah yang jatuh dan langsung dipungut harus segera dijual, kalau tidak pun dapat diawetkan dengan cara disalai.
Untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari, buah ini dijadikan mentega dan dapat dimakan dengan nasi panas sehingga menambah rasa lezat. Tengkawang menyimpan minyak nabati yang sangat bersahabat dengan alam karena manfaat ekologisnya sebagai tumbuhan unggulan lokal dan mampu berkontribusi bagi daya dukung ekosistem sekitar tempat tumbuhnya. Sifat tumbuhan ini bisa hidup berdampingan dan tumbuh bersama pepohonan lainnya di hutan.
Sekiranya perhatian pemerintah, riset dan teknologi pengolahan yang lebih baik lagi dapat menjadikan tumbuhan di belantara Kalimantan dan sebagian Sumatera ini dapat kembali hidup di tengah-tengah gencarnya tumbuhan monokultur yang tidak bersahabat dengan alam dan kini semakin banyak ditanam di hutan Kalimantan dan Sumatera. Mari kita lestarikan tengkawang, sebagai wujud rasa syukur atas karya penciptaan dan pemberian Yang Kuasa dan melestarikan alam ini dengan segala keberagamannya. [ ]

