Para Malaikat di Sekitar Rumah Sakit: Kasih di Selasar Utama
Dengan semangat baru, ia melanjutkan langkah menuju laboratorium, siap untuk kembali mendedikasikan ilmunya, diiringi rasa syukur yang meluap karena Tuhan masih memberinya waktu untuk berkarya. Justina menghela napas panjang, memejamkan matanya sejenak, menikmati momen ini.
Ia tahu, perjalanan masih panjang, namun ia siap menghadapinya, dengan semangat baru, dengan tekad yang lebih kuat. Ia telah kembali, siap untuk mengukir kisah baru, kisah tentang perjuangan dan tentang pengharapan.
Ooo
Di tangga bianglala menyusup halus frekuensi nyanyian tulusnya.
Dua bulan lalu, kutinggalkan selasar ini dengan langkah yang berat.
Membawa raga yang harus menyerah pada pisau bedah.
CA Colorectal—sebuah nama yang sempat merampas ketenangan,
Memaksa rehat dalam sunyi, memulih diri dalam doa hening.
Hari ini, di ambang pintu rumah sakit yang kukenal,
Cahaya pagi menyentuh wajah ini, terasa begitu sakral.
Aku melangkah masuk bukan lagi sebagai pasien rapuh,
Namun sebagai hamba yang Kau beri izin untuk kembali melepas sauh.
Di depan pintu, senyum sapa para sekuriti menyambut hangat,
Suara yang membakar semangat.
Tangan-tangan cekatan cleaning service menyeka lantai,
Menyisipkan doa dalam anggukan, membuat hati damai.
Di antara aroma antiseptik dan derap langkah terburu,
Kurasakan kehadiran-Mu.
Hari ini, hambamu kembali, bukan sekadar untuk bekerja, Namun untuk memuliakan nama-Mu dalam setiap diagnosa dan sapa.

