Mengenal Orang Barito Abad XIX
Lebih ke hulu lagi terdapat Maanyan, yang dibahas dalam Bab VII. Maanyan adalah etnis dengan sejarah panjang—mereka pernah mendirikan Nan Sarunai. Bangert membagi Maanyan menjadi dua golongan: orang Melayu dan orang Dayak, hanya karena keberagaman kepercayaan mereka, yaitu Islam, Kaharingan, dan Kristen.
Pada tahun 1857, telah berdiri sekolah-sekolah di kawasan Maanyan, diprakarsai oleh Deningger di wilayah Soeta Ono dan Klemmer di kawasan Tamanggung Djaya Karti. Meskipun Soeta Ono dan Djaya Karti masih memegang teguh kepercayaan Kaharingan, masyarakat di sekitar mereka mulai memeluk Kristen.
Soeta Ono, yang telah mengenyam pendidikan, mendorong anak-anak Maanyan untuk bersekolah kepada Deningger. Pada masa pemerintahan Bangert sebagai gezaghebber, Soeta Ono bahkan telah menghapus praktik perbudakan (jauh sebelum Tumbang Anoi), serta melarang masyarakat Maanyan untuk berhutang kepada para pedagang. Saat itu, masyarakat Maanyan sudah maju dalam bidang pertanian dan kemampuan aksara, serta tidak banyak yang menjadi budak.
Perlu diketahui, pada Abad XIX, berhutang kepada pedagang membuat banyak orang menjadi budak. Bahkan diperjual-belikan.
Ketika Perang Banjar meletus, Soeta Ono dan Tamanggung Djaya Karti berpihak kepada Belanda. Itulah yang menyebabkan Pangeran Antasari membangun istana di Ringkau Kattan, karena bertujuan menguasai Sihong dan Patai. Itu pula yang menyebabkan terjadinya pertempuran antara Antasari dan Soeta Ono pada pertengahan tahun 1860, yang berakhir dengan kehancuran Ringkau Kattan. Akibatnya, Antasari harus mundur ke Mantallat dan membangun benteng di Bukit Tongka, di kawasan Tamanggung Surapati. Proses itu pula yang membuat Soeta Ono menjadi musuh gerakan Antasari, bahkan sampai masa pemerintahan Pangeran Matseman dalam Perang Barito. Saat pasukan Van Vloten menggempur Tongka hingga Antasari harus mundur ke muara, Soeta Ono menjadi salah satu pengiring pasukan Belanda.
Di atas wilayah Maanyan terdapat kelompok Lawangan, yang dibahas dalam Bab VIII. Mereka sesungguhnya satu rumpun dengan orang Banuaq, Kutai, dan Pasir. Orang Lawangan banyak dipengaruhi oleh Bakumpai. Pemimpin Lawangan di Karau bahkan berasal dari Bakumpai. Saat Bangert mengunjungi Lawangan pada tahun 1857, ia menyatukan orang-orang Bakumpai yang tinggal di lanting (rumah rakit) dengan orang Lawangan yang tinggal di darat, menjadi satu kampung yang rumah-rumahnya dibangun di darat. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi serangan dari orang Pari, Kapuas, dan Kahayan yang bisa datang sewaktu-waktu.
Pada abad ke-19, orang Lawangan membangun kuta (kubu pertahanan), hidup dalam sistem kasta, dan masih melakukan praktik jual-beli budak. Karena itu, Bangert berharap agar ada orang-orang seperti Deningger dan Klemmer yang dapat mengembangkan pendidikan di sana, sebagaimana yang telah dilakukan di Maanyan. Bangert juga ingin ada pengajar aksara di kawasan Dusun dan Siang. Namun, cita-cita itu terhenti ketika ia terbunuh di Onrust pada Desember 1859.
Di atas wilayah Lawangan terdapat orang Dusun, yang pembahasannya mencakup Bab IX, X, dan XI. Kawasan ini meliputi Sungai Ayu, Sungai Montallat, Sungai Teweh, hingga Sungai Lahei. Pengaruh Bakumpai sangat kuat di kawasan ini. Orang-orang Bakumpai menguasai perdagangan dan memegang kendali ekonomi. Mereka membangun permukiman di muara-muara sungai seperti Muara Ayu, Lalutung Tour, dan Gajoh di Teweh. Karena kekuasaan ekonomi yang dimiliki, mereka juga memegang kendali politik.
Montallat dikenal sebagai penghasil besi kelas satu pada abad ke-19, yang terkenal dengan sebutan besi Montallat. Sementara itu, Teweh menjadi penghasil sarang burung walet, yang membuat Tamanggung Aria Pati menjadi sangat kaya. Menurut Schwaner, Aria Pati adalah orang terkaya di wilayah Barito setelah para pangeran Kerajaan Banjar. Orang Bakumpai menguasai jalur Teweh karena merupakan jalur perdagangan ke Kalimantan Timur. Perdagangan antara orang Bakumpai dan Bentian membuat kawasan ini berkembang pesat.
Pada abad ke-19 (sebelum Perjanjian Tumbang Anoi), orang Dusun dikenal sebagai suku yang suka berperang. Mereka kerap terlibat dalam ekspedisi perang antarsuku. Musuh mereka adalah orang Kapuas, Kahayan, Katingan, Mantaya, dan Melawi. Pada tahun 1857, mulai muncul kelompok Dusun yang menolak berperang. Schwaner menyebut mereka sebagai kelompok Anga. Kelompok ini meninggalkan tradisi perang karena pengaruh Bakumpai; sebagian besar telah memeluk Islam dan menjadi bagian dari komunitas Bakumpai. Tamanggung Aria Pati pun telah memeluk Islam. Kawasan Anga menjadi pusat komunitas Bakumpai yang mengembangkan jaringan perdagangan di Dusun dan Siang-Murung.
Saat Perang Banjar, para pemimpin Dusun seperti Tamanggung Surapati, Mangkusari, Tamanggung Aria Pati, Mas Anom, dan Tamanggung Rupa beraliansi dengan Pangeran Antasari. Oleh karena itu, ketika kapal perang Onrust tenggelam pada Desember 1859, komandan perang Belanda, Mayor Verpijck, memerintahkan pembalasan melalui serangan kapal perang Boni dan Suriname, dengan target menghancurkan kedudukan para tamanggung tersebut.
Di atas Lahei adalah kawasan Siang-Murung. Pada tahun 1843–1847, pemimpin kawasan ini adalah Tamanggung Kerta Negara, yang berkedudukan di Tataluhung. Orang-orang Siang tunduk kepada kepala distrik Dusun–Siang, yakni Tamanggung Surapati, yang berkedudukan di kampung Bahan, kawasan yang kala itu termasuk subdistrik Siang-Murung.
Narasi tentang orang Siang-Murung tertuang dalam Bab XII. Mereka adalah pasukan paling setia kepada Surapati dalam Perang Banjar. Oleh sebab itu, mereka turut menjadi bagian dari aliansi Pangeran Antasari. Pasukan Siang-Murung menguasai kawasan Sungai Ayu dan Montallat dari tahun 1860 hingga 1862. Menurut Le Rutte, jumlah pasukan mereka tidak kurang dari 3.000 orang. Mereka sangat menguasai medan tempur dan memiliki taktik perang yang menyulitkan pasukan aliansi Belanda dari Banjarmasin. Pasukan Mayor Scuak dipukul mundur di Sungai Sinang dan Sungai Ayu oleh pasukan Siang-Murung. Bahkan, pasukan Rangga Niti dari Marabahan membatalkan ekspedisi ke Gunung Tongka ketika mengetahui orang Siang-Murung telah menguasai wilayah Montallat dan Ayu pertengahan tahun 1860.
Orang Siang merupakan sekutu budaya orang Dusun, tidak hanya dalam perang tetapi juga dalam adat-istiadat. Seperti halnya orang Dusun, pada abad ke-19 orang Siang-Murung masih berseteru dengan Kapuas, Kahayan, Katingan, Mantaya, dan Melawi. Oleh karena itu, kedatangan Tamanggung Silam dari Tanah Siang sangat dinanti pada Pertemuan Tumbang Anoi 1894. Tamanggung Silam tidak hadir karena terlanjur di Samarinda, namun suratnya datang melalui orang suruhannya, menyatakan bahwa akan menghormati apapun hasil keputusan Tumbang Anoi. Atas dasar surat inilah, AC der Heer, JPC Barth dan Raden Johanes Karsa Negara memutuskan bahwa pertemuan Tumbang Anoi 1894 berlanjut.
Schwaner memiliki catatan etnografis yang sangat kaya tentang orang Dusun dan Siang-Murung: mulai dari sistem kasta, hukum adat, pernikahan, hubungan orang tua-anak, pembacaan pertanda alam dari suara burung, simbol-simbol kekayaan, tradisi perang, dan sebagainya. Semua ini diformat secara khusus dalam Bab XIII buku ini. Dari catatan inilah, pembaca dapat memahami mengapa pasukan Antasari begitu kuat di kawasan Barito.
Bab XIV mengisahkan berbagai fragmen Perang Banjar: pertempuran di Ringkau Kattan, tenggelamnya kapal Onrust, pertempuran di Sungai Ayu dan Montallat, hingga pertempuran besar di Bukit Tongka, serta bagaimana kejadian yang menyebabkan meninggalnya Pangeran Antasari di Bayan Begok akhir tahun 1862. Peristiwa meninggalnya Antasari menandai berakhirnya Perang Banjar, namun berlanjut ke Perang Barito atas prakarsa Gusti Mastseman, Tamanggung Surapati dan Wangkang.
Landasan penting buku ini adalah catatan Schwaner dalam dua buku dan satu makalah, Hikayat Banjar, telaah Johannes Ras, catatan perjalanan Bangert, dokumen perjanjian Sultan-Belanda, tulisan Le Rutte, Kapten Tihon, Perelaer, Willem Adrian Rees, serta berbagai dokumen abad ke-19 dan ke-20 yang mendukung pembahasan mengenai manusia, hubungan sosial-ekonomi, politik, adat-istiadat, perang, dan lainnya.
Buku ini sebenarnya menjelaskan dinamika masyarakat Barito pada abad XIX, berdasarkan naskah-naskah yang ditulis pada masa itu. Dari sinilah kita bisa memahami asal-usul etnis Banjar dan etnis Dayak yang berkembang di abad ke-20 dan ke-21.
Definisi tentang Dayak
Di bagian awal, yaitu Bab II, dibahas tentang “Dayak” menurut pendidikan kolonial Belanda. Dalam buku pelajaran Ilmoe Boemi cetakan 1875, disebutkan bahwa pribumi Borneo adalah Dayak. Sementara itu, Bab III membahas tentang Dayak modern, di mana penulis merekonstruksi definisi berdasarkan dokumen, perjalanan penulis ke Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, dan Serawak, serta diskusi-diskusi kritis tentang Dayak. Definisi yang disimpulkan dalam Bab III adalah: “Dayak adalah orang asal Borneo, yang menetap dari kawasan pesisir hingga pedalaman, menganut agama leluhur maupun agama resmi (di Indonesia dan Malaysia), yang cara hidup leluhurnya harmonis dengan alam Borneo, dan keberadaan mereka terdokumentasi dalam catatan kolonial serta buku-buku pelajaran sekolah zaman Belanda.” [ ]

