Himbauan Tersirat Anak-anak Perdesaan Kalimantan Tengah
Pandangan yang pernah saya dengar disampaikan dalam sebuah rapat resmi Kesbangpolinmas Provinsi Kalteng.
Sakula Budaya hadir di Kalteng dengan membawa dan berniat menyemai ide jelas sepert yang dituturkan di atas, menggunakan pendekatan kebudayaan, konkretnya melalui kesenian. Tari, nyanyi, sajak, cerita, sejarah dan apapun itu yang dimasukkan ke dalam mata kurikulum dijelujuri oleh suatu konsep yang jelas bukan sekedar berdendang dan berjoget serta melakukan kerja-kerja adminstratif dan teknis.
Jika memandang bahwa penyelenggaraan Sakula Budaya sebatas pekerjaan administratif dan teknis, berdendang, berjoget, maka akan muncul anggapan bahwa ”menyelenggarakan Sakula Budaya itu sangat gampang”, gampang tentu saja jika memang Sakula tanpa konsep tapi tujuannya hakiki tak pernah tergenggam. Persoalan inti tak terselesaikan. Keberlanjutan ide tidak terkawal.
Tanggal 3 Mei 2026 siang, para wakil dari 7 Sakula Budaya dari 7 desa di atas sudah mulai berdatangan dengan wajah berseri-seri walaupun tanda-tanda kelelahan perjalanan jauh tidak bisa disembunyikan.
Melihat wajah anak-anak yang penuh semangat ini, kembali saya melihat bahwa ketahanan mental, adanya kesadaran tentang untuk apa melakukan sesuatu, akan menambah daya juang sesorang. Seperti dikatakan oleh seorang pelatih sepakbola asal Argentina kepada anak asuhnya: ”Semua orang lelah. Soalnya bagaimana melawan lelah, dan siapa yang paling kuat melawan lelah itu”.
Melihat anak-anak yang datang dengan penuh antusiasme, Ririen, panggilan akrab Fadhillah Hanum, Direktur GFI, yang kebetulan ketika itu berada bersama saya, berkata seperti berkata pada dirinya sendiri: ”Mereka begitu bersemangat dan menikmati Sakula Budaya. Bagaimana ya kelanjutannya? Bagaimana ya agar semangat ini tidak padam?”
Seperti bicara pada diri sendiri juga, sayapun berkata lirih” :”Itulah yang kupikirkan juga dan sedang kucoba atasi. Barangkali kuncinya terletak pada bagaimana kita bisa menemukan yang kunamakan the hiden leader, organisator kebudayaan, tenaga pemikir dan sekaligus organisator.
Sumber Daya Manusia (SDM) tipe ini yang saya kira perlu kita cari karena dialah motor, otak dan penggerak selanjutnya. Saya kira di tiap desa, SDM begini ada, dan ini yang perlu dicari. Mendapatkannya perlu kejelian pandang.”
”Sangat sayang dan sungguh menyedihkan jika antusiasme dan harapan anak-anak ini meredup”, lanjut Ririen. Saya teringat dan membayangkan wajah anak-anak yang pada mulanya ragu dan tidak percaya diri ketika diminta memimpin hadirin menyanyikan Indonesia Raya, dan yang diminta untuk jadi pemandu acara.
Saya juga teringat komentar Ririen ketika menyaksikan penampilan mereka. ”Luar biasa, tidak kalah dengan MC profesional”. Anak-anak kelas satu SMP itu bertumbuh dan nampak punya kepercayaan diri tampil di depan publik. Saya kira adanya keberanian ini merupakan salah satu kekuatan anak-anak Dayak di daerah perdesaan.
Saya melihat harapan untuk maju itu ada, asal diberikan syarat-syarat yang padan bagi mereka. Melalui Sakula Budaya ini, saya menemukan potensi-potensi di kalangan anak-anak yang jika dibimbing bukan tidak mungkin mencapai hasil yang tak pernah dibayangkan.
Dari anak-anak ini, saya pun melihat peran puisi dalam kehidupan. Baik itu puisi berbahasa Indonesia, maupun bahasa Dayak. Perkembangan anak-anak Sakula Budaya ini kembali meyakinkan saya bahwa serunyam-runyamnya Kalteng, serunyam-runyamnya Indonesia, daerah dan negeri ini masih tetap merupakan daerah dan negeri di mana kita bisa berharap.
Pertanyaannya: Bagaimana membuat harapan itu menjelma jadi kenyataan, bukan berbalik menjadi sesuatu yang melukai? Karena jarak antara harapan dan duka barangkali hanya setebal sehelai rambut saja.
Jadi, apa yang diungkapkan oleh Ririen di atas saya baca sebagai himbauan tersirat anak-anak perdesaan yang turut-serta dalam Program Sakula Budaya selama ini. Himbauan tersirat dan pertanyaan: Apakah Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu mau mengulurkan tangan meneruskan Program Sakula Budaya di daerah perdesaan?
Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran: Sakula Budaya Akan Terus Berlanjut
Sehubungan dengan himbauan lirih tersirat ini, barangkali relevan kalau saya mengangkat kembali sambutan Agustiar Sabran dalam acara pagelaran Sakula Budaya di desa Batu Nyapau, Kabupaten Gunung Mas, sambil menanyakan tindaklanjut himbauan Ketua DAD Kalteng yang sekarang menjadi orang nomor 1 Kalteng. Pidato sambutan tersebut petikannya sebagai berikut.
Menjawab himbauan lirih tersirat anak-anak perdesaan ini, Standy Christianto, Direktur Eksekutif Borneo Institute dalam forum Aquarius 4-5 Mei 2026 dengan tegas mengatakan bahwa Sakula Budaya akan terus berlanjut, dan dalam tahun 2026 ini Borneo Institute akan membangun paling sedikit 20 Sakula budaya baru di daerah perdesaan berbeda di Kalteng.
O, masih ada pemimpi di daerah dan negeriku. Pernyataan gagah Bung Standy ini melayangkankan ingatan pada Pendeta Martin Luther KING, Jr. : ”I have a dream”.
Kita tidak kelebihan pemimpi! Republik dan Indonesiapun hakekatnya adalah sebuah mimpi agung yang belum sepenuhnya terwujud – juga belum terwujud sepenuhnya di Kalteng – tersirat dalam himbauan lirih anak-anak perdesaan. Harapan anak-anak perdesaan.[]

