Ekologi adalah Rumah Kita Bersama Kabar Dari Perayaan Hari Internasional Masyarakat Aadat Se-Dunui 2019 Di Kuala Dua

Oleh Hendi Kedakas

Kuala Dua, Sanggau—Warga masyarakat Kuala Dua layak berbangga hati karena Perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) tahun 2019 pada Kamis-Jumat, 8-9 Agustus 2019 belum lama ini sukses dilaksanakan di Kuala Dua. Kegiatan HIMAS 2019 diawali dengan sambutan-sambutan, termasuk dari Panitia yang dilanjutkan dengan seminar dan lokakarya.
Dalam sambutan sekaligus laporan Ketua Panitia Alexander Cion disampaikan bahwa landasan teologis dan spiritual melatarbelakangi perayaan HIMAS 2019 tersebut. “Paus Paulus Yohanes II mengajak kita melakukan Pertobatan Ekologis, yang artinya ada kesadaran baru akan asal usul alam beserta isinya dari tangan Sang Pencipta yang satu, kita saling menjaga dan memelihara. Kita manusia milik alam (mahluk ekologis) dan ekologi adalah rumah kita. Kesadaran akan cara baru ialah lebih dari sekedar menganggap manusia sebagai pusat dari akar masalah karena adanya interaksi manusia dengan lingkungan dan kesadaran untuk merawat rumah kita bersama,” sampainya saat itu.

Tujuan HIMAS 2019

  1. Mendorong peserta mendapat informasi, kesadaran kritis dan menyeluruh untuk menumbuhkan pertobatan baru, berkomitmen mewujudkan Keadilan, Perdamaian (Justice and Peace) serta keutuhan ciptaaNya.
  2. Mendorong peserta berinisiatif dan berupaya untuk mewujudkan penyelesaian konflik agraria dan sumber daya alam, lingkungan hidup serta memulihkan ekologi sebagai rumah bersama.
  3. Mengoptimalkan instrumen, peran dan mekanisme yang telah dibangun untuk berkolaborasi mencapai program bersama.
  4. Mendorong proses dan belajar bersama untuk menguatkan komunitas/basis sebagai Masyarakat Hukum Adat atau organisasi rakyat.
  5. Memperkenalkan Website JPIC-Bruder MTB/CFH sebagai sarana pemberdayaan, media informasi dan promosi internal dan eksternal ditingkat lokal dan global.
  6. Merevitalisasi, transformasi dan pemberdayaan serta promosi adat budaya Dayak serta kearifan lokal yang masih hidup, tumbuh berkembang sebagai identitas suku bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *